Minggu, 13 Mei 2018

SEMBURAT MERAH JINGGA (11-20)


11
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (11)
*Kucoba Menenangkan Dirinya
Oleh Ypb Wiratmoko

Begitu aku turun dari mobil, udara dingin menyelimuti tubuhku, hatiku dipeluk iba. Tentu dia merasakan lebih dingin lagi. Dia berbalik berdiri terpaku membelakangiku. Aku segera menyentuh pundaknya, membalikkan tubuhnya dan memanggil lembut namanya, "Kanya, hari telah larut malam. Tidak baik seorang wanita sendirian tanpa teman seperti ini." Aku berniat membimbingnya dengan merangkul pundaknya untuk masuk ke dalam mobil.

Tadinya aku begitu yakin ajakanku akan diturutinya karena selama ini aku mengenal Kanya sebagai kekasihku yang baik, lembut, tak banyak tingkah, dan penurut. "Kanya, maafkan aku atas kejadian tadi. Rupanya di antara kita sedang terjadi salah paham. Aku mau bercerita."
Mulai dari awal hingga akhir cerita, Kanya mendengarkannya dengan diam dan tanpa komentar. Saat aku akan membimbingnya, tubuhnya masih mematung. Padahal kulihat bibirnya sudah gemetar kedinginan. Ternyata dia belum memaafkan aku.

Aku mencoba membujuknya lagi. “Sayangku... hari sudah larut malam, besok kita masih harus bekerja. Kita mesti memperjuangkan cinta kita bersama. Sekiranya kita berjodoh, pasti tak akan ke mana. Percayalah, sesuatu akan indah pada waktunya" Mendengar kalimatku, Kanya mengangguk dan memintaku pulang. Aku berkeras mengantarnya, namun ia tetap pada pendiriannya. Aku putuskan berbalik meninggalkannya setelah memintanya berjanji untuk menemuiku di keesokan hari. Dan aku terhenyak kaget saat tak lama kudengar sebuah mobil berdecit dengan suara benturan keras dibelakangku. Seketika nyawaku seperti terlepas meninggalkan ragaku. Aku berbalik dan menemukan Kanya tergeletak bersimbah darah.

(Makujayan, Widodaren, Gerih, Ngawi, 18 Maret 2018)


---


Bagaimana keadaan Kanya selanjutnya? Ikuti SEMBURAT MERAH JINGGA (12) yang ditulis oleh penulis muda berbakat Veronica Dian Anita esok hari...


12
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (12)
*Hancur
Oleh Veronica Dian Anita

Seharusnya aku langsung membawa Joana ke rumah sakit saat pertama kulihat keadaannya. Seharusnya aku tidak perlu berusaha memberinya pertolongan pertama jika saja dapat kuramalkan kedatangan Kanya. Kini aku hancur mengenang air mata dan kecewanya. Aku hancur saat memeluknya. Aku hancur mendengar kesedihannya yang kini tanpa suara...

Ibu dan Joana memandangku dengan tatapan yang sulit kupahami. Sepertinya Ibu cemas sama sepertiku. Namun sepertinya ia juga masih tidak rela berada di rumah sakit ini berbagi gelisah denganku. Apakah hingga kini ia belum mengerti cinta siapa yang telah kupilih? Perempuan yang pura-pura pingsan di belakangnya, atau perempuan yang terbaring koma karena kecelakaan di dalam sana?

Ayah pun hanya bisa diam... entah apa yang dipikirkannya. Selama ini ayah memang tak pernah mencampuri urusanku, siapa yang harus kupilih, siapa yang akan bersamaku dan menjadi pendampingku. Namun sandiwara Joana yang berakhir tragis pada Kanya telah membuatnya jatuh iba kepadaku. Sedang Ibu mulai dihinggapi perasaan bersalah, Ayah meminta Ibu untuk datang dan berbicara padaku. Dengan ragu Ibu menyentuh pundakku dan berusaha meminta maafku. Namun hatiku terlanjur terlalu perih untuk memaafkan Ibu. Mataku yang nanar dan perasaanku yang hancur hanya mampu menatapnya perih... “Pulanglah Bu..., aku tetap di sini. Jika Kanya tiada, kitalah yang berdosa kepadanya.” bisikku saat memeluknya...hampir tanpa suara

Surabaya, 20 Maret 2018


13        
#pentigraf
SEMBURAT MERAH JINGGA (13)
*Doa untuk Kanya
Oleh Camelia Septiyati Koto

Semalaman aku berjaga di rumah sakit. Entah jam berapa aku tertidur di kursi panjang di depan kamar perawatan Kanya. Saat terbangun, aku langsung masuk dan melihat Kanya yang masih tak sadarkan diri. Aku bergantian menjaganya bersama Jenny, kakaknya. Aku izin untuk pulang ke rumah. Sampai di rumah, kusapa ibu yang sedang mempersiapkan sarapan pagi, tak ada senyum di wajahnya seperti pagi-pagi kemarin, juga saat aku berangkat ke kantor tak mengantarku hingga pintu rumah.

Kupacu mobilku tuk mampir ke rumah sakit. Kukecup keningnya seperti biasa saat berjumpa, “Selamat pagi sayang, bagaimana tidurnya malam tadi. Apakah kamu memimpikan aku?" Belum ada respon darinya tapi wajahnya lebih merah dibanding saat masuk bangsal perawatan. Wajahnya tetap cantik walau tampak pucat. Hanya sekitar setengah jam aku menjumpainya, kemudian aku berangkat ke kantor dan kembali menjumpainya lagi sepulang kantor. Aku tak sempat menghitung berapa lama waktu tidurku saat malam ketika aku mulai sering berjaga di rumah sakit menungguinya. Hatiku ingin menjerit dan menangis melihat kondisinya yang makin kurus dan masih tergantung pada peralatan yang dihubungkan dengan tubuhnya. Sebenarnya aku ingin mendampinya terus takut terjadi apa-apa dengan dirinya. Tetapi aku juga tak mungkin meninggalkan pekerjaanku, sehingga aku hanya dapat pasrah sembari memanjatkan doa buat kesembuhan Kanya. Aku percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik untuknya dan juga untukku.

Hampir pagi... . Aku terjaga dari tidurku di sisi ranjang Kanya dan hendak beranjak pulang sebelum ke tempat kerja. Aku baru sadar saat telah benar-benar terjaga. Ada seorang wanita yang sangat kukenal telah berdiri sebelahku entah sejak kapan. " Kau...," seruku mencoba mengatasi kekagetan.

