Sabtu, 15 September 2018

KELUARGA SHANIA (41)

#pentigraf_anak_lepas
KELUARGA SHANIA (41)
*Papa Jangan Ngebut Ya…
Oleh Agust Wahyu

Libur akhir pekan biasanya diisi Shania bersama adik, kakak, mama, dan papanya dengan makan malam bersama di luar, mungkin di mall atau tempat-tempat lain yang belum pernah mereka kunjungi. Tapi malam Minggu kali ini, papanya mengajak mereka untuk ke Puncak, menghadiri pesta emas perkawinan pimpinan perusahaannya. Sejak papanya merencanakan hal itu, Shania yang paling bersemangat. Apalagi Shania diizinkan untuk mengajak Keyra sahabat karibnya. Tapi sejak pulang sekolah tadi, semangat Shania sama sekali tak tampak, entah hilang ke mana? Wajahnya seakan ditekuk, makan siang yang biasanya diselingi dengan celotehannya, kini sepi. Apa karena Keyra membatalkan keikutannya?

“Mama, kita pulang ke Jakarta besok pagi kan?” tanya Shania tiba-tiba. Mamanya merasa heran, putri tunggalnya kali tidak bersemangat. Padahal biasanya dia paling semangat dan tak mau cepat-cepat pulang. Setelah didesak mamanya kenapa, Shania baru bercerita bahwa dia ingin ikut mengantarkan Lyan ke peristirahatan terakhir. Lyan pernah menjadi teman sekelasnya ketika di kelas 1 dan 2. Walau mereka tak sekelas lagi, Shania masih sering bermain bersamanya. Tiba-tiba tadi di sekolah, diberitakan bila Lyan telah dipanggil Yang Kuasa dan disemayamkan di sebuah rumah duka hingga esok siang. Kemudian akan dibawa ke sebuah pemakaman di Karawang. Dan Shania tak ingin kehilangan kesempatan buat menatap wajah temannya itu untuk terakhir kali.

“Pa, boleh nggak Shania nanti duduk di depan?” tanya Shania memecah keheningan di dalam mobil. Papanya yang sedang mengarahkan mobilnya menuju rest area KM 34 ke arah Bogor, tak urung melirik pada putri cantiknya di dalam mobil, sebelum mengiyakan permintaannya. Jalan tol Jagorawi saat akhir pecan, cukup ramai sehingga kendaraan tak mungkin dipacu lebih cepat. Perjalanan terasa sangat membosankan, tetapi Shania berusaha untuk mengingatkan dan menghibur papanya tidak mengantuk, agar selalu berhati-hati dan “Papa, jangan ngebut ya!” Dia ingat cerita Ibu Maryati, wali kelasnya, yang mengatakan bahwa Lyan meninggal karena kecelakaan. Pada akhir pekan minggu lalu, papanya terlalu keburu-buru saat mengendarai kendaraan. Ada truk yang membawa tanah berjalan lambat, dan berusaha didahuluinya tetapi tak melihat bus antar kota yang sedang melaju kencang dari arah berlawanan. Kecelakaan tak terhindarkan, Lyan terluka di kepala karena benturan dan menghembuskan napas setelah beberapa hari di rumah sakit.

Kampung Sawah, 15 September 2018
#pentigraf_aw
#pentigrafanak
#keluargashania

Penulis yang sudah berpartisipasi:
Agust Wahyu, Arie Yani, Ypb Wiratmoko, Albertha Tirta, Merry Srifatmadewi. Siu Hong-Irene Tan, Dewi Mudatama, Yosep Yuniarto, Stella Christiani Ekaputri Widjaja, Jenny Seputro, Waty Sumiati Halim, Maria Miguel, Agusanna Ernest, Kriswo Rini, Camelia Septiyati Koto

Catatan:
- Pentigraf Anak Lepas yang bercerita tentang kehidupan Shania, siswa kelas V SD, di rumahnya, sekolah, atau lingkungannya.
- Shania memiliki satu kakak laki-laki dan satu adik perempuan.
- Anda yang berminat dapat bergabung dengan menuliskan pentigrafnyanya lalu mengirimkannya lewat inboks ke Agust Wahyu.
- Pentigraf diperuntukkan untuk anak usia sekolah dasar tentunya dengan pesan-pesan positif yang mudah dicerna oleh anak-anak.
- Pentigraf Anak Keluarga Shania selengkapnya dapat dilihat di https://anggrek-kuning.blogspot.com/
Mari kita menambah dan memperkaya bacaan buat anak-anak Indonesia

Salam Literasi

Tidak ada komentar: