Minggu, 13 Mei 2018

SEMBURAT MERAH JINGGA (41-50)


41
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (41)
*Merenda Kasih
Oleh Albertha Tirta

Kami semua amat senang atas pertemuan keluarga yang berakhir menggembirakan semua pihak. Segera kuantar pulang Kanya. Aku takut Bude Mirna berubah pikiran. Di dalam mobil kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Di depan pintu gerbang rumah Kanya, kuiringi langkahnya. Sampai di pelataran kuhentikan ayunan kakinya. Aku mengajak diskusi untuk lebih serius meningkatkan hubungan kami. Tatap mata nanar Kanya seolah belum yakin akan kesungguhan hatiku meminangnya. Kuraih kedua tangannya dan kucium punggung tangannya. Kutatap matanya lekat-lekat untuk mencari keraguan di sana. Kanya tak mampu menatap wajahku, ia menundukkan kepala. Kuraih kepalanya dan kujelajahi raut wajahnya dengan pandanganku yang tajam. Tak lama kemudian air mengalir deras dari kedua matanya. Ia mengangguk sambil merangkulku. Spontan kupeluk tubuhnya erat-erat dan kuangkat beberapa saat untuk meluapkan kegembiraanku.

Di hari minggu yang cerah kuajak Kanya berjalan-jalan ke waduk di desa sebelah. Kami sempat berboncengan dengan sepeda sewaan menyusuri pasir puth. Pemandangan yang asri dan segar menyejukkan hati kami. Kegembiraan hati kami bertambah, dan suka cita meruah. Rasanya semua seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Kanya yang sekian lama terbaring di rumah sakit, sekarang sudah sembuh tinggal perlu waktu untuk pemulihan. Rongrongan Bude Mirna yang didukung ibu sudah berlalu. Fitnah keji Jonatan sudah terkuak terang benderang. Aku merasa Tuhan amat sangat sayang kepadaku. Aku sungguh mensyukuri semua anugerah ini. Akupun tersenyum simpul atas semuanya. Tiba-tiba Kanya menyenggolku membuyarkan lamunanku. Kuraih dan kurangkul erat sambil kubisikkan ke telinganya, “Aku mencintaimu dan tak ingin jauh darimu.” Kanyapun tertawa lebar sambil menjentikan telunjuknya di hidungku. Kamipun tertawa bersama.

Setiap hari minggu selalu kami lewatkan bersama, tidak pernah absen kami mengisi dengan kegembiraan dan syukur. Kami pun membicarakan lebih serius penentuan hari istimewa yang akan kami jalani bersama. Sebagai persiapan hari penting kami, kuajak Kanya ke salah satu butik etnik yang elegan. Kutawarkan Kanya untuk memilih busana kami berdua. Terlihat matanya berbinar-binar dan antusias sekali. Àku amat tersihir akan kecantikannya yang terpancar di saat ia amat bahagia. Terdengar nada dering di gawai Kanya, sambil mengedipkan mata ia meminta izin untuk mengangkatnya. Aku pun menyetujui dengan menganggukkan kepala. Sebelum menjawab Kanya melihat foto profil penelepon. Tiba-tiba ia menjerit dan gawai di tangannya hampir terlepas. Untung aku sempat mengambil dan menahan tubuhnya. Keringat dingin membanjir dan wajahnya menjadi pucat pasi.

---

42

#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (42)
Ah...
Oleh Agust Wahyu

Segala rencana yang sudah disiapkan akhirnya berantakan. Hilang sudah kemesraan yang sempat kurasakan beberapa saat. Kami tak mungkin menikmati sunset di danau tersebut yang beberapa jam lagi akan hadir dan pesanan tempat buat candle light berdua di sebuah restoran di sekitar danau untuk menikmati seafood juga kubatalkan. Aku memutuskan untuk mengajaknya pulang. Aku yakin di rumah dia dapat beristirahat dengan tenang. Untung lalu lintas di Sabtu sore itu cukup lengang sehingga dapat tiba di rumah dengan cepat. Rasa takut masih menyergap Kanya yang lemas membuatku sangat penasaran tetapi kumenahan diri untuk menanyainya. Kupapah dan kubaringkan tubuhnya di ranjangnya yang empuk. Matanya sungguh berbeda pandangannya. Keringatnya masih mengucur walau tidak sederas sebelumnya. Kukeringkan keringat yang membasahinya. Kuberi Kanya minum dan kubelai dirinya. Tangannya kugenggam. Kutatap matanya dalam-dalam. "Jangan takut, aku di sisimu," kupeluk dirinya erat. Air mata Kanya menetes jatuh. Kanya memeluk diriku sangat erat. Tangisnya memecah. Kubiarkan dirinya melepas semua beban yang menghimpit dirinya. Kepalanya dibenamkan dalam bahuku. Kuelus-belai punggungnya. Setelah tenang, kutinggalkan Kanya yang tertidur.

Jenny awalnya sempat panik, tapi menjadi tenang saat kanya dapat tidur dengan tenang. Aku mengambil gawai Kanya diam-diam. Aku ingin tahu siapa yang meneleponnya. Kutelepon balik nomor telepon tersebut. Aku siap dengan resiko yang ada. Kumenunggu suaranya. Tidak ada suara yang mengangkat. Hanya profil fotonya. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Lapor polisi? Hal apa yang harus kulaporkan? Perbuatan tidak menyenangkan? Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kuperbuat sekarang. Dan kuambil gawaiku ingin mengabarkan ayah ibu. Sungguh terkejut ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. “Mas, pulanglah nanti ibu menunggu. Aku nggak apa-apa,” tiba-tiba Kanya terbangun dan keluar dari kamarnya. Walau dengan hati yang berat, aku akhirnya berjalan pulang. Sebelumnyakami berdoa bersama memohon perlindungan Tuhan.

Sudah lewat tengah malam, pintu gerbang perumahan sudah ditutup. Sempat nunggu beberapa saat sebelum satpam membukakannya. Aku menjalankan mobil dengan kecepatan sedang, apalagi mata ngantuk dan badan terasa sangat lelah. Namun tiba-tiba mobilku sedikit oleng, dan stir mobil terasa berat. Aku menghentikan kendatraan dan ternyata ban depan sebelah kanan bocor. Aku melihat sekeliling. Sepi. Tiba-tiba bulu kudukku sedikit naik. Ini tempat Kanya kecelakaan. Tiba-tiba dari belakang tanganku dipegang, “Ah...!” Mulut dan hidungku dibekap dengan sapu tangan, “Kalau masih ingin hidup jangan teriak.” Aku hanya pasrah dan dipaksa masuk mobil lain. Setelah itu aku tak ingat apa-apa.

Santa Ursula, 13 Maret 2018
#pentigraf_aw

---

43
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (43)
*Tobat
Oleh Budi Hantara

Empat lelaki berbadan tegap berdiri mengelilingiku yang tak berdaya. Ruangan besar yang gelap membuat suasana begitu mencekam. Aku berusaha membuka mata setelah tak sadarkan diri beberapa saat. Aku sangat terkejut ketika melihat wajah Jonathan ada di hadapanku. Tampang para preman dan tatapan garang Jonathan membuat nyaliku semakin down. "Jangan bertingkah! Nasibmu malam ini di tanganku." Setelah mengucapkan kalimat itu, Jo mengisyaratkan kepada tiga lelaki di dekatnya untuk menjauh. Di ruang itu tinggal aku dan Jo. Aku menatap Jo dengan hati berdebar-debar. Apalagi dengan samurai mengkilap di tangannya siap melukai yang disentuhnya, termasuk leherku.

Beberapa saat suasana hening tanpa suara. Aku dan Jo sama-sama diam menyembunyikan ketegangan. Raut wajahnya tampak menahan gejolak jiwa yang meledak-ledak. Jo menggeser posisi duduknya lebih dekat denganku. "Kamu punya dua pilihan. Menerima tawaranku atau mati?" Suara Jo pelan tapi bernada penuh ancaman. Aku teringat Kanya dan semangatku bangkit seketika. Demi cintaku pada Kanya, aku tak akan menyerah. "Jangan mengancamku! Sebaiknya kamu pikirkan nasibmu sendiri. Sekarang polisi sudah mencium keberadaanmu." Ekspresi wajahnya mendadak berubah. Wajah garangnya hilang ditelan perasaan takut dan bersalah. Pada dasarnya dia tak jahat tapi pengaruh pergaulan dan narkoba yang membuatnya sering terlibat kejahatan.

Tiba-tiba Jonathan berlutut di depanku dengan wajah tertunduk. Suaranya bergetar pelan. "Maafkan semua perbuatanku...," dia menyampaikan permohonan maaf padaku atas segala perbuatan yang telah dilakukannya terhadapku, Kanya, dan Joana. Bahkan dia rela merendahkan diri dan memohon padaku untuk dikasihani. Dia minta dipertemukan dengan Joana. Dia ingin minta maaf pada kekasihnya itu. Dia berjanji akan menjaga dan menyayangi Joana sepenuh hati. Dia juga berjanji untuk menjauhi narkoba. Setelah dipertemukan dengan Joana, dia akan menyerahkan diri mempertanggung jawabkan segala keslahannya. Hatiku luluh seketika setelah mendengar niat baiknya. Aku hanya bisa mengangguk setuju. Kami berpelukan penuh keharuan rasa.

Ngawi, 14 April 2018

---

44
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (44)
*Hmmm
Oleh Merry Srifatmadewi

Tiga lelaki kekar melongo melihatku dilepas begitu saja oleh Jonathan. Terperangah aku melihat wajah mereka yang sebelumnya seram kini hanya main lihat-lihatan sambil lirik-lirikan satu sama lain. Ahh... peduli amat! Kuberjalan menyusuri hutan dan semak belukar cukup jauh hingga mencapai jalan raya. Kuberdiri menunggu sampai kudapatkan kendaraan tumpangan. Benar-benar buta aku daerah apa ini, yang penting bisa menghirup udara bebas. Beberapa kali aku gonta-ganti kendaraan tumpangan. Harapanku ingin cepat mandi setibanya di rumah. Oh ya aku lupa, aku harus menemui dulu orang rumah supaya tidak cemas terutama Kanyaku tercinta. Tak sabar aku ingin menemui Kanya tapi bau badanku hmmm... aduhai memabukkan membuatku harus mandi sebelum menemuinya.

