Rabu, 30 Mei 2018

SEMBURAT MERAH JINGGA (81)

#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (81)
*Mimpi-mimpi Joana
Oleh Jenny Seputro

Jakarta macet seperti biasa. AC mobil menderu-deru bersaing dengan panasnya udara di luar. Joana duduk di sampingku sambil sesekali menghela napas berat. Sejak kujemput dari rumah bude Mirna¸ dia banyak diam. Kami sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Dulu saat awal kami masih bersama, aku sering menggenggam tangannya saat sedang macet begini. Lama kelamaan Joana lebih senang main di gawainya daripada pegang-pegangan tangan denganku. Setelah lebih dari setengah jam, akhirnya kami sampai di depot sate kambing langgananku. "Wah, bagaimana kau tahu aku paling suka sate kambing Don?" tanya Joana dengan senyum merekah. Setelah itu dia tersipu menyadari ketololan pertanyaannya. Kukatakan padanya kalau dulu kami sering sekali makan berdua di sini. Sampai suatu hari Joana merasa tempat ini tidak level dengan dirinya dan memilih pergi ke restoran-restoran berkelas.

Sambil makan, Joana menceritakan mimpi-mimpi yang sering dialaminya akhir-akhir ini. Kurasa memang ingatannya sudah mengalami kemajuan. Beberapa dari ceritanya kutahu adalah kisah masa lalunya. Kuceritakan banyak hal yang kutahu tentang dirinya, tentang diriku, dan tentang kami. Walau aku tak lagi menyimpan perasaan khusus untuk Joana, bernostalgia seperti ini sedikit banyak mengguncang perasaanku. Apalagi saat kuceritakan padanya bagaimana dia meninggalkanku demi Jo, karena Jo punya segalanya lebih daripadaku. Joana menatapku seolah aku sedang menceritakan sebuah kisah horor, tak percaya dirinya mampu melakukan hal seperti itu. Setelah selesai makan, kuajak dia pergi ke sebuah taman. Itu juga tempat yang sering kami kunjungi di awal-awal kami berpacaran.

Kami duduk di salah satu kursi di tengah taman, seperti dulu. Hanya bedanya sekarang Joana tidak menyandarkan kepalanya di bahuku, dan lenganku juga tidak melingkar di pinggangnya. Setelah mendengar semua ceritaku, Joana menatapku sedih. Dengan suara bergetar, dia bilang betapa beruntungnya orang yang menjadi kekasihku, dan betapa bodoh dirinya telah meninggalkanku, apapun alasannya. "Tak ada gunanya aku menyesal sekarang ya Don," katanya pelan, "tapi aku rela kau bersama Kanya, asal kau bahagia." Aku tahu Joana bersungguh-sungguh. Aku melihat ketulusan dalam matanya yang berkaca-kaca. Kupeluk dirinya dalam haru, dan untuk pertama kalinya sejak kehadiran Jo, aku berdamai dengannya.

Perth, 29 Mei 2018

Senin, 28 Mei 2018

SEMBURAT MERAH JINGGA (80)

#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (80)
*Cerita dan Saran Dokter Edward
Oleh Yosep Yuniarto​

Keesokan malamnya aku mengajak Edward makan di sebuah cafe dekat tempat prakteknya. Setelah dengan tenang dan seksama mendengarkan semua penuturanku, akhirnya Edward mulai memberikan tanggapan. Menurut dia wanita korban pemerkosaan itu memang pada umumnya mengalami trauma yang cukup berat dan mendalam. Ada yang depresi, stress, gila bahkan sampai bunuh diri. Termasuk juga menjadi wanita 'frigid' yaitu tidak punya minat, gairah, respons untuk berhubungan seksual. Namun untuk kasus Kanya ini sedikit agak berbeda. Dia sudah bisa memaafkan, berdamai dengan orang yang pernah memperkosanya. Bahkan Kanya pernah jatuh cinta dan berpacaran dengan Jonathan. Jadi secara psikologis sepertinya tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan tentang trauma yang mungkin masih menghantui Kanya.

Wajah Edward mendadak berubah serius. Perlahan dia mulai menceritakan tentang kehidupan pernikahan kedua orang tuanya meski baginya hal ini amat rahasia. Dulu mama Edward dijodohkan paksa oleh kedua orang tuanya, meski sebetulnya dia sudah mempunyai kekasih yang amat mencintai dan dicintainya. Setelah papa Edward tahu kalau istrinya itu ternyata sudah menyerahkan kesuciannya kepada lelaki lain, dia menjadi amat kecewa dan memperlakukan mama Edward dengan semena-mena. Meski istrinya itu sudah berusaha membuktikan kesetiaannya, namun papa Edward tetap saja tidak percaya, terus menuduh dan mencurigainya. Kemudian mama Edward memberinya seorang bayi lelaki yang sehat, lucu dan semua orang bilang mirip sekali dengan papanya, tak ada yang dibuang! Namun papa Edward masih saja tetap terus mengungkit masalah kesucian istrinya, terutama di saat dia sedang marah atau bertengkar dengan istrinya. Kini Edward menatapku tajam. Dia berkata cukup mamanya saja yang pernah mengalami penderitaan lahir-batin dalam kehidupan pernikahannya. Jangan sampai hal ini menimpa wanita lain termasuk juga Kanya.

Kini bola berada sepenuhnya di tanganku. Apakah aku memang sudah betul-betul yakin bisa menerima Kanya apa adanya. Juga rela dan ikhlas mengabaikan keegoisan lelaki pada umumnya yang selalu ingin menjadi 'orang yang pertama'? Edward melanjutkan sarannya yang cukup menghentak bagiku. Jika kelak Kanya memang sudah resmi menjadi istriku, jangan pernah lagi, meski cuma sekali saja mengungkit kembali tentang masalah kesucian Kanya. Meski aku sedang emosi atau marah seperti apa pun juga. Karena hal itu ibarat sebuah palu yang dihantamkan ke kaca hati seorang wanita seperti Kanya! Aku manggut-manggut. Pertemuanku dengan Edward kali ini betul-betul amat berguna bagiku tentang kelanjutan hubunganku dengan Kanya. Terutama keputusanku untuk menjadikan Kanya sebagai istriku.

Tegal, 28 Mei 2018

Minggu, 27 Mei 2018

SEMBURAT MERAH JINGGA (79)

#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (79)
*Keikhlasan Kanya
Oleh Jenny Seputro Seputro

Serasa baru kemarin aku meninggalkan lorong-lorong ini. Tempat ini sudah serasa rumah keduaku saat Kanya terbaring koma beberapa bulan yang lalu. Sekarang lagi-lagi aku duduk di samping ranjang, menatap Kanya yang terbaring lemah dengan selang infus di tangannya. Dokter khawatir Kanya terkena demam berdarah, tapi kami sudah mengambil langkah yang tepat dengan membawanya ke rumah sakit. Tak lama kemudian Kanya terbangun. Dia tersenyum saat melihatku. Langsung kupeluk dia, dan kucium keningnya yang panas. Segala amarah di antara kami menguap entah ke mana. Kami sama-sama minta maaf, sadar kalau ikatan hati ini jauh lebih kuat dan berharga daripada sekedar ego, kecemburuan dan harga diri. Jenny juga terlihat lega, dia pamit untuk makan di kantin, sepertinya sejak pagi dia belum makan.

Kami mengobrol tentang banyak hal. Sampai akhirnya aku cerita tentang Joana. Tentang ibu yang memintaku menemui Joana untuk membantunya mengingat masa lalu, dan mudah-mudahan bisa mengembalikan memorinya yang hilang. "Pergilah Mas, kau harus membantunya. Cuma kau yang bisa, karena memorinya yang paling kuat adalah denganmu." Aku tertawa, kutanyakan bagaimana dia tahu itu. Kanya balas tertawa, dia bilang karena itulah yang terjadi dengan dirinya. Aku tersenyum penuh haru, ada ketulusan di dalam matanya. Kukatakan kalau aku akan menemui Joana nanti kalau Kanya sudah sembuh, dan kami bisa menemuinya bersama-sama. Tapi Kanya menggeleng. Dia bilang itu tidak perlu, karena dia sepenuhnya percaya padaku. Lagipula Joana akan merasa tidak nyaman dengan kehadiran Kanya di tengah-tengah mereka. Bagaimana Kanya bisa bersikap begitu ikhlas, sedangkan saat dia mengunjungi Jo, aku hampir meledak dibakar cemburu?

Kanya cerita kalau ada kemungkinan Jo mendapatkan pengurangan hukuman karena berkelakuan baik selama dalam tahanan. Aku merutuki pikiranku yang berharap kalau itu tidak terjadi. Setelah itu kuminta Kanya untuk istirahat. Kutatap wajahnya yang pucat namun terlihat damai, sambil kugenggam tangannya. Aku tidak mungkin mengajaknya ke psikolog, tapi ketakutan dalam hatiku masih ada. Tiba-tiba aku teringat Edward. Aku baru ingat jika sahabatku ini juga suka membaca banyak buku tentang psikologi. Siapa tahu dia bisa memberi saran, pandangan dan pendapatnya. Dan Kanya tidak perlu tahu tentang hal ini.
Perth, 27 Mei 2018


Sabtu, 26 Mei 2018

SEMBURAT MERAH JINGGA (78)

#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (78)
*Permenungan
Oleh Albertha Tirta

Sengaja selama tiga hari aku tidak menghubungi Kanya. Biar dia bisa menata emosinya dan aku juga berusaha menenteramkan hatiku. Keterbukaanku dengan bapak dan Kanya menimbulkan gejolak emosi yang tinggi. Sangat melelahkan jiwaku. Untung waktunya akhir pekan, aku tidak perlu ambil cuti untuk menenangkan diri, untuk menjauh dari hiruk-pikuk kota ini. Akhir pekan ini kucoba menepi ke pegunungan. Agar isi kepalaku bisa lumer menjadi dingin, untuk bisa berpikir lebih jernih. Kubuka kaleidoskop hubunganku dengan Kanya selama ini. Banyak riak-riak yang kami lalui bersama. Kami mampu melewati hari-hari yang berat bersama. Haruskah putus sampai disini? Disaat kami tinggal selangkah menjalin hubungan lebih serius? Kutelaah kembali hubungan Kanya dengan Jo.

Tiba-tiba aku merasa konyol sendiri. Bila Kanya masih trauma dan menyimpan dendam pada Jo, tentu ia tidak mau berurusan lagi dengannya. Tetapi selama ini Kanya baik-baik saja bertemu dengan Jo. Malah ia sangat berempati mengunjungi Jo selama di penjara. Masihkah aku meragukannya? Ah... tololnya diriku. Minggu sore, aku bulatkan tekad menemui Kanya. Aku tidak mau menunda masalah ini sampai berlarut-larut, agar tidak mengganggu pekerjaanku hari Senin. Aku akan menyampaikan semua yang aku rasakan, bahwa aku amat mempercayai keteguhan dan kebaikan hatinya. Kuketuk pintu rumahnya. Muncul wajah Jenny yang sembab bekas menangis. Kutanyakan keberadaan Kanya.

Ternyata sejak pagi Kanya demam tinggi. Sudah diberi obat tapi belum turun juga. Jenny ingin membawanya ke dokter tapi Kanya terlalu lemah. Jenny sudah berulang kali mencoba menghubungiku tapi aku tidak menjawabnya. Aku baru ingat kalau tadi pagi kumatikan suara gawaiku agar tidak mengganggu di perjalanan. Ternyata ada sembilan panggilan tak terjawab dari Jenny. Kuhampiri Kanya yang terbaring lemah. Tubuhnya terasa panas sekali. Saat itu Kanya mengigau, menyebut namaku! Ya Tuhan, semua ini salahku. Jenny bilang kalau sedari tadi dia terus memanggil-manggil aku, antara sadar dan tidak. "Kita harus membawanya ke rumah sakit," kataku, lalu kugendong Kanya ke mobil. Sementara Jenny mengepak beberapa baju untuk Kanya dan mengikutiku.

26 Mei 2018

SEMBURAT MERAH JINGGA (77)

#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (77)
Oleh Agust Wahyu

Untuk pertama kalinya aku tidak mengantarkan Kanya masuk, dan justru memacu mobilku pergi sebelum Kanya sendiri masuk ke dalam. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku semarah ini. Kepada Jo saat aku tahu dia memperkosa Kanya, aku memang sangat marah. Tapi saat ini aku tidak sekedar marah. Aku merasa sakit, sakit sekali. Aku mencintai Kanya apapun kondisinya, tapi sekarang aku sungguh tidak yakin kalau Kanya benar-benar mencintaiku. Aku langsung pulang ke rumah. Bapak yang sedang duduk santai di teras, menatap wajahku yang suntuk dengan bingung. Dia mengajakku duduk berbincang. Kuceritakan apa yang baru saja terjadi. Bapak bilang kalau ini memang masalah yang sensitif, dan aku harus bersikap bijak dan bukan termakan emosi. Kuturuti usul bapak untuk beristirahat menenangkan diri.

Keesokan paginya, perasaanku sudah membaik. Kuharap Kanyapun sudah tenang. Aku berencana untuk mengajaknya makan siang dan berdamai lagi dengannya. Kami hampir tidak pernah bertengkar, dan kalaupun terjadi, aku yakin tidak ada perkara yang tidak bisa kami selesaikan. Kemarin kami sama-sama emosi, dan bersikap kekanak-kanakan. Hari ini aku akan membuktikan padanya bahwa aku seorang laki-laki berprinsip yang siap melindunginya. Aku pergi ke kantor seperti biasa. Pukul sebelas siang, aku pergi membeli makanan kesukaan Kanya. Aku tiba di kantornya tepat saat jam makan siang. Dengan riang aku berjalan melewati lobby dan naik lift ke lantai tiga. Mbak Sari si resepsionis yang sudah sangat mengenalku menyambut dengan senyum. "Wah Mas Don, belum janjian ya? Kanya lagi tidak ada, tadi dia minta izin mau jenguk temannya di rutan."

Kugigit bibirku hingga terasa sakit. Kupaksakan sebuah senyum untuk Mbak Sari, dan aku langsung turun lagi. Kulempar kantong makanan ke dalam tempat sampah di lobby. Susah payah kuatur napasku. Kali ini Kanya benar-benar sudah keterlaluan. Aku tidak kembali lagi ke kantor, toh tidak mungkin aku bisa bekerja. Aku langsung pulang, dan mengunci diri di kamar. Saat makan malam, aku berusaha tampak biasa. Aku tidak ingin bapak dan ibu tahu apa yang terjadi denganku dan Kanya. "Don, tadi siang budemu telepon," kata ibu, "bude bilang ingatan Joana sudah sedikit mengalami kemajuan. Beberapa kejadian masa lalu samar-samar mulai bisa diingatnya. Apa kamu bisa bantu dia menggali kembali memorinya, mungkin dengan mengajaknya pergi makan dan mengobrol?" Aku mengiyakan tanpa berpikir lagi.

