Senin, 15 Desember 2014
Jumat, 12 Desember 2014
Kamis, 04 Desember 2014
Harimau dan Serigala
Di sebuah hutan, tinggal seekor serigala
pincang. Hewan itu hidup bersama seekor harimau besar berbulu coklat keemasan.
Luka yang diderita serigala, terjadi ketika ia berusaha menolong harimau yang
dikejar pemburu. Sang serigala berusaha menyelamatkan kawannya. Namun sayang,
sebuah panah yang telah terbidik mengenai kaki belakangnya. Kini, hewan bermata
liar itu tak bisa lagi berburu. Ia tinggal di sebuah gua, jauh dari
perkampungan penduduk.
Sang harimau pun tahu bagaimana balas budi. Setiap selesai berburu, di mulutnya selalu tersisa sepotong daging untuk dibawa pulang. Walau sedikit, sang serigala selalu dapat bagian. Sang harimau paham bahwa tanpa bantuan sang kawan, ia pasti sudah mati terpanah. Sebagai balasannya, sang serigala selalu berusaha menjaga keluarga sang harimau dari gangguan hewan-hewan lain. Walaupun sebenarnya ia tak bisa berjalan dan hanya duduk teronggok di pojok gua.
Rupanya, peristiwa itu telah sampai ke telinga seorang pertapa. Ia dan beberapa muridnya ingin melihat dan mengambil pelajaran. Di pagi hari, berangkatlah mereka. Setelah seharian berjalan, sampailah mereka di mulut gua, tempat sang harimau dan serigala itu menetap. Kebetulan, sang harimau baru saja pulang dari berburu, dan sedang memberikan sepotong daging kepada serigala. "Pelajaran apa yang dapat kalian lihat dari sana?" tanya pertapa ke murid-muridnya. Seorang murid menjawab, "Guru, aku melihat kekuasaan dan kebaikan Tuhan. Tuhan pasti akan memenuhi kebutuhan setiap hamba-Nya lewat berbagai cara."
Sang pertapa tersenyum. Sang murid melanjutkan ucapannya, "Lihatlah serigala itu. Tanpa bersusah payah, dia bisa tetap hidup, dan mendapat makanan." Ia menanti jawaban dari gurunya. "Ya, kamu tidak salah. Kamu memang memperhatikan, tapi sesungguhnya kamu buta. Walaupun mata lahirmu bisa melihat, tapi mata batinmu lumpuh. Berhentilah berharap menjadi serigala, dan mulailah berlaku seperti harimau."
Adalah benar bahwa Tuhan menciptakan ikan buat umat manusia. Adalah benar pula, Tuhan menghamparkan gandum di tanah-tanah petani. Tapi apakah Tuhan ciptakan ikan-ikan itu dalam kaleng-kaleng sardin? Atau, gandum-gandum yang hadir dalam bentuk seplastik roti manis? Saya percaya, ikan-ikan itu dihadirkan kepada kita lewat peluh dan kerja keras dari nelayan. Saya juga pun percaya, bahwa gandum-gandum terhidang di meja makan kita, lewat usaha dari para petani, dan kepandaian mereka mengolah alat panggang roti.
Begitulah, acapkali memang dalam kehidupan kita, ada fragmen tentang serigala yang lumpuh dan harimau yang ingin membalas budi. Memang tak salah jika di sana kita akan dapat menyaksikan kebesaran dan kasih sayang Tuhan. Dari sana pula kita akan mendapatkan pelajaran tentang persahabatan dan kerjasama. Namun, ada satu hal kecil yang patut diingat bahwa: berbagi, menolong, membantu sudah selayaknya menjadi prioritas dalam kehidupan kita. Bukan karena hal itu suatu keterpaksaan, bukan pula karena didorong rasa kasihan dan ingin balas budi. Berbagi dan menolong, memang sepatutnya mengalir dalam darah kita. Di sana akan ditemukan nilai-nilai dan percikan cahaya Tuhan. Sebab di sana, akan terpantul bahwa kebesaran Tuhan hadir dalam tindak dan perilaku yang kita lakukan. Di dalam berbagi akan bersemayam keluhuran budi, keindahan hati dan keagungan kalbu.
Sang harimau pun tahu bagaimana balas budi. Setiap selesai berburu, di mulutnya selalu tersisa sepotong daging untuk dibawa pulang. Walau sedikit, sang serigala selalu dapat bagian. Sang harimau paham bahwa tanpa bantuan sang kawan, ia pasti sudah mati terpanah. Sebagai balasannya, sang serigala selalu berusaha menjaga keluarga sang harimau dari gangguan hewan-hewan lain. Walaupun sebenarnya ia tak bisa berjalan dan hanya duduk teronggok di pojok gua.