Kuceritakan peristiwa yang kualami secara garis besar pada ayah dan ibu. "Don, lapor polisi beritahu kamu sudah di rumah dengan selamat. Dan kamu mau ke mana lagi? Istirahatlah untuk hari ini. Besok saja kamu temui Kanya," kata-kata ibu membombardir. Ayah menggeleng-gelengkan kepala tidak setuju dengan kata-kata ibu yang menunda aku menemui Kanya. Namanya orang kasmaran sehari rasanya seperti setahun. Sayangnya, hari itu benar-benar aku tidak bisa menemui Kanya karena harus membuat berita acara pemeriksaan di kantor polisi. Lelah dan bertele-tele diinterogasinya membuat aku ingin mencabut laporan yang dibuat ayah dan ibu. Masalahnya mobilku belum ditemukan dan kini dalam penyelidikan polisi.

Kepalaku pening, badanku sakit. Kupaksa makan walau tidak ingin makan lalu kumakan obat biar bisa lekas pulih. Semalam aku sudah berbincang via telepon dengan Kanya setibanya aku di rumah. Terhibur walau belum bisa bertemu langsung. Semua lega karena aku selamat tidak kekurangan suatu apapun. Ayah menerima telepon dari pihak kepolisian bahwa mobilku sudah ditemukan dan diminta pemilik mobil melihat langsung dengan membawa surat-surat lengkap. Berhubung kondisi kesehatanku masih kurang baik, ayah dan ibu yang berangkat ke kantor polisi. Kanya berjanji akan menemaniku di rumah sepulang kerja. Tiba-tiba Bude Mirna dan Joana muncul di rumahku. Ibu meminta Bude menemaniku selama ibu dan ayah di kantor polisi. Hadehhh...!

Jakarta, 15 April 2018
#pentigrafserialSF

---

45
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (45)
*Ada Apa Sebenarnya?
Oleh Jenny Seputro

Kanya belum datang juga. Sementara aku benar-benar segan menemui bude Mirna dan Joana. Mengobrol dengan bude rasanya seperti diinterogasi. Bahkan lebih parah dari interogasi polisi. Saat ini aku sungguh sedang tidak mood. Badanku masih terasa meriang dan kepalaku juga masih migren. Tadinya terbayang Kanya memijit kepalaku sambil aku berbaring di pangkuannya. Jemarinya yang ajaib melunturkan segala penat dan lelahku. Tapi Kanya sangat terlambat, dan bude mulai memanggil-manggil menyuruhku makan bubur yang dibawanya. Aku sama sekali tidak berselera, tapi kupaksakan diri untuk makan karena aku harus minum obat.

Sambil makan kuperhatikan Joana yang duduk manis di samping bude. Sejak menderita amnesia, dia bagaikan boneka yang selalu mengekor di belakang bude. "Don, kalau sempat coba ajak Joana ngobrol. Bantu dia mengingat lagi. Kasihan kan dia begini," kata bude sambil meremas tangan Joana. Joana hanya senyum-senyum. Aku menatapnya iba. Betapa hidup ini penuh teka-teki. Dulu aku pernah membayangkan bersanding dengan gadis itu ke pelaminan. Membina rumah tangga yang bahagia dengan ketiga anak kami. Joana bahkan sudah memilih nama untuk anak-anak kami nantinya. Tapi setiap kali aku teringat bagaimana mudahnya dia berpaling hati, rasanya masih sakit di dada.

Bel pintu berbunyi. Akhirnya Kanya, dewi penyelamatku datang juga. Dia membawakanku sup ayam. Pantas lama sekali dia baru datang. Kanya menyapa ramah bude Mirna dan Joana. Senang rasanya melihat mereka tampak akrab. Bude mulai asyik menanya-nanyai Kanya. Percakapan akhirnya berujung pada Jonathan. "Kanya sudah tidak pernah kontak lagi sama Jo ya?" tanya bude santai. Spontan aku bertanya apakah Kanya benar-benar mengenal Jo, dan bukan sekedar orang yang pernah menabraknya. Kulihat wajah Kanya seketika pucat. Saat itu ayah dan ibu pulang, dan Kanya cepat-cepat berpamitan. Dia juga kukuh tidak mau diantar pulang. Malamnya aku tidak bisa tidur. Kenapa Kanya merahasiakan dariku kalau dia sudah mengenal Jo?

Perth, 16 April 2018

---

46
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (46)
*Masa Lalu Kanya
Oleh Jenny Seputro

Malam minggu selesai makan malam, seperti biasa aku menemani Kanya mengobrol santai di rumahnya. Biasanya ini saat-saat yang kunantikan. Tapi kali ini aku gelisah, tepatnya sejak Jo menelepon Kanya dan membuat gadis yang sangat kukasihi itu ketakutan bagai melihat hantu. Aku penasaran bagaimana nomor Jo bisa tersimpan dalam gawai Kanya. Ditambah kejadian malam itu bersama bude. Ada sesuatu yang disembunyikan Kanya tentang hubungannya dengan Jo, dan itu meresahkanku. Sudah lama ingin kutanyakan, tapi setiap kali aku melihatnya begitu gembira, aku tidak tega merusak suasana hatinya. Tapi semakin lama aku semakin tidak tenang. Akhirnya kuputuskan untuk mengutarakan kegalauanku. "Aku dulu pernah mengenalnya, tapi itu sudah lama sekali," jawab Kanya, dan langsung berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

Di meja makan, Jenny sedang sibuk membereskan piring-piring bekas makan malam. Aku tahu diam-diam dia memperhatikan percakapanku dengan Kanya. Sekali tatapan kami bertemu, dan dia cepat-cepat mengalihkan pandang kembali ke piring-piringnya. Ah, Jenny pasti tahu apa yang dirahasiakan Kanya. Sebagai calon suaminya, aku merasa berhak tahu, apalagi hal ini berhubungan dengan laki-laki yang telah merebut Joana dariku,hampir membunuh Kanya, dan baru-baru ini menculikku dengan obat bius hanya untuk minta maaf. Aku jadi paranoid, gadis-gadis yang kucintai semua terhubung dengan Jo. "Mas, sudah malam. Sebaiknya kau pulang, nanti ibu khawatir," kata Kanya. Dia memang benar, tapi tak urung aku merasa diusir secara halus.

Aku berpamitan. Kukecup kening Kanya dan kupeluk tubuhnya mesra. Karena sudah larut, Jenny menyuruh Kanya cepat-cepat mandi, dan dia menawarkan untuk mengantarku ke mobil. Berdiri di depan pagar, kami sama-sama terdiam. Sama-sama tahu ada yang ingin dibicarakan, tapi tidak tahu bagaimana. Akhirnya aku yang buka suara, memohon pada Jenny untuk menceritakan yang sebenarnya.Jenny mengangguk kecil. Senyumku merekah, akhirnya mulai ada sinar terang. "Aku harus menceritakan semuanya padamu, demi keselamatanmu sendiri dan Kanya," kata Jenny pelan. Senyumku memudar dan buluk kudukku berdiri. Kejutan apa lagi yang akan kuterima kali ini?

Perth, 17 April 2018

---

47
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (47)
*Pertemuan dengan Jenny
Oleh Camelia Septiyati Koto

Baru saja sampai di kantor tiba-tiba gawai ku berbunyi, kubuka whatsapp, "Don siang ini apakah kamu ada waktu, aku ingin menjelaskan semuanya padamu. Kuharap untuk saat ini Kanya tak perlu tahu akan pertemuan kita." Aku langsung mengiyakan. Dan kebetulan aku pun tidak ada meeting atau sibuk di kantor. Aku mulai tak sabar untuk menemui Jenny siang itu. Hatiku mulai gelisah dengan apa yang akan disampaikan Jenny nanti.

Saat jam makan siang aku sudah sampai di tempat yang telah kami janjikan. Perjalanan cukup lancar sehingga aku tiba lebih awal dari waktu yang kami janjikan. Kulihat sekeliling dan Jenny tampak melambaikan tangannya padaku. Jenny memesan makanan buat kami. Dia meminta kami makan dulu sebelum bercerita. Padahal aku inginnya dia bercerita secepatnya. Penasaran sekali ada apa di balik semua ini.

"Apakah kamu benar-benar ingin tahu siapa Jonathan," Jenny memulai menceritakan tentang Jo. Aku sempat kaget atas semua yang diceritakannya padaku. Apakah aku harus menarik kembali rasa percayaku pada Jonathan kalau ia ingin kembali pada Joana? Lalu kenapa bude Mirna pun tahu akan hubungan Kanya dan Jonathan. Ada apa dengan hubungan mereka? Mungkin kalau hubungan antara Joana dan Jonathan bude Mirna bisa tahu itu, bagiku tak akan merasa aneh. Tapi kalau hubungan Jonathan dengan Kanya? Makin banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiranku. Pertemuanku dengan Jenny malah membuatku bingung dan menimbulkan banyak pertanyaan baru.

Kp. Sawah/180418

---

48
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (48)
*Hari Kelabu
Oleh Albertha Tirta

Pulang dari makan siang, aku mengantar Jenny sampai di kantornya. Sepanjang perjalanan kami bergulat dengan pikiran masing-masing. Kelihatan Jenny gelisah, mungkin karena aku juga terlihat resah. Turun dari mobil, ia berpesan agar tidak menyampaikan semua yang diceritakan kepada Kanya. Aku tersenyum mengangguk, meyakinkannya dengan memberi tanda gerakan jariku. Ia membalas tersenyum lega. Cepat aku meluncur kembali menuju kantor. Sebelum berbelok tiba-tiba sepeda motor yang dikendarai seorang ibu menyalib dan menikung. Dengan refleks ku rem mendadak. Hampir kendaraan kami saling bersinggungan. Rasanya mau meledak amarahku, mengeluarkan rasa yang sudah penuh menyesak di dada. Dengan mengambil napas dalam dan membuat tanda salib, aku mampu meredakan emosiku.