Kampung Sawah 25 Mei 2018

Jumat, 25 Mei 2018

SEMBURAT MERAH JINGGA (76)


#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (76)
*Kembali Bimbang
Oleh Agust Wahyu

"Ke psikolog?" Kanya mengernyitkan keningnya, "untuk apa? Apa tidak ke psikiater sekalian?!" Suara Kanya meninggi. Aku jadi kikuk sendiri. Dengan susah payah kujelaskan maksudku, untuk menghindari kemungkinan trauma setelah apa yang dialaminya. Kanya meletakkan sendok dan garpunya, sepertinya aku telah membasmi selera makannya. Kanya bertanya kenapa tiba-tiba aku punya ide seperti itu. Karena gugup, entah apa yang kukatakan sampai akhirnya Kanya tahu kalau ide itu berasal dari bapak. Ternyata itu membuatnya sangat tersinggung. Seperti yang sempat kutakutkan, dia merasa orang tuaku menganggapnya punya kelainan jiwa. Aku sungguh tidak ingin berdebat di sini, karena kalau sudah marah, Kanya suka lupa keadaan sekeliling. Karena sudah sama-sama tidak bisa makan lagi, aku segera membayar dan kuajak Kanya kembali ke mobil.

Aku berusaha minta maaf dan bilang itu hanya sebuah usul dan dia tidak harus melakukannya. Sekarang dia diam seribu bahasa.Sepanjang jalan pulang aku berusaha menenangkannya. Aku tak mengerti, kenapa ide begitu saja bisa membuatnya semarah itu? Di mana Kanya yang manis, lemah lembut dan penuh pengertian? Aku jarang melihat Kanya marah. Tapi akhir-akhir ini sepertinya dia jadi sensitif. Mungkin karena dia juga lelah dengan semua yang terjadi. Siapa yang tidak lelah pacaran penuh lika-liku begini? Mobil sudah terparkir di depan rumah Kanya. Dia masih juga mengunci bibirnya. Kuraih tangannya, tapi dia menariknya kembali. Aku jadi kesal. Kukatakan kalau ide itu juga demi kebaikannya. Kalau dia merasa tidak perlu ya sudah, kenapa harus marah begitu?

"Kenapa kau masih juga tidak percaya padaku Mas?" seru Kanya kesal, "setiap kali bapak, ibu atau bude mengatakan hal-hal buruk tentangku, kau selalu ragu dan bingung. Kenapa kau tidak pernah punya pendirian sendiri?" Aku menyahut kalau aku punya pendirian sendiri, aku ingin menikahinya. Kanya menjawab kalau diapun punya pilihan untuk menikahiku. Saat itulah kata-kata yang tidak seharusnya kukatakan tercetus tanpa sempat kutahan, kutanya apakah dia mau memilih Jo daripada aku. Mata Kanya membelalak. "Sepertinya kau yang perlu ke psikolog Mas, dan kalau kau terus berpikir seperti itu, mungkin lebih baik kalau kita tidak usah menikah," katanya, lalu langsung turun dan membanting pintu mobilku.

Kampung Sawah  24 Mei 2018


Rabu, 23 Mei 2018

SEMBURAT MERAH JINGGA (75)

#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (75)
*Penasaran
Oleh Merry Srifatmadewi

Penasaran hati ibu merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Ibu tahu benar bagaimana cara mengorek informasi. Ibu menemani bapak sambil nonton acara kesayangan, tidak lupa menyuapi suaminya dengan cemilan. Hati siapa yang tidak akan senang, bukan? Hingga ibu merasa saatnya tepat. "Pak, tadi Donny ada cerita apa?" Tanpa prasangka berlebihan, bapak mengalir cerita tentang pertanyaan Donny. Sengaja ibu tidak bertanya lebih lanjut supaya bapak tidak merasa sedang dinvestigasi. Dan ibu mengalihkan cerita lain sambil menemani bapak nonton seakan tidak ada apa-apa. Bagi perempuan yang sudah pernah diperkosa bisa meninggalkan traumatis. Ibu tidak ingin Don jadi bayangan Jo yang membuat Kanya ketakutan setelah nanti menikah.

Keesokan harinya aku sudah memikirkan masak-masak untuk menanyai Kanya. Nanti sepulang kantor, aku ingin mengajaknya berjalan-jalan. Kususun rencana baik-baik. Sebelum makan, aku mengajaknya berkeliling melihat kolam ikan koi dan taman yang ada di mall ini. Kugenggam tangannya mesra. Dan kami duduk menghirup wangi rerumputan hijau. Sudah lama tidak merasakan anugerah tersebut. Setiap hari hanya berpacu dengan kebisingan dan tumpukan pekerjaan. Sesekali kepala Kanya menyandar ke bahuku. Kubelai anak rambutnya. Hingga tiba waktunya aku bertanya hal yang krusial.

"Kanya...," Lidahku tercekat untuk mengucapkan pertanyaan itu. "Aku sudah lapar, yuk kita makan." Kuberjalan sambil memeluk pinggang Kanya. Susah hatiku untuk menanyainya walau kata sudah siap di ujung lidah. Kupilih makan barbeque yang terkenal dan bersyukur hari ini tidak terlalu ramai tempat makannya. Aku tidak mau tegang atau stress untuk menanyainya. Suasana hati sedang baik, untuk apa aku mengacaukannya. Kami tertawa, kami bercanda, kami mengobrol dan tanpa sadar akhirnya aku kelepasan bicara, "Apa tak sebaiknya kita ke psikolog dulu?". Kanya terkejut tidak pernah menyangka pertanyaanku dan tidak menyangka pertanyaannya sungguh tendensius. Akupun kaget bisa-bisanya aku berani mengeluarkan pertanyaan itu.

Jakarta, 21 Mei 2018.
#pentigrafSF

Selasa, 22 Mei 2018

SEMBURAT MERAH JINGGA (74)

#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (74)
*Puspa Indah Taman Hati
Oleh: Merry Srifatmadewi

"Di bukit indah berbunga. Kau mengajak aku ke sana.
Memandang alam sekitarnya... " Kanya mendendangkan secuil lagu Uci Bing Slamet sambil melingkarkan kedua tangannya ke dadaku. Aku tersenyum kecil memandangi taman kecil depan teras ini sambil membayangkan bukit berbunga bersama Kanya. Romantis juga rasanya. "Lho, kok nyanyinya berhenti?" tanyaku. Kanya hanya tertawa kecil. Aku memandanginya dalam-dalam. Tampak kejujuran dan kepolosan. Ingin aku percaya sepenuhnya kepada Kanya. Apa yang terjadi pada diriku ini ya? Cemburukah aku pada Jo? Begitu banyak kegamangan yang terjadi dalam hidupku. Apakah terlalu memikirkan perasaan orang lain terutama omongan keluarga supaya tidak dicap 'anak durhaka' sehingga menyebabkan aku ragu untuk mengambil inisiatif?

"Mas, kok malah melamun?" tanya Kanya. Aku ingin hubunganku dengan Kanya baik-baik saja. Hanya terasa tetap ada ganjalan di hati. Pikiranku melanglang jauh memikirkan malam pertama kami nantinya. Kanya yang pernah diperkosa Jo akankah menimbulkan masalah bila menikah denganku? Traumakah dia? Enakkah menanyakan Kanya saat ini? Oh...aku tidak tahu. Tolong aku ya, Tuhan.