Rupanya, peristiwa itu telah sampai ke telinga seorang pertapa. Ia dan beberapa muridnya ingin melihat dan mengambil pelajaran. Di pagi hari, berangkatlah mereka. Setelah seharian berjalan, sampailah mereka di mulut gua, tempat sang harimau dan serigala itu menetap. Kebetulan, sang harimau baru saja pulang dari berburu, dan sedang memberikan sepotong daging kepada serigala. "Pelajaran apa yang dapat kalian lihat dari sana?" tanya pertapa ke murid-muridnya. Seorang murid menjawab, "Guru, aku melihat kekuasaan dan kebaikan Tuhan. Tuhan pasti akan memenuhi kebutuhan setiap hamba-Nya lewat berbagai cara."
Sang pertapa tersenyum. Sang murid melanjutkan ucapannya, "Lihatlah serigala itu. Tanpa bersusah payah, dia bisa tetap hidup, dan mendapat makanan." Ia menanti jawaban dari gurunya. "Ya, kamu tidak salah. Kamu memang memperhatikan, tapi sesungguhnya kamu buta. Walaupun mata lahirmu bisa melihat, tapi mata batinmu lumpuh. Berhentilah berharap menjadi serigala, dan mulailah berlaku seperti harimau."
Adalah benar bahwa Tuhan menciptakan ikan buat umat manusia. Adalah benar pula, Tuhan menghamparkan gandum di tanah-tanah petani. Tapi apakah Tuhan ciptakan ikan-ikan itu dalam kaleng-kaleng sardin? Atau, gandum-gandum yang hadir dalam bentuk seplastik roti manis? Saya percaya, ikan-ikan itu dihadirkan kepada kita lewat peluh dan kerja keras dari nelayan. Saya juga pun percaya, bahwa gandum-gandum terhidang di meja makan kita, lewat usaha dari para petani, dan kepandaian mereka mengolah alat panggang roti.
Begitulah, acapkali memang dalam kehidupan kita, ada fragmen tentang serigala yang lumpuh dan harimau yang ingin membalas budi. Memang tak salah jika di sana kita akan dapat menyaksikan kebesaran dan kasih sayang Tuhan. Dari sana pula kita akan mendapatkan pelajaran tentang persahabatan dan kerjasama. Namun, ada satu hal kecil yang patut diingat bahwa: berbagi, menolong, membantu sudah selayaknya menjadi prioritas dalam kehidupan kita. Bukan karena hal itu suatu keterpaksaan, bukan pula karena didorong rasa kasihan dan ingin balas budi. Berbagi dan menolong, memang sepatutnya mengalir dalam darah kita. Di sana akan ditemukan nilai-nilai dan percikan cahaya Tuhan. Sebab di sana, akan terpantul bahwa kebesaran Tuhan hadir dalam tindak dan perilaku yang kita lakukan. Di dalam berbagi akan bersemayam keluhuran budi, keindahan hati dan keagungan kalbu.
Teman, jika kita bisa memilih, berhentilah berharap menjadi serigala lumpuh, dan mulailah meniru teladan harimau.
Kamis, 27 November 2014
Burung Kolibri Biru
Pada jaman dahulu hiduplah seorang
pemuda di sebuah tempat yang jauh yang bernama Tandow. Pemuda tersebut adalah
seorang anak periang dan tidak peduli terhadap sekelilingnya. Ia mempunyai
sahabat kecil yang istimewa, yaitu seekor burung kolibri biru. Ia tidak
mempunyai banyak sahabat karib, namun keduanya merupakan sahabat karib yang tak
terpisahkan. Pemuda itu demikian sayangnya terhadap si kolibri biru sehingga ia
membuat rumah-rumahan untuk burung tersebut. Si kolibri biru pun menyayangi
pemuda sahabatnya tersebut dan selalu terbang mengikuti ke mana saja si pemuda
pergi.
Sejalan dengan berlalunya waktu, kasih
sayang di antara mereka berdua juga semakin bertambah-tambah. Sampai suatu hari
pemuda tersebut bertemu dengan seorang gadis yang cantik di sekolah. Gadis
tersebut berambut pirang, bermata biru, dengan senyumnya yang mungil menawan.