Sebelum masuk ruangan kantor, aku berpesan kepada sekretaris agar segala urusan dengan pihak luar ditunda. Semua akan diselesaikan esok hari. Di gagang pintu kugantung tulisan "don't disturb". Aku mencoba menenangkan diri dengan membuka arsip-arsip laporan. Map di atas meja akan kubuka, tiba-tiba terbayang wajah Kanya saat menjadi sekretaris mengambil map dari meja Jo. Sewaktu map di dekap di dadanya, ia jatuh terkulai, obat bius yang di semprotkan pada sapu tangan dan dibekapkan pada hidung dan mulutnya oleh Jo sangat cepat bereaksi. Aku refleks melempar map di tanganku dan jatuh di sofa. Kupandangi isi map yang berserakan. Kembali terlintas cerita Jenny, bagaimana Kanya mengalami nasib tragis di sofa. Adegan perkosaan oleh Jo pada Kamya terlihat nyata di situ. Kugeleng-gelengkan kepala dan kuusap wajah untuk menghilangkan bayangan liar. Semakin ingin kuhindari, semakin nyata menari-nari di pelupuk mataku.

Sore hari saat jam pulang kerja, aku tidak langsung menuju rumah. Kubelokkan mobil ke cafe langgananku untuk menenangkan pikiran dan gejolak hati. Pramusaji sudah hafal dengan pesananku. Segelas Capuccino hangat dengan cepat terhidang di meja. Alunan musik yang biasa kunikmati, justru semakin membuat berat kepalaku. Minuman yang kupesan tak sedikitpun tersentuh. Mulutku terasa terkunci, tapi pikiranku liar tanpa kendali. Aku menjadi pusing. Kali ini cafepun tidak menolong diriku untuk mencari ketenangan. Dengan langkah gontai aku melangkah ke tempat parkir. Kukendarai mobil pelan-pelan. Rasa marah dan jijik menguasai diriku. Akan kulempar ke mana rasa ini? Ke Jo? Kanya? Atau...?

---

49
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (49)
*Cinta Don Kembali Diuji
Oleh Yosep Yuniarto

Sore itu aku datang ke rumah Kanya. Kulihat dia sedang duduk termangu di teras rumah. Resah, gundah dan gelisah nampak terpancar dari wajah cantiknya. Menyaksikan hal itu spontan naluri 'afeksi' ku pun timbul. Aku segera bertanya apakah dia baik-baik saja? "Apakah Jo mengganggumu lagi?" tanyaku. Mendengar nama Jo disebut, mendadak Kanya histeris. Aku menghampiri dan memeluknya dengan erat. Erat sekali. Berusaha menenangkannya. Cucuran air mata deras berderai membanjiri dadaku. Kanya menangis seolah sedang menumpahkan segala beban, perasaan, pikiran yang sedang mengganjal di benak hatinya. Hatiku pun jadi bergetar dan terenyuh. Ingin rasanya aku menangis juga. Namun aku sadar harus kuat dan bisa mengendalikan emosi perasaan yang sedang bergejolak tak karuan ini

Setelah puas menumpahkan air matanya, dengan suara perlahan, tersendat dan bergetar, Kanya mulai berbicara. Dia merasa amat bersalah bahkan berdosa sudah menyembunyikan hal ini dariku. Sebetulnya dia ingin jujur menceritakan semuanya kepadaku. Namun dari kemarin-kemarin itu Kanya masih saja merasa belum siap, baik secara fisik, psikis, mental. Terutama Kanya masih belum siap membayangkan seperti apa reaksiku nanti setelah mendengar dan mengetahui semuanya. Kanya mendongakkan wajah, menatapku pasrah, sendu dan pilu. Dengan pelan Kanya berkata jika kini dia sudah siap andai dia sampai harus kehilangan atau ditinggalkan oleh diriku. Pria sepertiku layak untuk mendapatkan wanita lain yang lebih baik. Sedangkan dia tak layak, tapi dia belum mengatakan apa sebabnya.

Aku menarik napas dalam-dalam, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk menambah kekuatan dalam diriku. Perlahan kusentuh lembut kedua pipi Kanya, kutatap wajahnya dengan berjuta kasih sayang. Kutegaskan bahwa rasa cintaku terhadap dia adalah cinta yang sejati, tulus, siap dan mau menerima dia apa adanya. Sembari tersenyum dan kuelus lembut rambutnya, kukatakan bahwa di mataku dia tetaplah seorang wanita yang suci dan terhormat. Yang pantas menjadi seorang istri, mendampingiku seumur hidup dalam suka dan duka, sampai maut memisahkan. Kanya menatapku, kemudian dia kembali membenamkan wajahnya di dadaku menangis. Namun... tiba-tiba aku tersentak dan Kanya juga kaget. Dan Pelukan kami terlepas. Bayangan Jo kembali hadir. Rasa dendamku memuncak... "Aku harus membalasnya," kataku dalam hati. "Nantikan pembalasanku..."

---

50
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (50)
*Hari Istimewa
Oleh Agust Wahyu

Dadaku terasa sesak dan panas. Pikiranku sukar untuk diajak konsentrasi. Berbagai masalah bergantian merasuki otakku. Ingin aku menyelesaikan semua ini secepatnya. Biar Jo merasakan pembalasanku yang telah merusak masa depan Kanya dan Joana. Sampai di rumah aku langsung hubungi teman-temanku yang sekiranya dapat membantuku. Aku tak perlu menggunakan tanganku langsung. Rasanya aku cukup uang untuk membayar mereka. Mas Gondo sudah siap setelah syarat-syarat yang dibutuhkan siap kupenuhi. Aku hanya cukup mencari data tanggal lahir Jo, hari lahir, dan wetonnya dalam Kalender Jawa. Itu gampang, dari tanggal lahir, aku tinggal minta Mr. Google mencarinya. Syarat lain seperti bunga 7 macam, air 7 sumber, ayam hitam, dan kemenyan akan disiapkannya. Aku tinggal bayar. Dia akan laksanakan sampai Jo lumpuh tak berdaya.

Ada alternatif kedua. Aku bisa minta tolong Bang Jaja, kepala preman untuk memberi pelajaran pada Jo, atau sekalian membunuhnya. Tapi ini kurasa agak riskan karena kalau sampai kebongkar. Akhirnya aku sendiri yang akan kena. Setelah mendapatkan dua alternatif itu, pikiranku sedikit tenang. Emosiku pelan-pelan aku redam. Aku berusaha ke kantor seperti biasa. Tak ingin pekerjaanku di kantor terganggu. Berkas-berkas di atas meja kerja sudah bertumpuk. Harus diperiksa dan ditanda tangani. Apalagi aku merencanakan tahun ini untuk melakukan perluasan pabrik. Aku juga tak ingin produksi pabrik menurun, apalagi ada tawaran investasi baru bila perusahaan dapat meningkatkan produksi dan omzet penjualan. Selain itu harus meningkatkan ekspor dengan mencari pangsa pasar di luar negara-negara ASEAN.

“Pak, sudah ditunggu di ruang pertemuan. Acara akan segera dimulai,” tiba-tiba sekretarisku mengingatkan. Aku kaget. Seingatku tak ada agenda penting hari ini. Tapi aku percaya dengan sekretarisku yang cekatan. Dia pasti telah mempersiapkan semuanya. Aku melangkah ke ruang pertemuan. Semua karyawan telah duduk rapi dengan tenang di ruang pertemuan. Aku bingung. Pertemuan apa hari ini? Tiba-tiba semua yang hadir di situ menyanyikan lagu Happy Birthday. Aku sungguh terkejut, lupa dengan ulang tahunku. Dan lebih terkejut lagi saat Kanya datang membawa kue tart berbentuk hati dengan lilin menyala. “Selamat ulang tahun, Don...,” mereka menyalami dan memelukku satu persatu membuatku lupa dengan segala hal yang membuncah di pikiranku. Tiba-tiba pintu terbuka, masuk Bude Mirna, Joana, dan Jo membawa kue tart dan bunga, membuat semua yang hadir ternganga.

Kampung Sawah, 22 April 2018
#pentigraf_aw


SEMBURAT MERAH JINGGA (31-40)

31
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (31)
*Pemakaman Pakde Marto
Oleh Camelia Septiyati Koto

Hari ini adalah pemakaman Pakde Marto, kulihat bude Mirna yang tak henti-hentinya menangis sambil menggandeng Joana yang baru keluar dari rumah sakit. Ibu pun tak pernah jauh-jauh dari sisi bude Mirna, sambil menyalami tamu-tamu yang datang mengucapkan belasungkawa. Setelah misa penutupan peti. kulihat Joana meneteskan air mata dan memeluk bude Mirna, dan Joana menatapku sesaat. Agaknya dia belum mengenaliku?

Pakde Marto di makamkan di Tegal, kota kelahirannya. Bude Mirna berangkat ke sana ditemani ibu. Demikian juga Joana tetap memaksa ikut walau kesehatannya belum pulih. Pihak keluarga menyediakan sebuah bis besar untuk pengantar dan beberapa mobil pribadi. Dan hal yang mengejutkanku adalah ketika Bude Mirna, Joana, dan ibu memasuki mobil hitam berstiker yang kulihat di malam saat Kanya kecelakaan. Mobil milik Jo. panggilan Jonathan, orang yang dulu merebut Joana dari pelukanku. Kaki dan badanku kaku. Ingin aku mencegahnya tapi aku tak punya alasan untuk melakukannya. Aku hanya berdoa semoga malam itu aku salah lihat. Tapi bagaimana stiker di bagian belakang itu?