Malam hari aku berbincang dengan bapak. Saran bapak mengajak Kanya ke psikolog. "Bagaimana kalau Kanya marah karena dianggap punya kelainan jiwa, pak?" tanyaku. "Lebih baik coba tanyakan dulu. Belum tentu dia marah," nasihat bapak dengan bijak dan menepuk-nepuk bahuku. Ibu yang melihat kami berbincang ikut nimbrung dan menanyakan bahas tentang apa. Aku memilih diam untuk menceritakan hal tersebut dan mengalihkan cerita yang lain. Tak lama kemudian aku memilih masuk ke dalam kamar.

Jakarta, 20 Mei 2018.
#pentigrafSF

SEMBURAT MERAH JINGGA (73)

#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (73)
*Cemburu
Oleh Jenny Seputro

Sudah lebih dari setengah jam aku duduk terpaku di belakang kemudi, dalam mobil yang sudah terparkir di depan rumah Kanya. Apa yang dikatakan Edward ada benarnya. Apakah memang aku ingin memulai bahtera rumah tanggaku dengan sebuah kebohongan? Aku ingin Kanya bersamaku karena memang dia menginginkannya, dan bukannya terpaksa karena terlanjur menikah denganku. Lagipula seharusnya aku berbesar hati, kalau memang Kanya lebih memilih Jo, apalah artinya bila kupaksa dia menikahiku? Bukankah aku menginginkan kebahagiaannya? Selama aku belum mengatakannya pada Kanya, aku tidak akan bisa tenang, karena nuraniku akan selalu berontak. Kutarik napas panjang. Sudah bulat tekadku, aku siap menerima apapun reaksi Kanya.

Seperti biasa Kanya dan Jenny menyambutku dengan ceria. Makan malam sudah tersedia di meja. Sudah agak dingin juga karena aku terlambat datang. Aku berusaha menutupi kegalauanku dengan menceritakan beberapa kisah lucu di kantor. Melihat Kanya tertawa riang seperti itu, aku semakin terombang-ambing. Aku sungguh tak ingin kehilangan dirinya. Setelah selesai makan, kuajak Kanya bicara berdua di teras. Kembali aku berdebar-debar. Kanya sepertinya merasakan kegelisahanku. Digenggamnya tanganku yang dingin. "Kanya, ada sesuatu yang kau harus tahu," kataku sebelum keraguan kembali menguasaiku, "Jo tidak pernah memperkosa Joana, semua itu hanya sandiwara Joana. Jo tidak bersalah, Kanya."

Untuk beberapa saat Kanya menatapku tak berkedip, seolah berusaha mencerna kata-kataku. Lalu dia tanya untuk apa kukatakan semua itu. Dengan terus terang kukatakan kekhawatiranku, ketakutanku, dan juga niatku untuk memberinya kesempatan memilih dengan obyektif. "Mas," Kanya menatap mataku dalam, "bersalah atau tidak, Jo adalah masa lalu. Aku ingin menikah denganmu, dan hidup bahagia bersamamu." Kulihat senyum merekah di bibirnya, sebelum kutarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Seharusnya kata-kata itu membuat hatiku hangat, dan mengangkat beban yang begitu berat dari dadaku. Tapi entah mengapa ada yang terasa berbeda. Kuharap itu hanya perasaanku saja.


Pert, 20 Mei 2018

Minggu, 20 Mei 2018

SEMBURAT MERAH JINGGA (72)

#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (72)
*Dokter Edward
Oleh Jenny Seputro

Setelah lebih dari tiga tahun tak bertukar kabar, aku menelepon Edward. Sahabat karibku semasa sekolah itu dengan gembira menerima ajakan makan siangku. Ah, kalau ingat dulu kami begitu akrab tak terpisahkan. Belakangan ini pekerjaan dan kesibukan masing-masing telah menjauhkan kami. Aku sebagai pengusaha, dan Edward sebagai dokter. Ya, dokter pribadi keluarga Bude Mirna, yang tentu saja menangani segala urusan medis Joana. Kami makan di depot yang dulu sering kami datangi. Tertawa tentang masa lalu, serasa tahun-tahun yang hilang tak pernah ada. Kami bertukar banyak sekali cerita. Edward juga berniat menikahi kekasihnya tahun depan. Kisah mereka mulus, tidak seperti kisahku yang membuat alis Edward naik turun mendengarnya. Sedari dulu kami tidak saling menyimpan rahasia. Kuceritakan semua masalahku padanya. Kutanya padanya tentang Joana, tentang kebenaran cerita bude bahwa Joana masih perawan.


"Maafkan aku Don," kata Edward, "aku ingin sekali membantumu, tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu. Itu melanggar kode etikku sebagai seorang dokter." Aku jelas kecewa, hilang sudah satu-satunya kesempatanku mencari tahu kebenarannya. Tapi aku tidak bisa menyalahkan Edward, karena akupun akan melakukan hal yang sama kalau aku ada di posisinya. Malamnya aku kembali tidak bisa tidur. Hampir pukul dua malam gawaiku berbunyi. Ada pesan dari Edward. Dia mengajakku bertemu di tempat prakteknya besok malam selepas jam praktek, di daerah situ banyak makanan enak katanya. Aneh sekali, kalau hanya mengajak makan malam, kenapa dia menghubungiku tengah malam begini? Apalagi kami baru saja bertemu tadi siang. Tapi aku mengenal baik sahabatku ini. Aku harus pergi menemuinya.

Pukul setengah sembilan malam, aku duduk di ruang tunggu praktek Edward, menunggu pasien terakhir keluar dari ruang periksa. Sudah tidak ada orang lain di situ. Tak lama si pasien keluar, Edward tersenyum melihatku. Dia menyuruhku masuk. Dia menyebutkan berbagai jenis makanan yang ada di sekitar situ dan menyuruhku memilih. Lalu dia bilang mau ganti baju dan menyuruhku menunggu. Begitu pintu tertutup, mataku langsung menyapu meja kerjanya. Dugaanku benar, map dengan nama Joana tergeletak di situ. Langsung kuraih map itu dan kupelajari isinya. Untung aku sudah terbiasa membaca kilat dokumen-dokumen. Jantungku berdebar begitu kencang saat aku menemukan apa yang kucari. "Ayo kita berangkat," suara Edward mengejutkanku. Dengan perasaan tak karuan, aku mengikutinya keluar dari tempat praktek.

Perth, 20 Mei 1018

Ikuti Semburat Merah Jingga selanjutnya esok hari...
Catatan:
- Serial ini terbuka bagi siapa saja yang berminat untuk melanjutkannya.
- Bila ingin melanjutkan dapat mengirimkannya lewat inbox ke Agust Wahyu
- Beberapa penulis yang telah berpartisipasi adalah: Agust Wahyu, Camelia Septiyati Koto, Merry Srifatmadewi, Siu Hong-Irene Tan, Ypb Wiratmoko, Budi Hantara, Veronica Dian Anita, Albertha Tirta, Agnes Kinasih, Murnierida Pram, Jenny Seputro, Waty Sumiati Halim, Yosep Yuniarto, Stella Christiani Ekaputri Widjaja

Sabtu, 19 Mei 2018

SEMBURAT MERAH JINGGA (71)

#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (71)
*Teror Bude
Oleh: Siu Hong-Irene Tan

(Bagi yang ketinggalan episode sebelumnya dapat lihat di https://anggrek-kuning.blogspot.co.id/)

Semalaman aku tidak bisa tidur membaca pesan dari bude. Purnama yang menerobos lewat jendela kamar tak lagi menarik buatku. Masalah yang tak kunjung usai. Keterbukaan, memang solusi yang paling tepat. Tapi aku berencana menjelaskan semuanya kepada Kanya setelah bulan madu usai. Aku tak ingin Kanya berubah pikiran. Kanya tercipta untukku bukan untuk Jo.