Kampung Sawah, 21 Maret 2018


14
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (14)
*Penyesalan
Oleh Veronica Dian Anita

“Aku tidak tahu semua akan berakhir seperti ini” isak Joana sambil menyeka pipinya yang basah. Tangisannya justru mendidihkan ingatanku dan membawaku sekejap pada peristiwa saat aku panik dan memberinya nafas buatan yang menyebabkan kemarahan Kanya. Kemarahanku kembali bergolak saat mengingat skenario drama ciptaannya. Terlambat kau sesali, batinku seraya memintanya pergi. Semua sudah terjadi….

Joana menyentuh jemari Kanya dan ia menangis meminta maaf kepada Kanya. “Aku menyesal… maafkan aku.” “Bangunlah Kak.” Aku menepisnya dan memintanya pergi. Aku menghalaunya, namun ia malah memelukku dan memohon untuk tidak diusir dari sini. Joana terus mengatakan bahwa semua terjadi karena ia mencintaiku. Ia menyesal karena telah menghianatiku. Dan ia memohon untuk kembali, ia memintaku memberinya kesempatan kedua dan berjanji tidak akan mengganggu Kanya lagi.

Tidak ada kesempatan kedua bagi Joana. Dengan kalimat tajam aku melepaskan tubuhku dari pelukan Joana dan menegaskan kepadanya bahwa semua sudah tidak ada lagi artinya... . Aku memandang kepergian Joana dari ujung selasar yang masih dingin. Sementara saat aku kembali menatap Kanya untuk berpamitan padanya. Aku melihat ada aliran bening mengalir di ujung matanya

Surabaya, 22 Maret 2018


15
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (15)
*Keputusan Ibu
Oleh Agust Wahyu

Setelah sekian lama kondisi Kanya tak ada kemajuan, sepertinya ayah dan ibu semakin cemas melihat keadaanku. Apalagi tubuhku kini tampak semakin kurus dan terlihat capek, kurang tidur dan kurang istirahat. Ibu menjadi seperti tidak sabar menunggu kesembuhan Kanya. “Bagaimana kabar Kanya?” tanya ibu saat sarapan pagi. Aku menjawabnya dengan senyuman yang terpaksa namun kubuat sewajar mungkin untuk menenangkan hatinya. Sebenarnya aku ingin bercerita banyak tentang kemajuan Kanya tetapi hatiku berdebar-debar, tak berharap mereka tahu bahwa aku telah mengusir Joana dari rumah sakit hingga akhirnya merusak hubungan kekeluargaan kami dengan Bude Mirna. Akupun buru-buru menghabiskan sarapan buatan Ibu dan berangkat ke kantor setelah mencium tangannya sebelum ibu menagih jawabanku atas pertanyaannya.

Tak lupa aku mampir menjumpai Kanya. Seperti biasa kukecup kening Kanya. Kali ini kurasakan wajahnya hangat, demikian juga saat kugenggam tangannya. Kubisikan kata-kata cinta romantis yang sengaja kuhapalkan dari tulisan Khalil Gibran. Ia pernah berucap kepadaku pada suatu waktu, bahwa ia ingin punya kekasih yang romantis. Dengan tangan kirinya yang dialiri infus masih dalam genggamanku, aku berdoa untuknya. Pagi itu aku merasakan kembali mukjizat Tuhan karena untuk pertama kalinya Kanya mampu memberikan respon dengan menggerakkan telapak tangannya dan membalas genggaman tanganku. Tanpa kusadari air mataku menetes, Sungguh besar kuasa-Mu, Tuhan. Sore harinya, aku tak langsung ke rumah sakit tetapi pulang lebih dahulu untuk mengabarkan kepada ayah dan ibu semua kemajuan yang dialami Kanya. Saat aku memasuki halaman rumah, kulihat mobil Bude Mirna. "Ibu dan ayahmu sudah memutuskan bulan depan kamu dan Joana akan bertunangan,” kata Bude Mirna tanpa basa-basi. Bagai petir di siang bolong aku mendengarnya dan aku memandang Ibu yang juga memandangku dengan perasaan yang serba salah. Aku terhenyak dipeluk diam. Apa yang harus kulakukan?

Di satu sisi aku tidak ingin menerima keputusan itu, tetapi di sisi lain aku juga tidak bisa begitu saja mengabaikan perasaanya dan menyatakan penolakanku dihadapan Bude Mirna. Perempuan yang hampir kubenci itu melangkah masuk ke ruang tamu tanpa memperdulikan perasaanku. Aku masih diam, khawatir akan penyakit jantung ibu yang mungkin akan kambuh lagi jika aku berkeras menentang keputusan itu secara langsung pada malam ini. Ibu menyentuh lenganku, meminta responku, saat tiba-tiba Bu De Mirna kembali menghampiri kami dan berkata bahwa Joana terjatuh di kamar mandi serta tidak sadarkan diri. Ibu memandangku cemas. Sementara batinku menggerutu kesal. Aku heran mengapa semua orang mudah sekali percaya kepada penipu seperti Joana. Di saat yang sama, Jenny menghubungiku namun Ibulah yang berbicara dengannya karena Bu De Mirna terus memaksaku untuk pergi bersamanya mengurus Joana. Perempuan setengah baya berjarit coklat itu menarikku untuk segera mengikutinya... Dan aku hampir terseret arogansinya, ketika pada saat yang sama sekali tidak kuduga Ibu mencegahku untuk tetap tinggal bersamanya. "Jangan pergi!" Ibu menahan pundakku dan menutup telepon dari Jenny. Ibu mengajakku kembali masuk ke rumah dan mengabaikan tatapan mata kakak perempuannya yang memandangnya dengan murka.

Kampung Sawah, 21 Maret 2018


16
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (16)
*Amnesia
Oleh Budi Hantara

Sepeninggalan Bude Mirna, aku bernapas lega dan sejenak merasa bebas. Aku peluk dan cium ibu yang telah melindungiku dari Bude Mirna. Kenapa sikap ibu tiba-tiba berubah dan melarangku pergi? Lalu apa kabar dari Jenny? Ingin aku bertanya tetapi badanku terasa sangat lelah, fisik dan mental. Aku lebih membutuhkan untuk mandi dan membaringkan diri melupakan situasi yang dilematis. Apapun keputusanku pasti ada hati yang terluka. Ibu, Joana dan Kanya memenuhi puncak kegelisahanku. "Tolonglah aku Tuhan. Aku benar-benar tak mampu dan tak tahu harus menyerahkan hati dan cintaku kepada siapa." Aku baru saja selesai mandi dan akan membaringkan diri, tiba-tiba suara ibu membuatku terkejut, apalagi disertai dengan ketukan di kamarku. "Don cepat ke rumah sakit...,” suara ibu terdengar serius dan sebagai perintah yang tak dapat kubantah.