Beberapa analisa memenuhi pikiranku. Mengapa Kanya menjadi korban? Apa hubungan Jo dengan Kanya? Apa mungkin karena Jo tahu Joana lebih mencintaiku sehingga dengan menabrak Kanya maka aku akan banyak menghabiskan waktu buat kanya. Dan Joana akan kembali pada Jo.
Atau... jangan-jangan Jo pernah berpacaran dengan Kanya dan pernah menghamilinya. Dia tidak mau jika rahasia masa lalunya terbongkar jika Kanya mengetahui keberadaannya saat ini. Oleh sebab itu Kanya harus dilenyapkan. Aku benar-benar pusing. Atau mungkin Jo memang ingin melepaskan Joana kembali padaku. Tetapi dengan adanya Kanya membuatku tak perhatikan Joana, maka Kanya harus dilenyapkan. Dalam kebingungan, aku hanya pasrah kepada-Nya dengan berdoa. Aku tahu Dia pasti akan memberikan jalan terbaik buatku pada saat-Nya yang tepat.

Kp.sawah/040418

---

32
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (32)
*Di Luar Dugaan
Oleh Agnes Kinasih

Banyak sekali kejadian tak terduga dalam hidup ini. Kejutan-kejutan kehidupan datang. Aku bersyukur karena aku mampu melewatinya. Hari ini setelah bertemu dengan dokter visit, aku pamit pada Kanya untuk pergi ke kantor, “Cepet sehat ya sayangku... Love u.” Aku mencium pipinya kiri dan kanan yang mulai kelihatan berisi kembali. Hari ini ada beberapa meeting yang harus kuhadiri, dua diantaranya aku sendiri yang harus memimpin. Aku mendapat laporan dari anak buah di lapangan, ada rumor yang sengaja disebarkan seseorang untuk menjatuhkan perusahaan yang kupimpin.

Praktis hampir sebulan aku tak begitu aktif di kantor. Hari-hariku disibukkan dengan mendampingi Kanya. Hari ini banyak masalah yang harus kutangani dengan cepat. Pada rapat pertama membahas demonstrasi yang dilakukan warga sekitar pabrik karena sumber air yang mereka gunakan tercemar limbah pabrik. Aku merasa heran, bertahun-tahun pabrik didirikan tak pernah ada masalah. Perusahaan sudah mengantisipasi tentang buangan limpah ini. Limbah diproses dahulu sebelum dibuang, jadi dampaknya tidak mencemari lingkungan. Bagian penanganan limbah dan pihak keamanan pabrik telah bergerak cepat. Pada rapat, mereka telah berhasil menunjukkan sejumlah foto berkenaan dengan aksi warga dan pencemaran yang terjadi. Betapa terkejutnya aku melihat foto-foto itu. Hal yang di luar dugaanku.Tampak seseorang dengan sengaja memasukkan zat kimia tertentu ke aliran sungai tempat perusahaan membuang limbah produksi.


Hasil rapat langsung kutindaklanjuti beserta langkah-langkah yang harus dilakukan selanjutnya. “Selidiki sampai tuntas dan libatkan kepolisian,” perintahku pada Pak Darsono, orang kepercayaanku di perusahaan. Tanpa menunda lagi, siang itu juga dia bergerak cepat dengan membentuk satuan tugas untuk menyelesaikan masalah ini. Warga telah mengancam, bila tak diatasi segera maka mereka menuntut perusahaan harus ditutup. Tentu saja ini berdampak besar pada perusahaan yang memperkerjakan hampir seribu karyawan. Otakku dipenuhi dengan banyak pertanyaan, apa yang ingin dilakukan terhadap perusahaan ini? Saat aku kebingungan, gawaiku berbunyi, “Baru saja terjadi lagi, Pak. Tapi kami gagal menangkapnya. Tetapi CCTV sudah dipasang di lokasi dan berhasil merekamnya.” Aku langsung mendatangi operator CCTV dan meminta untuk membukanya. Ragaku yang sudah lelah, kali ini dibuat tak berdaya dan kaget melihat gambar yang tertayang ke monitor. Sungguh sulit dipercaya. Kenapa ini bisa terjadi? Apa sebenarnya yang dia inginkan?

---

33
#pentigraf_serial

SEMBURAT MERAH JINGGA (33)
*Temuan Pak Darsono
Oleh Agust Wahyu

Polisi bergerak cepat karena laporan yang kami lakukan diaertai dengan bukti-bukti yang lengkap. Beberapa hari kemudian Pak Darsono mendapat panggilan dari kepolisian untuk dimintai keterangan sebagai saksi dan untuk melengkapi berkas perkara. Walau aku sudah melihat foto-foto pelaku dan cctv, tak urung aku cukup kaget saat Pak Darsono mengatakan, "Ada beberapa pelaku dan pelaku utama adalah Jonathan kekasih Joana." Dia cukup mengenal Joana karena memang sering datang ke kantor.

Ibu tak terkejut ketika kulaporkan Jo ditangkap polisi. Malah ibu bilang, "Bude malah bersyukur dapat ditangkap. Tapi ibu minta kamu tak boleh memusuhi Joana karena dia juga korban." Kepergian ibu pada pemakaman Pakde Marto ternyata membawa oleh-oleh cerita yang panjang. Sepanjang perjalanan Jakarta -Tegal - Jakarta mereka bebas cerita apalagi yang membawa mobil hitam berstiker itu ternyata Oom Parto, adik Pakde Marto. Ibu tak pernah menyinggung lagi tentang Joana. Apa berarti sikap ibu sudah melunak padaku? Dan ibu tak lagi memaksakan kehendak agar aku memilih Joana? Mungkin Joana juga sudah cerita kenapa dulu dia meninggalkanku. Apakah sikap ibu sungguh berubah?

Versi Joana yang diceritakan pada ibu dan bude adalah Jo yang waktu itu merayunya dan mengancamnya untuk meninggalkanku. Cerita Itu tak penting lagi bagiku. Semua sudah berlalu dan hatiku telah terobati dengan kehadiran Kanya. Perlahan tapi pasti semua misteri kejadian yang menyangkut pabrik, Joana, dan Kanya mulai terbuka. Aku percaya ini semua karena Tuhan selalu campur tangan dalam setiap persoalan. Dan persoalan utama yang belum mampu aku jawab adalah mengapa harus Kanya jadi korbannya?

Jakarta, 6 Maret 2018

---

34
#pentigraf_serial

SEMBURAT MERAH JINGGA (34)
*HORRIBLE
Oleh Merry Srifatmadewi

Joana mengenal Jonathan dalam sebuah acara ulang tahun teman mereka di sebuah villa di Puncak. Pesta hingga mabuk dan dalam keadaan setengah sadar Jo mengajak Joana yang teler ke kamar temannya diam-diam. Di sana Jo menyetubuhi Joana. Tidak hanya saat itu saja tapi dalam setiap kesempatan mereka melakukan hubungan intim. Joana tidak berani menolak atau mengelak, Jo mengancam akan membeberkan rahasia ketidak-perawanan Joana ke pers. Bisa hancur-lebur nama baik perusahaan dan keluarga Joana terutama Pakde Marto dan Bude Marni. Makanya apapun yang Jo inginkan, Joana tunduk termasuk menggugurkan kandungan diam-diam. Jo sangat pandai bermuka manis, bermulut manis dan pandai mengambil hati keluarga Joana. Pakde Marto dan Bude Mirna juga takut pada Jo, bukan hanya suka mabuk tapi juga pengedar narkoba kelas kakap punya kenalan yang setiap waktu siap membunuh.

Dengan tertangkapnya Jo, Bude Mirna dan Joana kini merasa lega. Tidak ada lagi yang perlu ditakuti. Dengan kematian Pakde Marto, Bude Mirna banyak merenung dan merenung. Sebelum dia nanti dipanggil pulang oleh Tuhan, ingin dia mengungkapkan semua kesalahan dan dosa-dosanya terutama kepada Don maupun Kanya. Tapi rasa malu yang lebih besar membuatnya berpikir berkali-kali. Baru mau bicara, keberaniannya hilang. Mundur maju, maju mundur bak makan buah simalakama.

Sore ini Kanya sudah diizinkan pulang oleh pihak Rumah Sakit. Don dan Jenny mengurus biaya pembayaran dan lain-lainnya. Dengan didorong kursi roda, Kanya menunggu di lobby utama Rumah Sakit ditemani Jenny. Dilihatnya mobil hitam berstiker di tempat parkir. Hal tersebut melambungkan traumatis pada Kanya. "Mengapa kamu, Kanya? Mukamu pucat sekali!" tanya Jenny. Cepat-cepat Jenny hubungi Don untuk secepatnya datang. Mesin mobil segera dimatikan. Dengan segera Don berlari sekuat-kuatnya ke arah Kanya. Apa yang terjadi pada Kanya dan haruskah diopname kembali?

Jakarta, 6 April 2018
#pentigrafserialSF

---

35
#pentigraf_serial

SEMBURAT MERAH JINGGA (35)
*Misteri Mobil Hitam
Oleh Agust Wahyu

"Haaa...," teriak Kanya dengan wajah ketakutan. Aku berlari dengan cepat menjumpai Kanya. Dengan dibantu seorang perawat, kami mendorongnya ke ruang praktek dokter yang kebetulan sudah kosong. Aku berusaha menenangkannya. Seorang perawat membawakannya teh hangat yang langsung dihirupnya pelan-pelan. Setelah agak tenang, aku berusaha menjelaskan dan meyakinkannya bahwa dia akan aman karena pemilik mobil itu sudah ditangkap dan sekarang digunakan oleh Oom Parto. Tapi aku tak mengatakan bahwa Joana sedang berada di rumah sakit karena sedang kontrol rutin dengan dokter yang merawatnya sekalian merawat Kanya.