Kubaca lagi pesan dari Bude dengan seksama. "Don, apa sudah kau sampaikan kepada Kanya, bahwa Joana adalah seorang gadis murni yang belum ternoda. Sandiwaranya saat itu hanyalah untuk mendapatkan hati Jo," demikian sepotong pesan Bude. Ini kunci utama pesan Bude, pesan-pesan lainnya hanyalah pemanis saja. Pesan yang disampaikan sebagai sebuah teror halus. Bila Kanya tahu realita yang sebenarnya, aku khawatir rasa empatinya akan menguat dan menjadikan benih cinta di hatinya kepada Jo tumbuh kembali. Bagaimanapun aku tidak mau mengambil resiko, sebaiknya kuceritakan nanti.

Sekarang aku harus menyiapkan strategi untuk menghadapi Bude. Agaknya Bude memiliki rencana untuk mengulur pertunanganku dengan cara membuka rahasia ini. Beberapa hal yang kurasakan agak ganjil dari ceritanya, akan kuselidiki lebih dahulu. Tinggal bagaimana caranya membuktikan bahwa Joana benar-benar seorang gadis murni? Hhmmm ... akan kucoba menghubungi Edward!

Bogor, 16 Mei 2018

Ikuti Semburat Merah Jingga selanjutnya esok hari...
Catatan:
- Serial ini terbuka bagi siapa saja yang berminat untuk melanjutkannya.
- Bila ingin melanjutkan dapat mengirimkannya lewat inbox ke Agust Wahyu
- Beberapa penulis yang telah berpartisipasi adalah: Agust Wahyu, Camelia Septiyati Koto, Merry Srifatmadewi, Siu Hong-Irene Tan, Ypb Wiratmoko, Budi Hantara, Veronica Dian Anita, Albertha Tirta, Agnes Kinasih, Murnierida Pram, Jenny Seputro, Waty Sumiati Halim, Yosep Yuniarto, Stella Christiani Ekaputri Widjaja

Jumat, 18 Mei 2018

SEMBURAT MERAH JINGGA (70)

#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (70)
*Misteri Jenny
Oleh Siu Hong-Irene Tan

(Bagi yang ketinggalan episode sebelumnya dapat lihat di https://anggrek-kuning.blogspot.co.id/)

Tubuhku terasa segar setelah mandi. Hari yang cukup melelahkan, mulai dari pendekatan halus kepada Jenny sampai dengan menyampaikan berita kepada Bude. Kini saatnya membaringkan tubuhku sambil mendengar musik. Suara Diana Krall terdengar mengalun lembut.
_"Don't go changing to try and please me_
_You never let me down before_
_Don't imagine you're too familiar_
_And I don't see you anymore_
_I wouldn't leave you in times of trouble_
_We never could have come this far_
_I took the good times; I'll take the bad times_
_I'll take you just the way you are"_
... 🎶

Sambil menunggu kantuk datang, aku mencoba menyusun rencana sebuah liburan pelangkah untuk Jenny. Tadi sepulang dari rumah Bude, aku sempat menyinggung soal 'misteri Jenny', sedikit mengorek cerita dari Kanya. Menurutnya, Jenny sangat tertutup dan sangat menjaga rahasia soal kegagalannya melangsungkan pesta pernikahan. "Dua minggu menjelang hari pernikahan Jenny yang telah direncanakan jauh-jauh hari di Berlin. Tiba-tiba aku menerima pesan darinya untuk menjemput di airport Soekarno Hatta esok malam. Tanpa penjelasan lebih lanjut," cerita Kanya mengalir dengan terbata-bata. Aku sebenarnya cukup penasaran, tapi kutahan diri untuk tidak bertanya lebih lanjut. Kulihat Kanya juga enggan bercerita banyak tentang hal ini. Secara halus disarankannnya aku untuk mendengar keseluruhan cerita secara langsung dari Jenny.

Lampu notifikasi di gawaiku menyala. Kulihat pesan yang masuk, dari Bude. Aku sedikit enggan membacanya. Aku benar-benar ingin beristirahat. Pesan masuk terus menerus, sepertinya ada yang sangat serius. Akhirnya dengan sangat terpaksa, kubaca juga pesan dari Bude. Seketika mataku langsung terbelalak, jantungku berdebar sangat kencang. Gawaiku pun terjatuh.

Bogor, 16 Mei 2018

Ikuti Semburat Merah Jingga selanjutnya esok hari...
Catatan:
- Serial ini terbuka bagi siapa saja yang berminat untuk melanjutkannya.
- Bila ingin melanjutkan dapat mengirimkannya lewat inbox ke Agust Wahyu
- Beberapa penulis yang telah berpartisipasi adalah: Agust Wahyu, Camelia Septiyati Koto, Merry Srifatmadewi, Siu Hong-Irene Tan, Ypb Wiratmoko, Budi Hantara, Veronica Dian Anita, Albertha Tirta, Agnes Kinasih, Murnierida Pram, Jenny Seputro, Waty Sumiati Halim, Yosep Yuniarto, Stella Christiani Ekaputri Widjaja

Kamis, 17 Mei 2018

SEMBURAT MERAH JINGGA (69)

#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (69)
*What's Next?
Oleh: Merry Srifatmadewi

(Bagi yang ketinggalan episode sebelumnya dapat lihat di https://anggrek-kuning.blogspot.co.id/)

Baru memasuki pintu rumah, aku tak sabar untuk menceritakan pada ibu semua yang kualami bersama dengan Kanya saat berjumpa dengan Jenny. "Dia memang bagai malaikat. Berbahagialah Kanya sebagai adiknya ya," ibu langsung menanggapinya dengan santai. "Dan aku juga boleh bahagia jadi bakal adik iparnya kan, Bu?" kataku langsung menyahut. Bapak yang sedang duduk menonton telivisi tak jauh dari kami, sempat menoleh mendengar pembicaraanku dengan ibu yang begtu berisik. Dan aku sempat melihat sekilas sinar mata bapak yang turut bahagia. Aku menarik napas panjang, sebagian beban di dadaku telah tertumpah. Kucium pipi ibu, dan menghambur masuk ke dalam. Satu-persatu benang kusut bisa diurai. Hadapi apa yang ada di depan daripada menghindar dalam ketakutan atau keraguan.

Malam itu aku dan Kanya pergi ke rumah Bude Mirna. Joana yang melayani kami, menyediakan kue dan minuman. Aku utarakan niat kedatangan kami pada Bude Mirna dan Joana bahwa kami akan bertunangan dalam waktu dekat. "Don, bagaimana menurut kamu keadaan Joana?" tanya Bude Mirna tanpa tedeng aling-aling yang membuatku agak kurang nyaman. Kutenangkan diri dan menjawab dengan senyuman manis tanpa kata sambil menggenggam tangan Kanya. Jawabanku bisa menjadi pedang bermata dua. Aku tidak ingin berlama-lama lagi di sana dan permisi pulang. Joana merasa tidak enak hati dengan suasana yang mendadak berubah itu dan mengantarkan kami ke tempat parkir. Kanya memilih diam selama di rumah Bude Mirna. Silence is golden. Lega sudah aku setelah menyampaikan.