Bagai robot, aku mengikuti kehendak ibu. Apakah ibu mau mengunjungi Kanya? Padahal selama ini bila aku mengajaknya tak pernah mau. Atau mengunjungi Joana? Harus kuakui bila Joana itu cantik dan modis tapi terlalu manja bagiku. Ibu menganggapnya sebagai gadis yang sangat ideal menjadi pendamping hidupku. Apalagi ia sempat mengenyam pendidikan di luar negeri. Namun ada hal lain yang tidak ibu mengerti mengapa aku tak mungkin menerima dirinya lagi. Apalagi separuh hatiku sudah terlajur kutitipkan pada Kanya gadis pujaanku. Ibu tak memahami gejolak batinku. Walaupun aku bersikap dingin bila diajak membicarakan Joana, tapi ibu pantang menyerah. Bude Mirna pun sangat mendukung rencana pertunangan kami. Mereka berharap hubunganku dengan Joana bisa berlanjut ke pelaminan.

Ibu hanya memerintahkanku untuk ke rumah sakit. Dalam perjalanan, aku tak banyak bicara, fokus pada jalan menuju rumah sakit yang setiap sore ramai dan macet. Ibu sendiri sibuk dengan gawainya, agaknya kontak terus dengan Bude Mirna. Tak sopan bagiku untuk bertanya bila ibu tak mengatakannya sendiri. Saat memasuki rumah sakit, ibu menggandeng tanganku masuk lift dan dengan mantap memencet angka 5. Ada apa ini? Kanya ada di lantai 2 dan aku tak pernah menggunakan lift. “Joana belum sadar...,” kata ibu menjawab tanda tanyaku. Namun saat aku datang, dia sudah siuman. Namun saat kusapa dia tak mengenaliku. Dokter meminta kami untuk bersabar. Kemungkinan benturan di kepalanya menyebabkan gangguan pada syaraf sensoriknya. Joana amnesia. "Dan sekarang cepat kamu temui Kanya!" perintah ibu selanjutnya yang pastinya takkan kubantah.

Ngawi, 22-03-2018



17
#Pentigraf_Serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (17)
*Hal yang Tak terduga
Oleh Agnes Kinasih

"Kanya, " bisikku lembut dengan rasa penyesalan karena aku tak mendampinginya saat dia membuka mata. Jenny telah berusaha menelponku tapi ibu tak mengabarkanku. Kuusap air matanya yang meleleh di ujung matanya. "Percayalah sayang, semua akan baik-baik saja," bisikku lagi sambil kupegang tangannya dan kuusap rambutnya penuh kasih. Mata Kanya tetap terpejam. Tapi aku tahu dia mendengarku. Kuperhatikan lekat-lekat wajahnya, matanya yang terpejam. Wajah tulus. "Tuhan pulihkanlah kondisi kekasihku, " bisikku dalam hati. "Cepatlah bangun dan sembuh sayang. Apakah kau tidak ingin melihat anggrek yang kita beli waktu kita ke Puncak dulu?" bisikku. "Kemarin kulihat muncul bakal bunga. Catleya warna kuning, besok kita berburu bunga lagi ya," kataku sambil kucium rambutnya. Aku yakin meski Kanya tidak bergeming, tapi telinganya mendengar. Harapanku dia akan cepat bangun. Air mata yang bergulir tadi menunjukkan bahwa dia sudah mulai bereaksi.

"Selamat malam, Pak," suara perawat membangunkan lamunanku diikuti dengan Dokter Irwan. "Waktunya pemeriksaan...," kata perawat itu lagi.. "Selamat malam, Dok!" kataku sambil bergeser dari tempat dudukku. Setelah dokter melakukan pemeriksaan, suster mengambil injeksi dan menyuntikkan obat melalui jarum infus yang terpasang di tangan Kanya. Tiba-tiba ibu datang dan mendekati dokter, “Dokter yang merawat Joana?” Awalnya Dokter Irwan bingung tapi setelah ibu menjelaskan cukup detail, dokter tersebut mengiyakan. Ibu bertanya lagi tentang Joana, aku merasa sedih kenapa bukan tanya tentang Kanya? “Ada kandungan alkohol dalam darahnya,” jawab Dokter Irwan dengan tenang menjawab kemungkinan Joana terjatuh di kamar mandi. Ibu tampak begitu kaget dan sempat berpandangan denganku. Akhirnya ibu akan tahu siapa sebenarnya Joana.

Tak lama setelah dokter meninggalkan ruang perawatan Kanya, ibu juga keluar. Aku mengikuti dari belakang dan berniat mengantarnya pulang tapi ternyata Bude Mirna sudah menanti di parkiran. Aku balik badan dan tak ingin ketemu dengannya, bergegas melewati jalan pintas lewat parkiran mobil samping rumah sakit supaya bisa cepat kembali ke ruangan. Di persimpangan gang sepintas kulihat mobil Rush warna hitam. Aku seperti mengenal mobil itu. Stiker mobil yang menempel di kaca belakang tak bisa kulupakan. Kuputar otakku. Hahh.. ya... aku ingat bukankan ini mobil yang menabrak Kanya. Plat mobil aku tidak hafal tapi stiker itu khas. Mobil siapakah itu?


18
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (18)
*Impian
Oleh Albertha Tirta

Sepanjang perjalanan di selasar rumah sakit, aku mencoba mengingat-ingat pemilik mobil Rush berstiker khas tersebut. Semakin ingin kuingat semakin tidak ada gambaran sama sekali. Rupanya daya ingatku tidak setajam dulu lagi. Apakah ini pengaruh terlalu capai dan kurang tidur? Kuakui selama Kanya di Rumah Sakit, segala daya dan pikiranku tercurah padanya.


Sampai di kamar Kanya, jiwa ragaku terasa lemah, semangatku memudar. Hasil konsultasi dengan dokter, menyatakan kondisi Kanya mengalami perkembangan tak begitu berarti. Sehingga kondisi seperti ini akan berlangsung lebih lama lagi. Kutarik kursi ke dekat tempat tidurnya di ujung kaki. Kuraih kaki Kanya, kuelus dan kupijit pelan jemarinya yang kurus. Dalam diam, kupanjatkan doa permohonan. Bila Tuhan mengizinkan dan berkenan, sudilah memberi mujizat bagi Kanya. Aku belum siap kehilangan dirinya. Aku ingin menunjukkan cinta suciku padanya.