Aku hanya ingin membuat Kanya tenang dan beristirahat di rumah. Lain kali bila sudah memungkinkan, pasti aku akan cerita seluruhnya. Dengan ditangkapnya Jo maka semua menjadi jelas dan nyata. Ketakutan Jo akan kehilangan Joana karena dipicu oleh sikapnya sendiri membuatnya melakukan hal yang kurang rasional. Saat diketahui, Joana mendekatiku maka Jo berniat mencelakaiku, minimal memberi pelajaran untukku agar tidak mendekati Joana. Padahal Joana yang mendekatiku. Jo sudah mengajak Joana unuk menikah, malahan mereka sudah merencanakan tempat pernikahan, mencetak undangan, dan membuat logo khusus "JoJo” dari awal suku kata nama mereka. Tapi itu dibatalkan karena Joana pernah memergoki Jo bermesraan dengan cowok berbadan kekar di kamarnya. Peristiwa yang membuat Jo tertangkap sebenarnya skenarionya yang kedua. Dengan hancurnya perusahaanku dan aku jatuh miskin, dipikirnya pasti Joana tak ingin lagi bersamaku.

Sekenario utamanya adalah memberi pelajaran pada saat Kanya kecelakaan, Jo telah mengikutiku semenjak aku keluar dari rumah setelah menolong Joana yang pura-pura pingsan. Dia bersama seorang temannya yang belum tertangkap, berniat menghentikanku di tempat yang sepi. Memberi pelajaran dan mengingatkanku untuk menjauhi Joana. Tetapi itu belum terjadi. Aku malah bertemu Kanya di jalan, dan tak mau di antar pulang. Pada saat aku meninggalkan Kanya, mobil hitam berstiker yang dikemudiakan berniat mengejarku dan tak melihat Kanya yang sedang menyeberang dan jalan berlawanan arah denganku. Jo yang sedang dalam keadaan setengah mabuk tak dapat menghindari tuhuh Kanya, yang sebenarnya justru tak termasuk dalam sekenario Jo. Apa yang akan dilakukan oleh ibu dan bude setelah mendekar semua certa yang ada dengan lengkap?

---

36
#pentigraf_serial

SEMBURAT MERAH JINGGA (36)
*Sebuah Keputusan
Oleh 
Waty Sumiati Halim

Duduk hanya berdua dengan Kanya di ruang klinik salah seorang dokter yang sudah selesai jam praktiknya membuatku merasa lega. Aku merasa bukan sebuah kebetulan kalau perawat yang tadi mendorong kursi roda Kanya meninggalkan kami untuk mengambil kantung obat Kanya yang tertinggal. Setelah hari-hari yang panjang dan sangat melelahkan sejak terjadinya kecelakaan yang menimpa Kanya, aku baru menyadari detik ini menjadi sangat istimewa. Tak ada seorangpun yang mengganggu kami. Sudut bibir Kanya naik membentuk sebuah senyuman yang selalu kurindukan. "Trimakasih ya, Don. Untuk semuanya..." Aku hanya mampu menjawab dengan anggukan sambil menatap kedua manik matanya, tempat kutemukan tatapan bening yang mencerminkan kejujuran.

Kata orang cinta bisa datang dan pergi kapan saja, namun cinta sejati pasti datang tepat pada waktunya. Harus kuakui bahwa aku pernah mencintai Joana. Namun cinta sejatiku adalah Kanya. Bersama Kanya aku menemukan diriku sangat berharga. Bersamanya pula aku merasa memiliki seorang yang harus kulindungi. Setelah hari-hari yang nyaris memporak-porandakan hidupku dan Kanya, serta mencabik-cabik hati kami, aku menemukan perasaanku terhadap Kanya makin mendalam. Aku tetap mencintainya. Siap menerima Kanya apa adanya. Aku tak ingin menukar cinta sejatiku dengan apapun. Bahkan aku siap menelan buah simalakama yang telanjur kukunyah...

"Don...?" Suara Kanya menyadarkanku. Pandangan kami bertemu. Sebuah aliran hangat menyelimuti hatiku. Aku tak tahu apakah Kanya merasakan hal yang sama. Yang kutahu ada tarikan gelombang magnet yang membuatku bersujud di hadapan gadis impianku. Kuraih tangannya yang tampak pucat. Kanya membiarkan tangannya dalam genggamanku. Ia terisak saat kukecup punggung tangannya yang putih. Dengan gemuruh hebat di dada kueja isi hatiku yang terdalam untuknya. "Kanya, maukah kau mengarungi bahtera hidup ini bersamaku?" Kanya menatapku tak percaya dengan mata basah. Kujatuhkan kepalaku di pangkuannya. Aku sudah pasrah dan tahu diri. Sebagai lelaki sejati aku harus siap menerima keputusan Kanya. Detik-detik berlalu dalam hening. Tiba-tiba suara Kanya memecah keheningan. Kuangkat wajahku. Aku nyaris tak memercayai pendengaranku sendiri. "Aku bersedia..

Bandung, 07042018

---
37
#pentigraf_serial

SEMBURAT MERAH JINGGA (37)
*Kegelisahan
Oleh: Budi Hantara

Taman di depan pavilyun rumah sakit itu tampak indah. Meskipun tidak luas tapi sangat terawat. Taman itu tidak hanya indah dipandang mata tapi memiliki multiguna. Mungkin ini taman terapi pertama di Indonesia. Beberapa pasien tertentu menjalani terapi di taman itu. Katanya itu disebut terapi "Basic to Nature." Penyembuhan di luar ruang dengan menggunakan media alam ternyata cukup efektif. Sudah banyak pasien yang sembuh melalui terapi tersebut di rumah sakit itu. Joana termasuk salah satu pasien yang menjalani terapi itu. Bude Mirna selalu mendampingi Joana dengan setia. Sembari menunggu dokter, mereka duduk di dekat air mancur. Suara gemericik air terasa mendamaikan hati.

Dari kejauhan terlihat sepasang kekasih berjalan melintasi lorong depan ruang Cendana. Mereka tampak mesra. Mata Joana terpana melihatnya, tapi merasa asing. Bude Mirna yang mengira bahwa Joana cemburu melihat Don dan Kanya begitu mesra berusaha mengalihkan perhatian. Namun suara Joana membuyarkan niatnya. "Lihat mesranya mereka." Joana menarik tangan Bude Mirna sambil tersenyum. Bude Mirna semakin heran. Tanpa sadar dia menyebut nama Don. Anehnya Joana justru bertanya siapa Don. "Siapakah Don?" Pertanyaan Joana semakin membuat Bude Mirna penasaran. "Kamu tak ingat Don?" Joana menggelengkan kepala. Dia benar-benar tidak ingat siapa Don.

Selama mendampingi Joana menjalani terapi, Bude Mirna merasa gelisah. Diam-diam dia mempethatikan ekspresi wajah Joana. Tidak menunjukkan tanda-tanda cemburu sedikitpun. Berarti dia tidak berpura-pura. Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak Bude Mirna. Kenapa Joana tidak bisa mengingat Don kekasihnya? Apakah dia akan kehilangan sebagian ingatan untuk selamanya? Kuserahkan semua padaMu ya Tuhan.

Ngawi, 07042018

---
38
#pentigraf_serial

SEMBURAT MERAH JINGGA (38)
*Keputusan Ibu
Oleh Camelia Septiyati Koto

Saat ku mengantar Kanya kembali ke rumah dan sudah menerima keputusannya kukatakan Jenny kalau aku benar-benar ingin menikahi Kanya dan akan segera menyampaikannya kepada ayah dan ibu. "Don, kamu yakin dengan keputusanmu ini?" Jenny berusaha menanyakan kembali keseriusanku. "Sangat yakin," jawabku tegas.

Sesampai di rumah kulihat ayah sedang menikmati secangkir kopi, ku hampiri dirinya dan kukatakan niatku. "Kamu bicarakan baik-baik dengan ibumu Don, ayah mau yang terbaik untukmu dan kebahagianmu." Kupeluk erat ayah dan kuhampiri ibu yang sedang menyiram tanaman kesayangannya di kebun belakang.

"Bu, aku mau bicara masalah Kanya," ibu hanya melirik dan melanjutkan kegiatannya. Jantungku berdetak lebih cepat dan keringatku mulai membasahi keningku, kalau dilihat cuaca hari ini tidak terik mungkin terlihat teduh. "Ibu bisakah kita bicara sebentar?" Ibu meletakkan selang air dan gunting tanamannya lalu duduk tak jauh dariku. "Bu aku ingin menikah dengan Kanya, aku ingin ibu memberi restu padaku bu. Karna aku sangat menyayangi dan mencintainya bu." Ibu hanya terdiam tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Dan kulihat air mata nya menetes tak beberapa lama ibu pergi meninggalkanku dan masuk ke dalam kamar. Aku hanya terdiam tak bisa berbuat apa-apa, saat kuingin menghampiri ibu kulihat ibu keluar dari kamarnya dengan air mata yang sudah mengering. "Don, ajak Kanya ke sini. Biar ibu katakan semuanya nanti di depan Kanya, Bude Mirna, dan Joana...," kata ibu seakan tak ada apa-apa. Tetapi itu membuatku bingung, aplagi bila Bude Mirna dan Joana dilibatkan.

Kp.sawah/100418

---

39
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (39)
*Pengakuan Kanya
Oleh Jenny Seputro

Hari Minggu siang yang terik. Sudah hampir seminggu aku berencana membawa Kanya menemui ibu. Tapi aku belum berani. Aku tidak bisa menduga apa rencana ibu mempertemukan Kanya dengan Joana dan Bude Mirna. Mungkinkah ibu tega menjatuhkan bom pertungananku dengan Joana di depan Kanya? Tapi tidak mungkin juga, karena saat ini Joana tidak mengenaliku. Pastinya dia juga keberatan dipertunangkan dengan seorang asing. Di atas semua itu, masih ada masalah yang mengganjal di benakku. Sesuatu yang tidak diceritakan Kanya padaku.