"Sudah bertemu Bude Mirna, Don? Apa katanya? Apakah Bude minta pertunangannya diundur?" tanya ibu borongan. Aku terperanjat pertanyaan ibu yang terakhir. Berarti? Ibu sudah ada bicara dengan bude. Hmmm..., ibu ada bicara apalagi dengan bude ya? Aku hanya menceritakan bahwa bude menanyakanku bagaimana keadaan Joana. "Lalu, apa jawabmu?" tanya ibu penasaran. Aku sudah malas menanggapi ibu dan memilih masuk ke dalam kamar. Tinggal ibu melongo melihat kelakuanku.

Jakarta, 16 Mei 2018.
#pentigrafSF

Ikuti Semburat Merah Jingga selanjutnya esok hari...

Catatan:
- Serial ini terbuka bagi siapa saja yang berminat untuk melanjutkannya.
- Bila ingin melanjutkan dapat mengirimkannya lewat inbox ke Agust Wahyu
- Beberapa penulis yang telah berpartisipasi adalah: Agust Wahyu, Camelia Septiyati Koto, Merry Srifatmadewi, Siu Hong-Irene Tan, Ypb Wiratmoko, Budi Hantara, Veronica Dian Anita, Albertha Tirta, Agnes Kinasih, Murnierida Pram, Jenny Seputro, Waty Sumiati Halim, Yosep Yuniarto, Stella Christiani Ekaputri Widjaja

Rabu, 16 Mei 2018

SEMBURAT MERAH JINGGA (68)


#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (68)
*Pelangkah buat Jenny
Oleh Agust Wahyu

(Bagi yang ketinggalan episode sebelumnya dapat lihat di https://anggrek-kuning.blogspot.co.id/)

Kanya telah sampaikan lebih dulu pada kakaknya, keinginan kami untuk bertemu dengannya. Hari ini kebetulan kami semua dapat liburan awal puasa, jadilah kami bisa kumpul bersama. Malahan Jenny menyiapkan semacam “takjil” , makanan ringan yang biasa digunakan untuk berbuka puasa ramadhan, berupa kolak, es buah dan kurma. “Ini mungkin bisa kalian gunakan,” belum aku mulai bicara pada tujuanku, dia telah memberikan contoh undangan dengan nuansa ungu muda yang cantik sekali. Pikirku, siapa pun yang menerimanya akan berpendapat sama. Kertasnya dari material pilihan yang menebarkan bau wangi aroma lavender. Selera Jenny memang bagus. Apa mungkin itu sebenarnya sudah disiapkan untuk dirinya?

Jenny tak kalah cantik dengan Kanya. Malah kalau aku harus jujur, dia lebih cantik. Pribadinya juga sangat baik dan perhatian, terutama terhadap adiknya. Tetapi aku belum pernah mendengarnya dekat dengan seorang pria pun. Kariernya juga cukup bagus. Dia juga tidak sombong dan pasti pintar seperti adiknya. Terbukti dengan dua gelar yang didapatnya dari sebuah negara di Eropa. Atau justru gelar-gelar itu menjadi pemberat langkahnya. Mungkin beberapa pria takut mendekatinya karena minder dengan gelar itu. Aku tak seharusnya menduga demikian. Aku harus membantunya. Apalagi capaiannya hingga jenjang S-2, sangat membantu Kanya untuk dapat memiliki apa saja yang diinginkannya, termasuk merencanakan pernikahannya denganku.

“Pelangkah?” Jenny agaknya terkejut ketika kutanyakan hal ini. Aku agak takut menyinggung hal ini. Mungkin tidak sesensitif itu bila kakak yang Kanya langkahi adalah lelaki. Calon kakak iparku itu menarik napas panjang dan matanya sedikit berkaca-kaca. Kemudian dia mengungkapkan bahwa tak pernah terlintas dalam pikirannya untuk meminta pelangkah dari adiknya sendiri yang sangat dikasihinya. Sungguh, dia bahagia melihat adik satu-satunya akan menikah. Dia memang sudah sangat siap menghadapi kenyataan ini, dan menginginkannya sejak lama. “Mungkin, Mbak Jenny mau liburan ke Eropa sekalian reuni dengan teman-teman,” kata Kanya akhirnya. Aku melihat matanya berbinar dan bahasa tubuhnya jadi ceria. Tapi aku yakin bukan karena biaya ke Eropa akan kami tanggung, karena dia memiliki tabungan yang pastinya lebih dari yang kami miliki. Lantas dia tiba-tiba mengambil sapu dan meletakkannnya di antara kedua pahanya bagai dalam cerita Siti Sirik saat dia mau terbang. Kami dipeluknya dan kemudian dituntunnya ke meja makan untuk mencicipi makanan dan minuman yang telah disiapkannya. Aku tak mungkin menolaknya, apalagi sebagai rasa hormat kepadanya, walau ada satu pertanyaan yang bermain-main di otakku, apa yang membuatnya tiba-tiba jadi ceria?

Kampung Sawah, 16 Mei 2018
Ikuti Semburat Merah Jingga selanjutnya esok hari...

Catatan:
- Serial ini terbuka bagi siapa saja yang berminat untuk melanjutkannya.
- Bila ingin melanjutkan dapat mengirimkannya lewat inbox ke Agust Wahyu
- Beberapa penulis yang telah berpartisipasi adalah: Agust Wahyu, Camelia Septiyati Koto, Merry Srifatmadewi, Siu Hong-Irene Tan, Ypb Wiratmoko, Budi Hantara, Veronica Dian Anita, Albertha Tirta, Agnes Kinasih, Murnierida Pram, Jenny Seputro, Waty Sumiati Halim, Yosep Yuniarto, Stella Christiani Ekaputri Widjaja

SEMBURAT MERAH JINGGA (67)

#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (67)
*Izin Jenny
Oleh Agust Wahyu

(Bagi yang ketinggalan episode sebelumnya dapat lihat di https://anggrek-kuning.blogspot.co.id/)

Dengan baju berlumuran darah korban yang aku tolong, aku masuk kembali ke dalam gereja. Keadaan sudah agak tenang, tinggal beberapa umat yang masih tertinggal dengan berbagai urusannya masing-masing, termasuk Kanya yang masih berlutut di depan Bunda Maria. Agaknya dia masih berdoa menenangkan diri. Masih tampak pipinya yang basah. Saat aku mendekat dia langsung menoleh. Kami berpelukan sejenak. Terharu karena Tuhan masih mengizinkan kami berkumpul bersama. Rencana pergi melihat pameran wedding batal. Aku langsung pulang setelah aku mengantar Kanya pulang, untuk segera mandi dan mengganti pakaian yang penuh noda.

Ayah dan ibu lega melihat kepulanganku. Aku berbincang sebentar. Setelah mandi, aku ceritakan peristiwa yang terjadi dengan detail. Ayah dan ibu yang sudah mendengar kabar bahwa ada kejadian di gereja, sehingga kebaktian minggu siang dan sore ditiadakan, akhirnya berdoa bersama di rumah. Mereka sempat panik karena tidak bisa menghubungiku juga tak bisa menghubungi Kanya. “Bagaimana dengan Jenny?” tanya ibu tiba-tiba. Aku merasa sedikit heran, kenapa ibu tiba-tiba bertanya tentangnya. Aku mendekat pada ibu yang sedang duduk di rumang tengah bersama bapak, menonton berita melalui televisi tentang situasi akhir Surabaya. “Apa kamu sudah pernah tanya dan minta izin Jenny kalau akan melamar Kanya?” Aku tersentak dan tersadar bahwa selama ini belum pernah membicarakan rencana kami secara langsung dengan Jenny.