Kulihat Kanya mulai bergerak dan membuka mata, terlihat bening dan ceria. Tidak ada bekas sakit di wajahnya. Tubuhnya bugar, ia melontarkan senyum termanis yang selama ini kurindukan. Diulurkannya tangannya. Aku segera menyambutnya. Tetapi sebelum sampai tanganku menyentuhnya, ada tepukan di punggungku. Aku tergagap sadar, kubuka mataku lebar-lebar, kukucek mataku berulang-ulang. Kanya di depanku tetap terbaring lemah dengan mata dan bibir terkatup rapat. Kubalikkan badanku ke belakang untuk mengetahui siapa tadi yang menepukku. Mulutku hanya ternganga menatapnya.


19
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (19)
*Misteri Mobil Hitam Berstiker
Oleh Murnierida Pram

Seorang wanita berbaju putih berdiri di belakangku. Perawat jaga malam yang akan memeriksa kondisi Kanya membangunkan dari mimpi indahku. Raga dan pikiranku terasa semakin letih. Kanya yang belum juga pulih. Ditambah Joana yang juga masuk rumah sakit dan Bude Mirna yang terus mendesakku untuk menikahi Joana. Sebenarnya aku bisa saja tidak memperdulikan Joana dan Bude Mirna. Karena bagaimanapun di zaman modern ini, orang berhak dan bebas menentukan siapa yang akan menjadi pasangan hidupnya. Ah, pikiranku makin ruwet saja. Kondisi tubuhku yang letih membuat aku menjadi berhalusinasi. Membayangkan Kanya telah sembuh dan sehat seperti sedia kala. Semua harapanku itu terbawa dalam mimpi.

Jenny tengah tertidur di sofa panjang. Perutku mulai terasa lapar. Perlahan aku berpindah ke kursi yang berada di luar ruang perawatan Kanya lalu membuka makanan yang dibawakan Bude Mirna. Ia juga orang tua yang harus kuhormati. Dan pastinya ia juga sangat terpukul dengan kondisi Joana, apalagi didiagnosa dokter mengalami amnesia. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Dengan terisak Bude Mirna bercerita, bahwa Joana sangat mencintaiku. Meski Joana pernah berpaling pada lelaki lain. Namun Joana selalu mengatakan pada nya bahwa cintanya yang tulus hanya untukku. Dengan muka sedih bude Mirna memohon maaf atas perlakuan Joana kepadaku, "Kembalilah untuk Joana...." Bude mengakui cara Joana untuk mendapatkan diriku kembali adalah salah, namun bude mohon berilah kesempatan untuk Joana. Aku termenung tak mampu menjawab. Hatiku pedih. Aku tak memahami apa yang dimaksud dengan perkataan bude bahwa Joana berusaha mendapatkanku kembali dengan cara yang salah? Aku tiba-tiba teringat mobil hitam berstiker itu. Segera kuhabiskan makanan dimulutku dengan menggelontorkan air minum sebanyak mungkin dari kemasannya.

Sampai di tempat parkir, masih ada beberapa kendaraan yang menginap. Tapi tak ada lagi mobil hitam berstiker tersebut. Tapi bukan itu yang kucari tetapi pengemudi mobilnya. Aku terpaku dan tak percaya dengan penglihatanku. Dengan cepat foto-foto yang kudapat pindah ke gawaiku. "Terima kasih, Pak," kataku pada tukang parkir sembari meyisipkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan ke tangannya. dengan mengamati fot0-foto itu, aku kembali teringat bagaimana dulu Joana menggandeng mesra tangan lelaki itu. Hatiku sangat pedih melihat kemesraan mereka. Aku menatap dengan nanar mereka yang seperti menghinaku saat melewatiku. Aku tersentak... ya lelaki itu yang mengendarai mobil hitam berstiker yang telah menabrak Kanya. Mengapa Kanya menjadi korban? Apa hubungannya lelaki itu dengan kekasihku?

Batusari condet 27031


20
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (20)
* Tatapan Mata Memikat
Oleh Jenny Seputro

Dengan langkah gontai, kutelusuri lorong rumah sakit yang lengang. Tempat ini sudah bagaikan rumah kedua untukku. Kalau tidak sedang di kantor, aku pasti di sini. Kanya di lantai dua, dan Joana di lantai empat tapi ditulis lima. Rumah sakit saja ikuti mitos tak ada lantai 4. Aku tak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri. Kalau bukan karena aku, kedua gadis itu tidak akan seperti ini. Sudah tiga hari berlalu, Joana masih juga belum ingat siapa diriku. Aku ingat bagaimana awalnya kami berkenalan dan menjadi teman baru. Satu hal yang membuatku bergetar adalah tatapannya. Tapi tatapan mata milik Joana yang akhir-akhir ini kukenal, bukan sepasang mata milik gadis yang telah merebut hatiku, lima tahun yang silam.

Saat itu aku masih seorang mahasiswa semester lima. Karena jadwal kuliah yang padat, aku hanya punya waktu makan di tengah-tengah jam makan siang. Artinya, kantin kampus yang tidak memadai itu selalu penuh sesak dan hampir tidak mungkin mendapatkan meja. Siang itu, sambil membawa nampan berisi nasi uduk dan air mineral, aku menemukan satu meja kosong di pinggir ruangan. Cepat-cepat aku ke situ, dan saat nampan kuletakkan di meja, sebuah nampan lain diletakkan persis di sebelahnya. "Eh, maaf, meja lain sudah penuh semua," kata si empunya nampan berisi nasi goreng dan teh botol itu. Kuajak dia makan bersama, dan senyumnya mengembang. Dia memperkenalkan diri, namanya Joana.

Aku belum pernah menemukan teman ngobrol seasyik itu. Joana yang humoris, tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Tapi dia juga seorang pendengar yang baik. Usut punya usut, ternyata dia keponakan Pakde Marto, kakak ipar ibuku. Kami memang belum pernah bertemu. Ah, dunia ini memang kecil. Saat kami berpisah, nomor teleponnya sudah tersimpan dalam gawaiku, dan juga nomorku di gawainya. Kami sepakat untuk makan bersama lagi keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya. Sepanjang malam itu hatiku berbunga-bunga. Tatapan mata Joana yang membius senantiasa terbayang, meyakinkanku bahwa segala hal dalam hidup ini indah adanya. Saat itu akupun menyadari, kalau aku sudah jatuh cinta. Tapi itu dulu, kini haruskah aku menantinya?