Kuajak Kanya mampir ke depot es campur kesukaannya. Panas-panas begini, tentunya asyik menikmati es segar sambil mengobrol. Kanya sudah terlihat sehat. Pipinya bersemu merah dan senyumnya senantiasa mengembang di bibir manisnya. Kami asyik mengobrol dan tertawa. Pelan-pelan mulai kusinggung kegalauanku. Kalau dia memang menerima lamaranku, tidak seharusnya ada rahasia di antara kami. "Kamu ingin tahu kenapa aku tidak bisa punya anak kan?" tebak Kanya jitu. Aku tersenyum kecut sambil mengangguk kecil. Terlepas dari isu karangan Bude Mirna, aku ingin tahu alasan yang sebenarnya.

Ternyata pernah ada kista di ovarium Kanya. Setelah perawatan tradisional selama setahun lebih tidak membuahkan hasil, Kanya yang kesakitan dilarikan ke tempat praktek dokter Budiman. Operasinya berhasil dengan baik. Hanya saja berbagai tes yang dilakukan menemukan sel-sel telur Kanya yang terlalu kecil dan buruk kualitasnya. "Dokter bilang aku tidak boleh terlalu berharap untuk punya anak," suara Kanya terdengar lemah. Kurangkulkan lenganku di bahunya. “Cintaku padamu tak kan berubah...," aku tak yakin apa yang harus kukatakan. Kanya menatapku, sambil memaksakan sebuah senyum.

Perth, 11 Maret 2018

---

40
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (40)
*Sidang Pengadilan
Oleh Merry Srifatmadewi

Hari dan waktu telah ditetapkan berdasar kesepakatan, tidak ada lagi alasan untuk mundur. Semua akan dibuat terang-benderang. Di ruang keluarga di hadapan meja bundar telah duduk ibu dan ayah duduk bersebelahan. Joana dengan Bude Mirna telah tiba dan bergabung. Wajah Joana sangat innocent, duduk teramat manis. Aku berjalan menggandeng tangan Kanya yang basah karena takut menghadapi sidang pengadilan ini. Siapa yang akan mengetuk palu? Muka Kanya agak pucat ibarat pesakitan yang dibawa ke ruang pengadilan. Aku mengelus tangan Kanya menenangkannya. Kanya menghampiri dan berusaha tersenyum menyalami satu-persatu. Hatinya deg-degan.

Bude Mirna baru akan bicara dipotong suara ibu. "Kanya, apa kabar?" Suatu pembukaan kata yang mencairkan suasana yang tegang mencekam ini. Dengan menangis Bude Mirna menceritakan hal-ikhwal bagaimana dirinya menjauhkan Kanya dari Don demi Joana yang sangat dikasihinya dan berita hoax tentang Kanya hamil. Bude Mirna ke luar dari kursi dan menghampiri Kanya. "Maafkan Joana, maafkan Bude yang telah bersalah pada kalian" sambil menyodorkan tangan dan bersujud di hadapan Kanya. Kanya menggeser mundur kursi agak ke belakang. Mengangkat Bude berdiri dan memeluk erat-erat. Semua menangis melihat peristiwa pengampunan yang diberikan Kanya setelah mendengar semua penuturan Bude Mirna tentang kondisi Joana yang sebenarnya. Tiada rasa dendam dan kecewa. Semua hilang ditiup angin. Kanya menghampiri Joana. Joana bingung celingak-celinguk tidak mengenali. Kanya memeluk Joana erat merasakan kepedihan Joana.

Berlembar-lembar tissu ditarik ke luar bersilih-ganti. Rasa penyesalan, rasa malu untuk mengungkap suatu keberanian besar, ke luar dari himpitan batu besar yang mengganjal, peristiwa cobaan hidup bertubi-tubi yang menghantam keluarga berakhir suatu kelegaan setidaknya saat ini. "Don, Kanya, rencananya kalian mau tunangan dahulu atau mau langsung menikah?" tanya ibu. Don dan Kanya berpandang-pandangan penuh arti. "Nanti aku dan Kanya pikirkan baik-baik dan akan mengabari" kata Don menjabat erat tangan Kanya. Sambil duduk santai semua pindah nonton televisi. Beritanya sangat mengejutkan, Jonathan kabur dari sel tahanan.

Jakarta, 12 April 2018
#pentigrafSF   

SEMBURAT MERAH JINGGA (21-30)

21
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (21)
*Jumat Agung
Oleh Agust Wahyu

“Le... kowe ra popo?” tanya ibu ketika aku kembali ke rumah lebih awal dari biasanya. Walau aku tak memegang cermin, aku yakin mukaku kusut dan kurang tidur. Semalam pikiranku memang bercabang antara Kanya dan Joana. Mentari belum menampakkan senyumnya. Daun-daun bunga melati di depan rumah masih basah, mungkin karena hujan semalam. Apa ibu lupa kalo hari ini Jumat Agung dan aku akan Jalan Salib jam 8 pagi. Tentunya hari ini aku tak akan bisa ke gereja besama Kanya seperti tahun lalu. Dia lebih dulu memikul salibnya, dan apakah pengorbanannya akan membebaskanku? Tapi dari apa? Apakah membebaskanku dari Kanya atau Joana?

“Bapak-ibu mau bicara hal sangat penting!” kata ibu mencegatku di pintu kamar dan minta aku duduk. Jantungku tiba-tiba berpacu kencang. Apalagi yang ingin ibu katakan. “Apa kamu belum tahu kalo Kanya pernah hamil? Tapi ini rahasia lho dari budemu.” Kepalaku langsung berputar-putar. Perut yang lapar semakin mual. Kakiku lemas. Berita apa lagi ini? Bude Marni yang dulu pernah jadi perawat atau asistennya Dokter Budiman yang pernah merawat Kanya. Ibu mendapat informasi dari bude bila Kanya pernah hamil tetapi calon suaminya tak mau bertanggung jawab. Sehingga dia berusaha menggugurkan kandungannya dengan obat-obatan tradisional. Dan tak berhasil. Lalu dalam keadaan pendarahan hebat, diantar ke Dokter Budiman. Saat itu dokternya belum tiba di tempat praktik, dan yang memberi pertolongan pertama adalah Bude Mirna.

“Itu sebabnya ayah dan ibumu tak mengizinkan. Bagaimanapun Joan lebih baik!” ucapan ibu bagai memvonis. Ayah seperti biasa tak bereaksi banyak tetapi kulihat sepintas wajahnya cenderung mendukung keputusan ibu. Aku tak memberi komentar. Menarik napas panjang beberapa kali dan berusaha tetap tenang. Sejujurnya aku memang tak pernah bertanya lebih jauh tentang kondisi rahim Kanya karena itu sangat sensitif dan dapat melukai perasaan orang yang sangat kucintai. Tetapi apa benar seperti itu? Aku juga tak mungkin akan konfirmasi dengannya dalam kondisi seperti ini. Aku segera pamit pada ayah dan ibu untuk mandi lalu bersiap-siap mengikuti jalan salib di gereja Servatius. Mungkin saatnya aku harus memanggul salib juga, yang kuyakin belum seberat salib yang dipanggul Kanya apalagi Salib Yesus.

Kampung Sawah, 30 Maret 2018
#pentigraf_aw

---

22
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (22)
*Awal Jumpa dengan Kanya
Oleh Agnes Kinasih

"Salib itu kujunjung penuh hingga tiba saat ajalku. Salib itu kurangkul teguh. Klak kan kutrima mahkotaku." Lagu "Di Bukit Golgota" kembali terngiang di telingaku. Pikiranku melayang ke sore itu, ketika hatiku letih. Aku memacu mobilku ke sebuah rumah retreat di Puncak. Aku benar-benar terpuruk karena sikap Joana yang tega menyakiti dan meninggalkanku. Aku ingin menenangkan diriku. Kapel di rumah retreat tempatku biasa berdiam diri, hari itu lain. Terdengar denting piano dan suara merdu seseorang menyanyikan lagu itu. Awalnya kupikir Suster Stefani, tapi suaranya sangat beda. Lembut, merdu, dan penuh penghayatan serta kepasrahan. Kuteruskan langkahku ke dalam kapel. Seorang gadis berwajah sendu dengan rambut panjang tampak sedang memainkan piano.

Pelan-pelan aku melangkah masuk, karena tidak ingin mengganggunya. Hanyut dalam. Lagu yang ia bawakan, hatiku tiba-tiba merasa sesak,air mataku mengalir. "Ya Tuhan... ternyata aku lemah," keluhku dalam hati. Kutundukkan kepala dalam doa. Seiring berhentinya lagu itu, kusudahi doaku. Gadis itu berlutut di depan altar. Nampak ia juga menangis. Tak mau membuatnya terganggu aku keluar perlahan dan menuju ke kantor Suster Stefani untuk menyampaikan bahwa malam itu aku ingin menginap semalam di rumah retreat yang dikelolanya. Setelah diberi kunci kamar, aku segera beristirahat.

Malam hari, setelah makan malam aku keluar ke taman bunga anggrek di halaman belakang. Aku kaget ketika kulihat gadis yang tadi kulihat di kapel ada di situ. Ia pun sepertinya kaget dengan kehadiranku. Dia mengangguk dan tersenyum. Sebelum terlanjur menjauh aku menyapa dan bertanya padanya, "Maaf, mbak tadi yang bermain piano di kapel?" Dia berhenti dan membalikkan badan, sambil tersenyum ia mengangguk. "Suaranya bagus. Kenalkan saya Don," kataku memujinya dan mendapatkan jawaban namanya, Kanya, dari bibirnya yang mungil dan merah. Ternyata ia juga sedang menjadi tamu di situ. Kami pun terlibat dalam obrolan yang asyik. Tak kusia-siakan untuk bertukar kontak dengan orang yang cantik, lembut, dan ramah itu. Dan utamanya ia mampu membuatku lupa akan Joana. "Kanya kekasihku... cepatlah pulih," bisikku dalam hati. Aku rindu tawamu, kata-katamu yang lembut menguatkanku. Dan aku ingin misa malam paskah bersamamu lagi.