Saat itu acara pesta dansa terbesar
sepanjang tahun di Tandow sedang akan berlangsung. Si pemuda berpikir keras
bagaimana caranya mengajak si gadis untuk menjadi pasangannya di pesta dansa
nanti. Sepanjang hari ia mengumpulkan segenap keberaniannya. Akhirnya, saat
sekolah usai, ia menghampiri gadis itu dan mengajaknya ke pesta dansa.
Gadis ini adalah seorang gadis yang
sangat populer di sekolahnya. Ia merasa tidak enak bila harus terlihat bersama
dengan seseorang yang sangat memperhatikannya. Namun, ia tidak mau menyakiti
hati pemuda tersebut.
Akhirnya si gadis menemukan cara agar ia
tidak perlu menjawab dengan kata-kata 'ya' atau 'tidak' terhadap ajakan si
pemuda. Ia berkata kepada si pemuda bahwa ia bersedia diajak ke pesta dansa
olehnya jika si pemuda membawakannya setangkai mawar merah. Hal ini menyakitkan
hati si pemuda sebab ia tahu bahwa di Tandow tidak pernah ada mawar berwarna
merah. Yang ada hanya mawar putih saja. Si pemuda menggerutu sepanjang jalan
menuju rumahnya. Dia tak habis berpikir mengapa si gadis tidak meminta mawar
putih saja. Ada ratusan bunga mawar putih yang terhampar di halaman depan
rumahnya.
Ia tidak menyadari sahabatnya si burung
kolibri terbang mengikutinya sebab ia sedang menyesali nasibnya. Si kolibri
demikian menyayanginya sehingga ia tahu bahwa sahabatnya itu sedang dirundung
masalah. Burung tersebut terbang mendekat sementara si pemuda meneruskan
gerutunya sepanjang jalan. Jelaslah sudah bagi si kolibri bahwa sahabatnya itu
sedang mengalami masalah yang amat serius. Burung itu tidak dapat beristirahat
sepanjang malam. Ia memikirkan bagaimana cara menolong sahabatnya tersebut.
Akhirnya, saat fajar menyingsing, si
burung mendapatkan cara bagaimana ia dapat menolong si pemuda. Burung kolibri
kecil itu terbang ke arah semak-semak mawar seraya mencari mawar putih paling
besar yang batang berdurinya terletak tepat di atas bunganya. Setelah
menemukannya, ia terbang menabrakkan dirinya yang kecil itu ke arah duri
tersebut dengan segenap kekuatan sayapnya. Duri tersebut menusuk tubuhnya
sedemikian rupa sehingga kesakitanlah ia. Tetesan darahnya yang bagaikan air
mata berwarna merah itu mulai mengucur membasahi kelopak bunga mawar berwarna
putih tersebut.
Ketika si pemuda bersiap-siap pergi ke
sekolah dilihatnya setangkai mawar berwarna merah ada di tengah-tengah semak
bunga mawar putih. Ia tidak dapat mempercayai matanya. Ia berlari ke arah mawar
merah tersebut serta mencabut tangkainya. Dalam suka citanya ia tidak melihat
seonggok tubuh kecil tak bernyawa yang tergeletak di tengah genangan darah di
bawah semak-semak.
Dengan gembiranya ia membawa mawar merah
itu ke sekolah. Sebelum ia sampai di sekolah, sekumpulan anak-anak muda yang
sedang bermain sepak bola di lapangan memanggilnya untuk turut bermain bola
dengan mereka. Jawaban pertama yang terlintas di benaknya adalah menolak ajakan
tersebut karena ia memiliki pekerjaan yang lebih penting dari hanya sekedar
bermain bola. Namun, anak-anak tersebut terus mendesaknya bermain sebab mereka
sangat membutuhkan dirinya agar kedua kesebelasan menjadi genap jumlah
pemainnya.
Ia melihat ke arah mawar merah, kemudian
berpaling ke arah anak-anak itu, lalu kembali menoleh ke arah mawar merah.
Akhirnya ia berkata kepada dirinya sendiri, "Ah!!! Bukankah si gadis toh
tidak terlalu suka pergi dengan aku?"
Ia lalu membuang mawar merah tersebut
dan berlari ke arah kerumunan anak-anak untuk turut bermain sepak bola.
Anda
mungkin sudah menemukan perumpamaan tersebut sebagai berikut:
- 1. Pemuda tersebut ialah gambaran diri kita
- 2. Burung kolibri menggambarkan Yesus Kristus
- 3. Gadis menggambarkan kehidupan kekal
- 4. Mawar merah melambangkan pertobatan
- 5. Sepakbola melambangkan hal-hal duniawi yang seringkali kita anggap sangat penting dalam kehidupan
Langganan:
Postingan (Atom)