Perth, 28 Maret 2018


Catatan:
- Serial ini sudah mencapai episode 56
- Serial ini terbuka bagi siapa saja yang berminat untuk melanjutkannya. 
Beberapa penulis yang telah berpartisipasi adalah: 
Agust Wahyu, Camelia Septiyati Koto, Merry Srifatmadewii, Siu Hong-Irene Tan, Ypb Wiratmoko,Budi Hantara, Veronica Dian Anita, Albertha Tirta, Agnes Kinasih, Murnierida Pram, Jenny Seputro, Waty Sumiati Halim, Yosep Yuniarto


SEMBURAT MERAH JINGGA (1-10)


#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (1)
*Semburat Merah Jingga
Oleh Agust Wahyu

Mobil sudah berhenti di depan rumahnya, tapi Kanya masih terlelap bersandar di jok sebelahku. Aku memperhatikan wajahnya setiap sudut dengan seksama. Meskipun sebelumnya aku merasakan begitu sakitnya kehilangan, betapa banyaknya kekecewaan, dan betapa sulitnya bangkit dai kesedihan karena ditinggalkan Joan. Tapi luka-luka itu semua sirna dan tak ada artinya setelah Tuhan mengirimkan seorang Kanya sebagai gantinya. Kini aku paham betul mengapa Tuhan mengambil Joana dariku. Sederhana saja karena dia bukan yang terbaik untukku. Kuelus dan dan kucium rambutnya yang lembut dan aroma harum menyusup dalam hidungku dengan perlahan, tak ingin mengganggu lelap tidurnya hingga terbangun sendiri nantinya.

Saat terbangun, sejenak kami berbincang di teras rumah yang tenang. Tapi tiba-tiba ucapan Kanya membuatku tak tenang, “Aku bukan orang yang tepat untukmu. Carilah yang lain yang dapat membahagiakanmu. Justru ini kulakukan karena aku sangat mencintaimu.” Ucapannya pelan tapi sangat menusuk perasaanku, setelah kukatakan ingin lebih serius menjalin hubungan dengannya. Bahkan dia setengah mengusirku, masuk ke dalam rumah, menguncinya dan membiarkan aku di luar. Aku sempat menggedor-gedor pintunya sembari memanggil namanya. Kutahu dia masih menyandarkan tubuhnya di balik pintu karena samar-samar kudengar isak tangisnya. Aku menantinya di lantai kayu teras rumahnya dengan sabar hingga perasaannya kembali normal.

Sesudah berapa jam duduk membisu dan berapa kali ku menatap pintu yang tetap membisu di belakangku. Aku tahu dia masih berada di situ dan lama aku berpikir bagaimana caranya agar dia keluar dan mau bicara denganku hingga lelah dan tertidur. Malam telah larut ketika aku terbangun. Arloji di tanganku menunjukkan pukul satu dinihari. Jantungku tiba-tiba berdegup keras karena kulihat Kanya duduk di sampingku. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Walau masih dikuasai kantuk, aku mengambil tisu dan mengusap air matanya yang hampir tertumpah di pipinya. Kurasakan pipinya begitu dingin. Segera kutarik tubuhnya dalam pelukanku. Tak ada penolakan. Tubuhku yang juga dingin terasa lamgsung hangat terutama dadaku yang karena aliran air matanya. “Kenapa kamu masih di sini. Aku minta kamu pulang dan pergilah…,” katanya dengan suaranya yang serak karena menahan tangis. Aku menggeleng. “Aku tak mungkin mampu membahagiakan kamu. Aku tak mungkin memberikan keturunan bagimu,” katanya memberi alasan dengan lebih tenang tapi buatku tak tenang. Kuyakin semburat merah jingga mewarnai wajahku dan membuatku berpikir lagi lebih jauh tentang kelanjutan hubungan dengan gadis cantik yang telah menbuatku jatuh cinta.

Santa Ursula, 8 Maret 2018
#pentigrafAgustWahyu


2
* Keputusan yang Tertunda
Oleh Camelia Septiyati Koto

Ku kecup kening nya, "Sayang... masuklah dan istirahat besok kita bicarakan kembali, jangan menangis." Kubimbing Kanya sampai ia menutup kembali pintu itu. Malam itu aku tak bisa memejamkan mata, masih memikirkan perkataan dan pengakuan kekasihku.

Apakah aku bisa menerima jika dia tak bisa memberikan keturunan padaku, karna itu adalah cita-cita dan impianku jika aku menikah. Ku pandang kembali wajah Kanya yang slalu tersimpan rapih di gawaiku. Senyumnya yang slalu membuat hatiku bergetar, celotehnya selalu membuat aku merindukannya. Apakah aku bisa jika aku harus kehilangan dia yang begitu istimewa dalam hidupku?

Pagi saat aku terbangun, ku ambil gawaiku, "Nanti sore aku jemput, kita bicarakan masalah semalam." Aku tak mau masalah ini berlarut-larut dan aku harus punya keputusan. Dan langsung terbalas, "Tak perlu kita ketemu lagi. Aku tahu apa yang bakal kamu putuskan. Good bye! Berkah Dalem." Aku kembali bingung dan tak tahu harus berbuat apa.


3
SEMBURAT MERAH JINGGA (3)
*Kuasa Kasih Mengalahkan Segalanya
Oleh Merry Srifatmadewi

Kutertegun setelah membaca balasan Kanya. Pikiranku agak kusut tapi aku berusaha tenangkan diri dan pergi bekerja ke kantor sebagaiman a biasanya. Pulang kantor rencana untuk pergi ke rumah Kanya kubatalkan, aku tidak mau mengusik kepedihan hatinya saat ini. "Woi, jalan jangan melamun!" Tomo berkata cekikikan sambil menepak bahuku. Aku tersenyum malu. Di luar langit mendung, hujan sudah mulai menitikkan air matanya aku termangu di pinggir kantor dan membayangkan Kanya yang selalu membawa payung kemanapun dia pergi. Kulayangkan pandangan ke sekeliling, seorang gadis yang sangat kukenal berdiri menatapku memegang payung dan berjalan menghampiriku. "Ka...nya!"