---

23
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (23)
*Kejutan di Pagi Paskah
Oleh Waty Sumiati Halim

Bayangan senyuman Kanya telah membangkitkan semangatku saat kubuka mata pagi ini. Terima kasih, Tuhan! Ini hari Minggu Paskah, perayaan sukacita kebangkitan Kristus. Dan aku akan punya lebih banyak waktu untuk Kanya! Setelah hari-hari yang melelahkan, terburu-buru menyelesaikan tugas, supaya bisa segera mengunjungi Kanyaku yang terbaring lemah dan terkurung dalam "dunia"nya. Oh, kapankah ia sadarkan diri? Namun sejujurnya aku juga khawatir hal ini akan menjadi bumerang untukku? Bagaimana kalau sudah sadar Kanya makin menjauh?

Membiarkan diri di bawah pancuran air sungguh menyegarkanku pagi ini. Rasanya aku ingin segera tiba di rumah sakit. Usai sarapan bersama Ibu, kuraih kantung kertas berisi boneka kelinci Paskah dan sekotak coklat, hadiah untuk Kanya. Ia pencinta coklat dan sangat menyukai boneka. Aku ingat benar, bagaimana sinar mata Kanya saat menerima coklat usai misa malam Paskah tahun lalu. Ketika kami baru jadian, "Don, trimakasih ya. Kok tahu aku suka coklat?" Senyum Kanya mengembang menyusul jeritan riangnya ketika ia juga menemukan sebuah boneka beruang kecil dalam kantung hadiahnya.

Kutarik napas dalam dan kubisikkan doa sebelum memasuki ruang perawatan Kanya. Kulihat di meja ada lilin menyala. Seorang berjubah putih sedang berdiri di samping tempat tidur Kanya. Aku berjingkat untuk mendekat agar tak mengganggu. Sebuah kejutan untukku, ternyata lelaki itu adalah Arya, sepupu Kanya yang belum lama ditahbiskan menjadi imam. Kuletakkan kantung hadiahku di meja di samping tempat tidurnya. Seperti biasa, di mataku Kanya tampak sangat cantik walau ia mengenakan pakaian rumah sakit. Tetapi hatiku sangat sedih karena tak banyak perubahan padanya. Jenny, saudara satu-satu yang dimiliki Kanya, mungkin merasakan hal yang sama, dan mengusulkan untuk memberikan Sakramen Perminyakan buat Kanya. Romo Aryo memang sudah siap untuk itu. Setelah itu aku mencium keningnya, dan tiba-tiba sudut bibirnya terangkat. Dan matanya pelan-pelan terbuka dan langsung menatap ke arahku. Ia mengenaliku! Dan bibirnya bergerak menguncup, "Don..." Seketika kurasakan gemuruh di dadaku. Kanya sadar! Terimakasih Tuhan. Ini sebuah mujizat Paskah! Kanya bangkit bersama Yesus. Untuk beberapa saat kata-kataku menghilang begitu saja terbasuh aliran hangat dari sudut mataku... .

Bandung, 30032018

---

24
#pentigraf_serial

SEMBURAT MERAH JINGGA (24)
What's The Matter Don?
Oleh Waty Sumiati Halim

"Don..." Oh Tuhanku, aku tak bermimpi. Tadi Kanya menyebut namaku! Ini momen yang sangat kurindukan. Kanya sadar dan mengenaliku! Walau masih sangat lemah, ia mencoba membalas genggaman tanganku. Pandanganku buram. Namun aku tak ingin melepas tangannya. Aku takut Kanya terhempas ke lembah amnesia yang tak bertepi seperti Joana. Dan harus kuakui ternyata cintaku padanya lebih dari yang kukira. Kutatap matanya lekat. Menyiratkan sorot penuh kasih. Namun tak lama kemudian kemudian kelopak mata Kanya menutup kembali. "Don, biarkan Kanya istirahat...," suara Romo Aryo membuyarkan lamunanku. Aku jadi ingat dokter Irwan pernah berpesan Kanya perlu banyak istirahat.

Hidup terasa sangat indah ketika kusadari ternyata hatiku hanya terpaut pada Kanya. Walaupun ternyata ia mempunyai masalah dengan rahim, mahkota seorang wanita. Luka hatiku akibat ulah Joana terpulihkan. Namun rangkaian peristiwa yang melandaku dan Kanya akhir-akhir ini telah mencabik-cabik hatiku. Dan tentunya menghancurkan hati Kanya yang selama ini kukenal sangat lembut. Sadarnya Kanya seolah menghadapkanku pada pisau bermata dua. Apakah ia mau menerimaku kembali? Kalau ia mau mnerimaku kembali, apakah keluargaku akan menerima Kanya yang konon tak mungkin mempunyai keturunan?

Dalam kegalauan hati kucoba berkonsultasi dengan Romo Aryo tentang permasalahan melingkupiku. "Wow! Cinta segitiga... ow segi empat ya..." Romo muda itu mencoba mencandaiku. Namun beberapa detik kemudian ia memandangku lalu melanjutkan ucapannya dengan wajah serius. "Ikuti kata hatimu!" Dan aku makin galau. Tentu saja hatiku memilih Kanya, walau aku pernah mencintai Joana. Namun aku juga tak ingin menjadi anak durhaka. Bagai seorang yang harus mengunyah dan menelan buah simalakama. Aku takut mencelakai Ibu. Mengingat Ibu bermasalah dengan jantungnya. Bayangan Kanya, Joana dan ibu silih berganti menari-nari di benakku. Oh Tuhan, tolonglah aku! Dadaku terasa sesak. "Don?" Suara Romo Aryo dan tepukannya di bahuku memaksaku untuk menoleh ke arahnya. Aku tak dapat menebak isi hati Romo muda itu ketika ia melihat sungai deras mengalir dari kedua sudut mataku.

#Bandung, 01042018

---

25
#pentigraf_serial

SEMBURAT MERAH JINGGA (25)
*Mimpi
Oleh Merry Sri Fatmadewi

Terbayang hari-hari menggembirakan melihat kemajuan yang dicapai Kanya hari ini. Benarkah demikian? Ada pasien yang terlihat jauh membaik dari hari sebelumnya ternyata pasien itu berpulang selamanya. Membayangkan itu membuat Don takut sendiri dan tidak berani mengutarakan ketakutan tersebut pada siapapun. Don bertelut dalam doa memohon pengasihanan Tuhan untuk Kanya. Apa yang dikuatirkan tidak terjadi. Selang oksigen sudah dilepaskan, sedikit demi sedikit Kanya mulai bisa menyedot minuman. Tubuhnya masih lemah tapi sudah bisa mengenali orang-orang yang dikenalnya.

Hampir tiba di rumah, Don melihat mobil Bude Marni. Don tidak jadi pulang dan memilih pergi menenangkan diri di cafe. Rasa lelah tubuh Don tambah lelah, setelah dua jam di cafe membuatnya ingin segera pulang. Mandi air hangat dan pergi beristirahat secepatnya. Masih terparkir mobil Bude Mirna. Don tidak mau menghindar lagi, hanya satu di pikirannya mau istirahat.

"Don, mengapa jarang menengok Joana? Tolong tengok dan bisikan kata-kata penyemangat untuk dirinya. Pasti Joana cepat sembuh terutama bila dari diri kamu yang memberi semangat!" pinta Bude Mirna sambil memegang tangan Don. Karena sudah lelah dan mau beristirahat, Don menganggukkan kepala dan permisi masuk ke dalam kamar tidurnya. Karena super lelah, Don tertidur lelap dan bermimpi Don menikah dengan Joana dan mereka mempunyai sepasang anak yang menggemaskan. Inikah pertanda bahwa Don akan menikahi Joana?

Bandung, 1 April 2018
#pentigrafserialSF

---

26
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (26)
* Kegalauan Pakde Marto
Oleh 
Siu Hong-Irene Tan

Pakde Marto sedang duduk di teras dengan gelisah. Sepertinya perasaannya sedang galau. Matanya menerawang memandang langit malam. Berkali-kali terdengar desah napas panjang dari hidungnya. Bude Mirna menghampirinya dengan membawa nampan. Aroma teh camomile menyeruak dari poci yang dituangkan."Pak, minum dulu tehnya selagi masih hangat. Jangan kau curahkan semua pikiranmu pada persoalan Joana. Jaga kesehatanmu," terdengar nasihatnya.

Hela napas Pakde terdengar seperti sedang memikul beban. Diangkatnya cangkir teh mendekati mulut, kemudian ditiupnya perlahan-lahan. Tampak asap bulat mengepul di udara dan menghilang tertiup angin malam. Pakde Marto menyeruput teh yang sudah agak dingin hingga tetes terakhir. Diletakkannya cangkir yang sudah kosong di atas meja. Wajah Maria, adiknya kembali hadir seperti mimpinya beberapa hari yang lalu. Dia seakan-akan diingatkan janjinya dulu sebelaum Maria berpulang. Maria telah mewanti-wanti agar dirinya menjaga Joana baik-baik. Sejak ayah Joana menghilang tanpa kabar berita, adiknya itu hidup dalam penderitaan batin. Setiap saat menanti kepulangan suaminya. Kondisinya makin lama bertambah tak menentu, seringkali tiba-tiba seperti orang hilang ingatan. Hingga akhirnya Pakde Marto dan Bude Mirna memboyong Maria dan Joana pulang ke rumah. Joana sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Apalagi perkawinan Pakde Marto dengan Bude Mirna tak dikarunia keturunan. Janjinya menjaga Joana disanggupinya, tetiba terasa menjadi beban yang sangat berat.