Kanya dan Jenny merupakan dua saudara yang selama ini seakan tak terpisahkan. Apalagi kedua orang tua mereka telah tiada beberapa tahun lalu. Jenny seakan menjadi pelindung Kanya. Aku menyadari bagaimana kedua orang itu saling menyayangi dan membutuhkan. Dengan kehadiranku pastinya akan mempengaruhi kehidupan mereka. Secara tak langsung aku akan mengambil sebagian kehidupan Kanya bersama Jenny. Aku juga jadi tersadar dengan kata-kata ibu. “Apa sudah kalian pikirkan pelangkah bagi Jenny?” Hal yang memang belum kamu pikirkan. Aku harus secepatnya membicarakannya dengan Kanya dan kemudian minta izin pada Jenny? Lantas pikiranku mulai mereka-reka bagaimana reaksi calon kakak iparku yang penggemar biola itu nanti. “Don, kamu juga harus kasih tahu budemu dan Joana,” kata ibu yang tak hanya mengagetkan tapi bagai guntur yang menggelegar di pikiranku

#pentigraf_aw
Kampung Sawah, 15 Mei 2018

Ikuti Semburat Merah Jingga selanjutnya esok hari...

Catatan:
- Serial ini terbuka bagi siapa saja yang berminat untuk melanjutkannya.
- Bila ingin melanjutkan dapat mengirimkannya lewat inbox ke Agust Wahyu
- Beberapa penulis yang telah berpartisipasi adalah: Agust Wahyu, Camelia Septiyati Koto, Merry Srifatmadewi, Siu Hong-Irene Tan, Ypb Wiratmoko, Budi Hantara, Veronica Dian Anita, Albertha Tirta, Agnes Kinasih, Murnierida Pram, Jenny Seputro, Waty Sumiati Halim, Yosep Yuniarto, Stella Christiani Ekaputri Widjaja

Selasa, 15 Mei 2018

SEMBURAT MERAH JINGGA (66)


#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (66)
*Badai
Oleh: Merry Srifatmadewi


Kutunggu jawaban ibu. "Mengapa tidak, Don?" tanya ibu balik. Aku sempat terperangah tidak percaya akan kata yang ibu bicarakan baru saja. Apakah aku tidak salah dengar? Kuulangi lagi pertanyaannya dan ibu menjawab yang sama. Kuguncangkan bahu ibu untuk meyakinkan diriku dan kutatap matanya. Air mata ibu mengalir, ibu menangis terharu dan memelukku. Entah ibu sebenarnya menangis karena apa. Kasihan karena aku sudah waktunya menikah setelah cukup lama pacaran, kasihan karena kemungkinan aku tidak bisa punya keturunan, kasihan memikirkan aku tidak jadi menikah dengan Joana? Ah, apalah itu alasannya yang penting aku sudah mengantongi restu ibu.

Bude Mirna yang dihubungi ibu agak kecewa dengan keputusan yang dirasa cukup mendadak dan merasa kurang adil karena tidak menunggu kesembuhan amnesianya Joana. Bude Mirna minta waktunya diundur saja. Ibu menjelaskan bahwa aku ingin bertunangan dulu dan tidak langsung menikah. Hati Bude Mirna agak tenang dan berharap dalam hati agar cukup waktu Joana sadar kembali. Dan Bude Mirna ada beritahu ibu untuk menginformasikan kepadaku bahwa dia ingin membantu persiapan demi kelancaran acara pertunangan. Ibu berjanji akan memberitahukanku karena ibu tidak berani beritahu secara langsung apakah aku akan menerima uluran tangan Bude Mirna karena orangtuanya sendiri tidak diizinkan repot-repot untuk membantu. Beberapa hari kedepan Bude Mirna dan Joana akan datang ke rumah, alasannya kangen sudah lama tidak datang berkunjung.

Aku dan Kanya pergi beribadah bersama-sama ikut misa pertama di gereja dan hendak menemui romo yang kami pilih untuk memberkati pernikahan kami nantinya. Ayah dan ibu pergi kebaktian agak siang. Rencana kami selanjutnya dari gereja, kami mau melihat pakaian pengantin dan coba mencicip makanan di pameran wedding. Ketika misa hampir selesai, sebuah motor nyelonong masuk ke pintu utama gereja yang terbuka dan terjadilah ledakan bom pas di tengah ruang kebaktian yang masih berlangsung. Suara ledakan sangat keras dan memekakkan telinga. Suasana kacau-balau. Suara jerit tangisan meledak. Korban berjatuhan. Porak-poranda. Dua pengemudi motor langsung meninggal dengan bom bunuh diri. Umat yang panik berlari menyelamatkan diri dengan secepatnya keluar dari gereja untuk menghindari ledakan bom selanjutnya. Kanya yang mendengar suara ledakan dari toilet segera mencari-cari aku untuk memastikan keselamatan diriku yang tadinya masih berada di ruang kebaktian. Banyak umat yang menjadi korban, aku membantu sebisanya menolong korban. Aku tidak ingat akan Kanya, yang penting saat itu menyelamatkan korban. Kanya mencari diriku di antara korban yang tergeletak. Tak jua ditemukannya diriku. Gawainya tak bisa menghubungiku.

Jakarta, 13 Mei 2018.
#pentigrafSF

Ikuti Semburat Merah Jingga selanjutnya esok hari...

Catatan:
- Serial ini terbuka bagi siapa saja yang berminat untuk melanjutkannya.
- Bila ingin melanjutkan dapat mengirimkannya lewat inbox ke Agust Wahyu
- Beberapa penulis yang telah berpartisipasi adalah: Agust Wahyu, Camelia Septiyati Koto, Merry Srifatmadewii, Siu Hong-Irene Tan, Ypb Wiratmoko,Budi Hantara, Veronica Dian Anita, Albertha Tirta, Agnes Kinasih, Murnierida Pram, Jenny Seputro, Waty Sumiati Halim, Yosep Yuniarto, Stella Christiani Ekaputri Widjaja

Minggu, 13 Mei 2018

SEMBURAT MERAH JINGGA (65)


#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (65)
*Rencana Pertunangan
Oleh Camelia Septiyati Koto


(Bagi yang ketinggalan episode sebelumnya dapat lihat di https://anggrek-kuning.blogspot.co.id/)

Pertemuanku dengan Kanya makin intens. Kami membicarakan masa depan kami. Dan rencanaku memberitahu ibu dan bapak secepatnya untuk melamar Kanya. Aku sudah siap, tiada keraguan lagi untuk meminang kekasih pujaan hatiku yang lembut hatinya, sangat perhatian dan baik hatinya serta slalu memberi kebahagian padaku. Kami merencanakan untuk tunangan dulu supaya tidak terlalu terburu-buru. Banyak hal yang harus kami urus dan aku tidak mau membebani orangtuaku dengan urusan tetek-bengek yang akan merepotkan mereka walaupun mereka tidak akan merasa terbebani. Aku dan Kanya ingin membuat pesta pernikahan sesuai impian kami, dan untuk saat ini kami akan menemui Pastur yang nantinya akan memberkati pernikahan kami. Selain itu kami harus menjalani konseling pernikahan yang cukup lama memakan waktu.