Aku tersenyum padanya. Kanyapun membalas senyumku. Aku tidak berani bertanya di depan kantor nanti jadi bahan gunjingan. Aku mengajak Kanya pergi ke suatu cafe tidak jauh dari kantorku. Suara petir menggelegar-gelegar. Hujan semakin deras.
Setelah memesan kue dan minuman. Kubuka pembicaraan, " Untuk apa kau datang ke kantor?" "Untuk menanyakan kesediaan kamu, apakah kamu mau menikah dengan orang yang tidak bisa punya keturunan?"

Mataku menunduk ke bawah dan kudongakkan kembali mukaku. "Aku hanya anak tunggal, selama ini aku kesepian. Aku ingin punya anak banyak. Maafkan aku, Kanya." Tidak ada air mata sedih di mata Kanya. Kami makan dalam diam. Diam dengan pikiran masing-masing. Kanya gadis baik hati, sangat baik, sangat perhatian, sayang dan hormat pada keluarga. Aku telah mengenalnya cukup lama. Kini hanya karena dia tidak bisa memiliki keturunan haruskah aku mundur? Kuraih tangannya "Kita bisa mempunyai anak. Teknologi kedokteran makin maju, maukah kau menerimaku menjadi suamimu?" Mata kami berlinang terharu. Kekuatan darimana aku dapatkan sehingga bisa berkata seperti itu. Kupeluk mesra Kanya.

Jakarta, 9 Maret 2018
#pentigrafSF.


4
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (4)
*Cinta Kami Tak Berakhir
Oleh Camelia Septiyati Koto

Saat itu kami berangkat ke kantor bersama. Kanya kembali tersenyum padaku, dan senyum ini yang selalu membuat getaran dalam hatiku. Dan membuat aku tak bisa melupakannya. "Sayang... selamat bekerja ya. Nanti kamu tunggu aku di sini saja," kataku saat mengantarkannya. Kanya hanya tersenyum padaku dan kekecup kembali keningnya, sesaat sebelum aku meninggalkanya.

Sore harinya, seperti biasa aku menjemputnya. Kupandangi Kanya yang kembali berada di sampingku, seperti malam kemarin tapi kali ini ia tak tertidur. "Jangan memandangku terus Don, nanti kamu tidak fokus." Kuambil bunga tangan yang kusimpan di jok belakang. Dia terkejut. Kembali kulanjutkan pandanganku ke depan. Tiba-tiba... brakkkkkk... dan membuatku tak sadarkan diri.

Dan sisa hujan masih membasahi bahu jalan yang kulalui ini, "Don... kamu sudah sadar? Ibu takut..." Aku hanya terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa, mengingat nasib Kanya. Ibu membelai rambutku sambil menyeka airmatanya yang sebagian jatuh di wajahku. Dingin... dan mukaku benar basah. Tapi itu karena air hujan yang menembus plafon kamar. Ternyata aku kesiangan untung semua hanya mimpi dan cintaku pada Kanya tak harus berakhir.

Jakarta, 11 Maret 2018


5
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (5)
*Perkenalan dengan keluarga
Oleh Siu Hong-Irene Tan

Aku dan Kanya semakin dekat. Layaknya lem dan perangko. Sudah saatnya memperkenalkan Kanya kepada keluarga. Aku juga sudah merasa siap. Sabtu esok kuminta ayah dan ibu meluangkan waktu. Kanya tampak 'surprised' ketika undangan makan malam kusampaikan. Senyum bahagia menghias wajahnya.

Sesuai dengan rencana. Pukul enam aku sudah sampai di rumah Kanya. Menunggu di ruang tamu dengan hati berdebar. Langkah gadisku terdengar mendekat. Gaun biru sederhana tampak serasi membalut tubuhnya yang ramping. Riasan lembut alami, menambah aura cantiknya. Malam ini Kanya terlihat begitu sempurna. Aku tertegun kagum. Kami pamit dan berangkat. Kubelokkan mobil masuk ke halaman rumah. Parkir berjajar dengan mobil Bude Mirna. Sepertinya mama mengundang Bude. Hatiku agak ciut mengingat kecerewetannya.

Keluarga telah menunggu kami. Ayah dan Ibu tampak sangat 'welcome'. Kuperkenalkan satu persatu kepada Kanya. Tiba pada giliran Bude Mirna. "Hai, ini Kanya pasien Dokter Budiman bukan? Masih ingat saya? Mirna asistennya. Bagaimana dengan operasi kandungannya?" celoteh Bude mendominasi sambil mengerling kepada ibu. Seketika kulihat wajah Kanya berubah pucat pasi. Tetapi tetap berusaha tegar dan mengangguk dengan sopan. Dan tiba-tiba tubuhnya lunglai untung aku tepat berada di belakangnya. Setelah keseimbangannya pulih, kugenggam tangannya agar lebih tenang. Kemudian kamipun makan malam dalam suasana kaku dan tegang.

Bogor, 11 Maret 2018


6
#Pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA
*Antara Joana dan Kanya
Oleh Agust Wahyu

Sesampainya ku di rumah malam itu, lampu ruang tamu menyala terang. Siapa yang datang malam-malam begini. Langkahku terhenti saat kulihat Bude Mirna, ibu, dan Joana sedang berbincang-bincang. Bude Mirna adalah kakak kandung ibuku sedangkan Joana adalah kekasih masa laluku sebelum aku bersama Kanya. Dia merupakan keponakan Pakde Marto, suami Bude Mirna. Tadinya aku hendak menghindar tapi tak mugkin karena kepulanganku telah mereka ketahui. Apalagi Bude langsung membukakan pintu dan menyambutku di pintu. “Ngger, kae lo ono wanodio ayu goleki, ” maksudnya ada orang cantik cari aku. Aku langsung mengerti bahwa perempuan hampir 60 tahun itu pasti akan mempermasalahkan hubunganku dengan Kanya.

“Apa yang kau mau harapkan dari Kanya? Kau anak tunggal. Ibumu pasti pingin momong cucu,” Bude Mirna langsung nyerocos padahal aku belum juga duduk. Sebenarnya ingin rasanya kutinggalkan mereka, tapi pastinya aku akan dianggap sebagai orang yang tak tahu sopan santun. Ibu yang tadi diam angkat bicara, "Pikrkan lagi, Le." Walau aku bukan anak kecil lagi, ibu tetap menganggapku "tole". Aku yakin Bude Mirna telah cerita pada ibu dan Joana kalau Kanya tak mungkin dapat memberikan anak padaku dalam keadaan normal. Joana yang tadi duduk di depanku lalu berpindah mendekatiku dan memelukku dari belakang. Aku tak bisa mengelaknya. Apakah dia lupa kalau aku bukan lagi kekasihnya?