Bude Mirna membalik-balik halaman majalah di pangkuannya. Pikirannya tidak fokus. Perkataan suaminya semalam terus terngiang-ngiang di telinganya,"Bu, rencana kita menjodohkan Joana dengan Don harus berhasil. Selain keponakan kita itu baik, dia juga pewaris tunggal keluarga kita. Dengan begitu aku bisa memenuhi janjiku pada almarhum Maria." Bude Mirna mengkhawatirkan kondisi kesehatan suaminya dan dirinya sendiri yang punya penyakit jantung. Belakangan ini wajah suaminya tampak semakin pucat. Tekad Bude Mirna sudah bulat, mencari cara agar Joana bisa menikah dengan Don.

Bogor, 31 Maret 2018

---

27
#pentigraf_serial

SEMBURAT MERAH JINGGA (27)
*Ajaib Kasihmu
Oleh Budi Hantara

Senyum Kanya menjadi berkah terindah yang sudah lama kunantikan. Setelah sekian lama tak sadarkan diri, pagi ini Kanya membuka mata dan bibir mungilnya mengucapkan kalimat yang membuat hatiku berbunga-bunga. "Terima kasih Don, kamu tidak meninggalkanku." Tatapan matanya memancarkan cinta yang tulus. Kugenggam tangannya dan kutempelkan di dadaku supaya Kanya merasakan detak jantungku yang penuh cinta. "Cinta kita tak akan terpisahkan Sayang."

Jenny diam terpaku menahan keharuan rasa. Sementara aku masih menggenggam erat tangan lembut Kanya. Walaupun wajahnya masih pucat, sinar matanya tampak berbinar. Semangat Kanya benar-benar telah bangkit. Beberapa hari lagi Kanya pasti sudah sehat dan bisa segera pulang. Setelah sehat aku ingin mengajaknya jalan-jalan dan memberikan kejutan istimewa. Anganku mengembara jauh melintasi batas logika. Tiba-tiba suara ibu yang datang bersama Bude Mirna menghentikan anganku. "Puji Tuhan. Sungguh besar kasih Tuhan." Tanpa ada yang memberi komando kami melambungkan doa penuh syukur bersama-sama.

Paskah tahun ini sungguh penuh berkah. Kebangkitan Tuhan telah melembutkan semua hati yang keras membatu. Bude Mirna yang biasanya egois dan suka memaksakan kehendak, kini berubah ramah. Aku hampir tak percaya ketika Bude Mirna mengatakan kepadaku bahwa tak akan memaksakan pertunanganku dengan Joana. "Bude minta maaf Don. Setelah mengalami berbagai persoalan, akhirnya Bude merenung dan menyadari bahwa rencana Tuhan yang lebih indah. Kamu berhak menentukan pilihanmu sendiri. Mungkin Kanya memang jodohmu. Tapi bisa jadi Joana. Bude tak akan memaksamu lagi tapi pertimbangkanlah lagi apa kau tak ingin keturunan."

---

28
#pentigraf_serial

SEMBURAT MERAH JINGGA (28)
*Bola-bola panas
Oleh Ypb Wiratmoko

Yang patut disesalkan di dunia ini adalah masih banyak orang yang tidak menyadari bahwa ada dua berita besar di dunia ini, yaitu semua orang telah jatuh ke dalam dosa, dan yang kedua dosa-dosa tersebut dapat diampuni oleh Tuhan asalkan mau bertobat dan berjanji tidak akan mengulangi dosa lagi. Mengapa pula kebiasaan-kebiasaan baik jauh lebih mudah ditinggalkan daripada kebiasaan-kebiasaan buruk?

Demi rasa cintanya kepada Joana, Bude Mirna sengaja melemparkan bola panas pada persoalan hubungan antara Joana denganku. Ia dengan cerdiknya mampu menghembuskan isu bahwa Kanya pernah hamil dan menggugurkan kandungannya. Dengan cara seperti itu, aku akan berpikir seribu kali perihal hubunganku dengan Kanya, gadis yang sangat kucintai. Ia pun menyusun strategi baru seolah-olah memberi kemerdekaan kepadaku untuk menentukan pilihan.

Sejak awal perjumpaanku dengan Kanya, aku selalu mendengarkan suara hati. Aku percaya setiap persoalan pasti ada jalan keluar dan dihadapi dengan bijak. Aku berusaha mengendalikan perasaan dalam menghadapi persoalan yang pelik ini. Aku berusaha sekuat tenaga untuk bersikap jernih. Aku tidak mau melukai perasaan siapa pun. Pakde Marto, Bude Mirna dan orangtuaku adalah orangtua yang harus dan wajib dihormati. Juga Joana dan Kanya, dua gadis yang pernah dan masih mengisi hatiku. Aku harus menentukan langkah terbaik. Semoga data-data yang kumiliki sudah cukup kugunakan untuk menentukan langkah selanjutnya. Tiba-tiba ibu menangis setelah dapat telpon dari Bude Mirna. Aku menanti dengan hati tak enak dan jantung berdebar-debar. kabar apa yang didapat dari Bude Mirna?

(Wisna Ayem, Ngawi, 4 April 2018)

---

29
#pentigraf_serial

SEMBURAT MERAH JINGGA (29)
*Pukulan Berat buat Don
Oleh Albertha Tirta

Perkembangan kesehatan Kanya mengaduk-aduk hati Pakde Marto. Ia semakin khawatir. Hal ini akan semakin menjadi ancaman nyata bagi Joana untuk berdampingan dengan Don. Ia harus berpacu dengan waktu untuk segera menjodohkan. Perasaan campur aduk ini menyedot banyak energi. Beberapa hari kemudian Pakde Marto tumbang jatuh sakit demam tinggi. Staminanya turun drastis karena mengalami insomnia. Dari dokter memperoleh obat untuk membantu bisa tidur.

Hari pertama meminum obat bisa membantu Pakde Marto memicingkan matanya. Tetapi di hari kedua sudah tidak mempan lagi. Matanya tetap melotot nanar. Seperti kebiasaannya sehari-hari, untuk membunuh waktu dengan duduk diteras. Samar dalam bayangan terlihat mobil memasuki halaman rumahnya. Pakde Marto cukup terhenyak melihat para penumpang turun. Terlihat Don merangkul Kanya dengan mesra sambil salah satu tangannya menggandeng Joana. Tatapan Joana kosong tanpa ekspresi. Hati Pakde berontak, iapun berteriak "Tidaaaak!"

Tergopoh-gopoh Bude Mirna datang, menggoyang-goyangkan badan Pakde. Tapi suaminya tak bangun-bangun. Dan hal yang bisa dilakukan adalah menangis dan menelpon adiknya, yaitu ibu. Kejadian ini mau tak mau menjadi pukulan berat bagiku, apalagi Bude Mirna menudingku sebagai awal mula penyebab semua ini. Saat kupandangi Pakde Marto yang sudah tidur abadi, seakan-akan dia berbisik padaku, "Apakah kau masih belum puas menyiksa pakde dan budemu?"

---

30
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (30)
MIMPI INDAH KANYA
Yosep Yuniarto

Pagi itu sengaja aku tak pulang ke rumah. Aku butuh waktu yang tepat untuk mengabarkan kepergian Pakde Marto kepada Kanya. Senyum manisnya langsung terkembang dan kulihat wajahnya sudah mulai cerah. “Saya mandi dulu ya,” Jenny permisi meninggalkan kami. Kemudian Kanya bercerita kalau semalam dia bermimpi ada yang mengetuk pintu rumahnya. Ketika dia membuka pintu nampaklah seorang pria berbadan tegap yang nampak gagah dengan topi hitam dan topeng ala Zorro, berdiri di hadapannya. Pria itu membawa seikat bunga cantik di tangannya. Pria itu kemudian sembari setengah berlutut memberikan bunga itu kepada Kanya dengan perlahan penuh kelembutan. Bulan purnama menjadi saksi ketika pria itu berkata, "Kulihat rembulan di wajahmu. Bersinar lembut, menerangi hatiku. Menghangatkan seluruh jiwaku yang dingin membeku karena persimpangan waktu. Maukah engkau menjadi permaisuriku?" Kanya betul-betul merasa menjadi wanita paling bahagia dan beruntung di seluruh dunia. Sayang semua itu hanya mimpi.

Kanya kemudian menatapku dengan pandangan yang serasa amat tajam menguliti isi hatiku. "Aku tak butuh pangeran berkuda menjemputku. Cukup ada satu satu lelaki yang bertanggung jawab atas hidupku dan menerimaku apa adanya,” kata Kanya kemudian membuat hatiku perih. Apakah aku dianggapnya kurang bertanggung jawab selama ini? Dia kemudian mengatakan bahwa yang diinginkan adalah lelaki yang dapat menunjukkan kelelakiannya dengan cara bijak, tulus dan penuh cinta. Untuk lelaki yang demikian, itulah yang dianggapnya lelaki yang sempurna, dia akan lupa pada penampilan dan kekurangannya. Kata-kata Kanya itu bagai badai salju yang langsung membekukanku tanpa ampun! Aku jadi merasa amat bersalah karena selama ini kurang gigih memperjuangkan cintaku kepadanya. Namun dengan berbagai masalah yang terus menerpa, yang tidak merestui hubunganku dengannya, malah membuatku kuat dan tahu siapa yang harus kupilih.

Aku mengecup lembut kening Kanya. Dalam hati aku berjanji ingin menjadi  sosok sang pangeran dalam mimpi indahnya. Sosok yang 'gentle' namun lembut dan romantis. “Don, kamu nggak ke kantor,” Jenny telah berdiri di belakangku mengingatkanku. Dan kesempatan ini kugunakan sekaligus untuk mengabarkan kepergian Pakde Marto. Aku akan kembali ke rumah sakit setelah itu. “Salam buat Joana ya,” kata Kanya tanpa ekspresi tapi justru aku mendengarnya bagi pukulan telak di ulu hatiku.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        

Tegal, 4 Maret 2018