“Ibu dan budemu minta kamu pertimbangkan lagi dan jangan buat keputusan yang salah. Kurang apa Joan bagimu,” itu pesan Bude Mirna sebelum meninggalkan rumah. Joana kurang apa? Dibandingkan Kanya tentunya dia lebih sempurna. Ketahuan bobot, bibit, dan bebetnya. Dia anak tunggal sepertiku, beda dengan Kanya yang memiliki kakak dan adik. Keduanya hampir sama cantiknya tetapi aku lebih nyaman dengan Kanya yang lembut dan penuh perhatian dibandingkan dengan Joana yang otoriter dan egois. Bersama dengan Joana hatiku tak pernah tenteram, serasa aku menghadapi majikanku. Apakah aku masih danggap salah pilih? Memang ayah dan ibuku mengharapkan keturunan dariku. Keluarga mana yang tak mengharapkan anak lahir dari rahim istirinya? Dan yang tak dapat kulupakan bayangan wajah ibu yang makin keriput dan matanya yang berkaca-kaca saat mengingatkanku. Apakah aku akan jadi anak yang durhaka?

Santa Ursula, 13 Maret 2018
#pentigrafAgustWahyu


7
#PENTIGRAF_SERIAL
SEMBURAT MERAH JINGGA (7)
Keputusan Antara Ibu dan Bude
Oleh :Camelia Septiyati Koto

Pagi itu aku tak menjemput Kanya seperti biasa dan ini atas permintaannya.
"Kalau kamu ingin memikirkannya kembali, sebaiknya kita tidak usah bertemu dahulu. Kamu harus memikirkan yang terbaik untukmu, juga ibu." Aku hanya terdiam saat Kanya katakan hal itu tadi pagi saat aku menghubunginya. Tanpa kusadari air mata ku jatuh, dan ibu melihatnya sambil membelai kepalaku. Beliau tidak bertanya tapi langsung mengalihkannya pada hal lain, "Jangan lupa sarapan, ibu sudah buatkan nasi goreng kesukaanmu. Juga jangan lupa bekalnya dibawa." Padahal biasanya beliau tak membawakanku bekal karena Tanya selalu membawakannya untukku.

Malam harinya aku sengaja pulang agak larut, karna aku takut Bude Mirna dan Joana kembali datang. Siang tadi, Joana menghubungiku mengajak makan siang bersama tetapi aku menolaknya karena memang pekerjaan di kantor menjelang akhir bulan begitu banyak. Tetapi utamanya aku tak ingin menemuinya. "Kok pulang larut Don, tadi bude dan pakdemu datang." Aku hanya tersenyum dan berniat meninggalkan ibu masuk ke kamar, setelah mencium keningnya. Tapi ibu menahanku, “Sabtu besok antar ibu ke rumah Bude Mirna ya, Don! Sudah lama ibu tak main ke sana." Aku tak bertanya lagi, raga dan jiwaku sudah terlalu lelah, takutnya nanti aku jadi emosi sehigga keluar kata-kata yang tak sepantasnya bagi seorang ibu.

Semalaman aku tak mampu memejamkan mata. Mungkin menjelang pagi aku baru terlelap dan terbangun saat ibu mengetuk pintu dan membangunkanku. Aku bergegas bersiap-siap berangkat. Sarapan sudah ibu siapkan di atas meja. “Kamu tak antar Kanya?” tanya ibu mengejutkan. “Jemput dan antarkan dulu, kasihan hujan-hujan begini.” Aku tak mampu menangkap apa-apa dari perkataan ibu yang datar. Lalu hari Sabtu, ibu mau ketemu bude mau apa? Pasti Joana akan ada di sana dan ibu akan minta bantuan pakde dan bude agar aku memutuskan hubungan dengan Kanya. Masih dua hari, besok baru Jumat. Ingin rasanya tak usah ada Jumat biar taka da Sabtu. Tetapi sebagai seorang lelaki tak pantas bagiku bila selalu bimbang dan mengelak dari masalah, termasuk bimbang harus mengantar Kanya atau tidak. Aku berketatapan hati menjemput dan mengantarnya ke kantor. Untung dia masih di depan rumah dengan payung hijaunya.

#pentigrafcsk
Bekasi, 15 Maret 2018


8
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (8)
*Bimbang
Oleh Merry Srifatmadewi

"Mas, sudah kamu pikirkan masak-masak hubungan kita?" tanya Kanya di dalam mobil. Aku hanya terdiam, raut mukaku pasti berubah karena aku merasakan aliran darahnya. Aku hanya menatapnya dan ada air mata yang mengambang di mataku. Kanya tidak berani melanjutkan pertanyaan lagi. Setibanya di kantor Kanya, "Nanti sore aku tidak jemput ya. Aku harus lembur," kataku karena aku juga belum siap untuk berbicara banyak dengannya. Kanya mengangguk dan tersenyum memahami kesibukanku. Kulanjutkan perjalanan menuju kantorku. Banyak pikiran yang menggelayuti pikiranku.

Sabtu yang ingin kuloncati waktunya akhirnya tiba. Aku mengantar ibu ke rumah bude. Gelisah sekali hatiku memikirkan apa yang akan terjadi nanti di rumah bude. Kutarik napas panjang dan kuhembuskan lagi berkali-kali. Huffhhhtt. Ibu hanya memperhatikanku tanpa menegur kelakuanku, mungkin dia ingin agar aku tetap bisa konsentrasi mengemudikan mobil. Dari depan rumah, Bude dan Joana sudah berdiri menyambut kedatangan kami. Pasti ibu yang memberitahu dengan detail posisi kami sudah sampai di mana dan bahwa sebentar lagi kami tiba. Mereka menyambut kami dengan senyum merekah terlebih Joana terhadapku. Joana dengan sigap menggandeng tanganku masuk ke dalam rumah bude. Ingin kutepis tangannya, takutnya malah bikin gaduh. Joana mengambilkan kue dan minuman untukku dan menyuapkan ke mulutku.

Ibu dan bude yang duduk di seberang bangkuku terlibat pembicaraan seru. "Coba lihat betapa serasinya hubungan mereka. Persaudaraan kita bisa tambah lekat bila Joana jadi menantumu. Terus harus diingat Kanya tidak bisa punya anak!" Suara bude terdengar sangat jelas di telingaku dan kulihat ibu mengangguk-angguk. Kugaruk kepalaku yang tidak gatal ini. Joana malah membantu memijat kepalaku dengan lembut hingga yang tadinya tegang karena stress, lama-lama menjadi nyaman. Ku tutup mataku sebentar, terbayang aku sedang meletakkan kepala di pangkuan Kanya yang manis, dengan senyum yang tak dibuat-buat. Perhatian Kanya tulus, amat tulus. Adakah karakter Joana setelah menikah bisa berubah dari sifat otoriter menjadi makhluk yang manis semanis Kanya? "Yuk, kita pulang...," ajak ibu membuyarkan lamunanku.

#pentigrafSF
Jakarta, 16 Maret 2018

9.
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (9)
* Salah Sangka
Oleh Siu Hong-Irene Tan


Mungkin karena merasakan kebimbanganku, Kanya kembali menjaga jarak. Kanya agaknya ingin memberikan keleluasaan kepadaku untuk mengambil keputusan terbaik. Sedangkan Joana semakin gencar beraksi, setiap sore dia bertandang ke rumah, berbincang dengan ibu dan ayah. Dengan manis membantu pekerjaan ibu sambil menungguku pulang. Dan ibu selalu mengharuskanku mengantarnya pulang. Ibu dan ayah selalu tersenyum melihat keakraban kami. Mereka tak tahu bagaimana rasanya kepedihanku dulu saat Joana meninggalkanku demi seorang Andi, anak orang terkaya waktu masih di kampus.

Sudah beberapa hari ini kumerenung, memikirkannya dengan seksama, dan hatiku sudah mantap memutuskan. Segala konsekwensi yang akan kuhadapi. Sore itu, kuberencana untuk pulang lebih awal, kembali untuk menjemput Kanya. Kubayangkan apa yang akan kuungkapkan nanti kepadanya dapat membuatnya tersenyum bahagia. Rasa rinduku kepadanya terasa begitu dalam, yang belum pernah kurasakan saat bersama Joana. Tak ada gadis sebaik Kanya, dan pilihan sudah kujatuhkan hanya padanya. Aku melirik jam tangan, sudah waktunya berangkat menjemputnya. Dengan semangat segera tancap gas menuju kantornya, tetapi bunyi dering gawaiku menghentikan siulanku. "Nak, segera pulang! Ibu sendiri di rumah, Joana pingsan," terdengar suara panik Ibu

Tanpa berpikir panjang lagi, aku memutar arah sembari menghubungi Kanya, tapi tak ada nada sambung. Aku yakin Kanya sudah gelisah menunggu. Apalagi waktu yang kujanjikan sudah lewat lebih dari 40 menit. Telpon dari ibu berdering kembali. "Iya Bu, masih di jalan," sahutku sambil mempercepat kendaraanku. Ibu sudah menunggu dengan panik. Joana tampak terbaring di sofa depan. Ibu setengah berlari ke ruang dalam mengambil kotak obat. Kuoleskan minyak angin pada tengkuk dan keningnya. Baterai gawai Kanya kebetulan habis dan dia khawatir terjadi sesuatu denganku maka diputuskannya untuk singgah saja ke rumahku. Tetapi tiba-tiba terdengar pekik Kanya di depan pintu yang sangat mengagetkan, mungkin karena melihat posisi tubuhku yang sangat dekat dengan tubuh Joana. Ibu menoleh. Aku terpaku beberapa saat dan hanya mampu melihatnya menutup mulutnya menahan tangis. Kemudian dia berbalik, lari meninggalkan rumah sambil menangis dan aku hanya melihat punggungnya semakin menjauh dengan cepat.

Bogor, 18 Maret 2018

10
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (10)
*Kacau Balau
Oleh Merry Srifatmadewi


Aku benar-benar seperti orang bodoh saat ini. Bingung serba salah. Mau hubungi Kanya, saat ini masih urus Joana yang masih belum siuman. Kubalurkan minyak kayu putih ke kening, hidung, leher, tangan dan kakinya. Perlahan kupijat lembut. Ibu berdiam diri saja tidak tahu harus berbuat apa. Ibu juga tidak berani menghubungi bude dan pakde supaya mereka tidak panik dan hanya memandangiku yang sedang berupaya menyadarkan Joana sambil berdoa. Kucoba lagi memberi napas buatan, perlahan-lahan mata Joana terbuka dan melihatku sedang menciumnya. Cepat-cepat kuhentikan dan ketika hendak kutinggalkan, tangannya meraih tanganku. Kali ini pelan-pelan kulepaskan tangannya. Perasaan bersalahku sangat besar kepada Kanya. Ibu lalu mendekat dan mendampingi Joana setelah memberikannya segelas teh hangat.

Bergegas aku masuk ke dalam kamar tidurku. Kutelpon ke gawai Kanya, tidak diangkat-angkat. Aku kirim pesan, tidak dibalas satupun. Runyam benar-benar runyam. Malam itu juga aku mau berangkat ke rumah Kanya untuk menjelaskan kejadian sebenarnya. "Bu, aku pergi ke rumah Kanya sekarang," kataku sambil mengambil kunci mobil. "Sekarang? Tolong temani kami dulu, bagaimana kalau terjadi kenapa-napa lagi nanti," bujuk ibu. Antara kasihan dan serba salah, kulihat keadaan Joana dan kuyakini dia akan baik-baik saja kuputuskan tetap berangkat ke rumah Kanya.

Pintu rumah Kanya kuketuk, tidak ada yang membukakan. Kutahu bahwa Kanya berada di balik pintu ini. "Kanya, please dengarkan dulu penjelasanku. Ini ada kesalah-pahaman." Tidak ada jawaban sama sekali. Kucoba mengetuk pintu dan berulang-ulang kubicara sendiri berharap Kanya mau bicara. Terserah bila dia mau marah atau teriak padaku. Satu jam sudah aku berdiri di sini. Dingin makin merayapi tubuhku. Dengan lunglai aku menuju mobilku dan pulang tanpa hasil. Kujalani mobilku hingga di tikungan jalan, lampu sorot mobil menerpa sesosok tubuh gadis yang sangat kukenal sedang duduk sendiri di bangku panjang pinggir jalan! Kulihat dia mau menyingkir, segera kuturun dari mobil dan berniat mengejarnya bila dia mau berlari menjauhiku. Aku harus bicara, ya aku harus bicara!


Jakarta, 19 Maret 2018
#pentigrafSF