"Apa yang kamu pikirkan sayang, pastinya kamu sudah tidak sabar menantikan hari pertunangkan kita kan." Kanya hanya tersipu malu saat aku mengatakan hal tersebut, seperti biasa rona mukanya akan berubah menjadi merah semu dan aku menikmati saat itu. Sebetulnya aku pun tak sabar menantikan hari tersebut. Sambil menunggu hari tersebut aku dan Kanya pun membicarakan konsep pernikahan yang akan kami lakukan nanti agar saat kami akan bertunangan kami sudah memiliki gambaran kira-kira kapan kami akan melaksanakan pernikahan.

Setelah mengantar Kanya seperti biasa, aku temui ibu dan bapak atas keinginan ku bertunangan dengan Kanya dahulu. "Apakah kamu benar-benar sudah memikirkannya baik-baik dan tidak akan menyesal atas keputusanmu, Don?" tanya bapak memastikan keputusanku. Aku menganggukkan kepala penuh keyakinan.  "Tapi untuk saat ini, aku dan Kanya ingin bertunangan dulu, Pak," Jawabku saat itu. Lalu kutatap wajah ibu yang hanya terdiam sejak awal.  "Bu, Don mohon doa restu untuk bertunangan dengan Kanya. Boleh ya... Bu?!"

--

Ikuti Semburat Merah Jingga selanjutnya esok hari...

Catatan:
- Serial ini terbuka bagi siapa saja yang berminat untuk melanjutkannya.
- Bila ingin melanjutkan dapat mengirimkannya lewat inbox ke Agust Wahyu
- Beberapa penulis yang telah berpartisipasi adalah: Agust Wahyu, Camelia Septiyati Koto, Merry Srifatmadewi, Siu Hong-Irene Tan, Ypb Wiratmoko, Budi Hantara, Veronica Dian Anita, Albertha Tirta, Agnes Kinasih, Murnierida Pram, Jenny Seputro, Waty Sumiati Halim, Yosep Yuniarto, Stella Christiani Ekaputri Widjaja

SEMBURAT MERAH JINGGA (64)


#Pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (64)
*Bagi Tuhan Tak Ada yang Mustahil
Oleh Waty Sumiati Halim


Kanya menatap langit-langit kamar. Bayangan hari-hari yang penuh kejutan menari-nari dalam benaknya. Berbagai perasaan menghimpit dadanya. Bahagia karena telah menemukan cinta sejatinya, Don. Bersyukur memiliki Jenny,  kakak yang sangat mengasihinya dan selalu ada untuknya. Lega  karena satu demi satu permasalahan dapat diatasi. Lelah karena energi hidupnya serasa terkuras begitu banyak peristiwa yang sangat mengejutkan terjadi tanpa permisi. Dan cemaaaaaas.... kalau jadi menikah dengan Don.. apakah aku dapat membahagiakan Don? Bagaimana kalau aku tak dapat memberinya keturunan?

"Kanya?" Suara Jenny membuyarkan lamunannya. Kanya menoleh dengan mata basah. Jenny bangkit dari tempat tidurnya lalu mendekati Kanya. Dengan lembut Jenny membelai rambut dan menyeka sudut mata adik yang sangat dikasihinya. Tangis Kanya pecah. Jenny segera memeluk  Kanya. Membiarkannya menumpahkan perasaan yang mengganggu hatinya. Dinantikannya dengan sabar hingga tangis Kanya mereda. Oh, Kanya sayang, aku mengerti perasaanmu, batin Jenny.

"Dokter Budiman sudah memberikan perawatan yang terbaik untukmu. Jangan putus harapan, Kanya,. Ayo tidur! Besok kamu mesti kerja lagi," bisik Jenny sambil menatap Kanya lekat. Kanya mengangguk. Masih jelas dalam ingatannya penjelasan dokter Budiman tentang  penyakitnya, Sindrom  Ovarium Polikistik.  Jika diperlukan, beliau dapat membantunya dengan memberinya obat yang dapat merangsang pematangan sel-sel telurnya. Walaupun sulit, masih ada harapan ia dapat memberi Don keturunan.  Kanya mengangguk sambil menarik nafas panjang. Spontan diraihnya kakak yang sangat mengasihinya. Sambil terisak Kanya mengeja isi hatinya, "Trimakasih ya, Jen, sudah mengingatkanku. Setelah rangkaian peristiwa yang terjadi...  Aku makin percaya, bagi Tuhan tak ada yang mustahil..."

Soreang, 1402018
--
Ikuti Semburat Merah Jingga selanjutnya esok hari...

Catatan:
- Serial ini terbuka bagi siapa saja yang berminat untuk melanjutkannya.
- Bila ingin melanjutkan dapat mengirimkannya lewat inbox ke Agust Wahyu

- Beberapa penulis yang telah berpartisipasi adalah: Agust Wahyu, Camelia Septiyati Koto, Merry Srifatmadewii, Siu Hong-Irene Tan, Ypb Wiratmoko,Budi Hantara, Veronica Dian Anita, Albertha Tirta, Agnes Kinasih, Murnierida Pram, Jenny Seputro, Waty Sumiati Halim, Yosep Yuniarto, Stella Christiani Ekaputri Widjaja


SEMBURAT MERAH JINGGA (63)

#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (63)
*CHAOS
Oleh: merry srifatmadewi

Keadaan rutan sangat kacau. Bermula masalah makanan yang tidak layak. Sehingga seorang napi marah besar dan merampas senjata polisi yang bertugas memberikan makanan. Teman napi lainnya menjerat leher petugas hingga pingsan dan mengambil kunci. Semua tahanan teriak-teriak dan menguasai rutan yang saat itu hanya ada sedikit petugas yang tidak bersiap-sedia di ruang penyimpanan senjata. Petugas mengira hal biasa bila napi teriak-teriak masalah ketidak puasan akan makanan. Napi ingin masakan keluarga atau jajanan di luar. Bosan makan masakan dari rutan terus-terusan walau makanannya gonta-ganti. Akhirnya 5 petugas dilukai hingga meninggal disiksa napi, karena petugas benar-benar tidak pernah menyangka akan terjadi peristiwa seperti hari ini. Masing-masing napi memegang senjata dan cukup banyak peluru serta persediaan amunisi. Mereka menyandera satu petugas untuk bernegosiasi dengan Pemerintah. Pihak kepolisian mengadakan konperensi pers dan disiarkan langsung ke televisi dan media sosial mengenai kerusuhan yang terjadi di rutan saat itu.

Aku dan Kanya yang sedang menikmati kebersamaan sambil nonton televisi terperangah. Bagaimana bisa petugas begitu lengahnya? Kanya terlihat cemas. Dan kulihat mulutnya komat-kamit berdoa. Kupegang tangannya, kuajak berdoa bersama. Semoga Jo dalam keadaan aman dan tidak terlibat dalam kasus menggemparkan itu. Memang cukup berat, minuman di rutan sehari hanya dapat jatah satu botol besar. Bila hari panas, udara tambah pengap ruang tahanan penuh napi berjejalan. Over kapasitas. Emosi napi mudah meledak. Kanya mengajakku berangkat ke rutan daripada hanya diam dan nonton televisi. Kutemani Kanya ke rutan. Sudah banyak sekali wartawan-wartawati di sana. Kanya menggandeng tanganku merangsek ke arah petugas tetapi kami tidak diberikan jawaban dan tidak boleh melewati batas yang telah ditentukan. Karena keadaan harus tunggu persuasif dulu. Saat ini keadaan masih belum terkendali.

Kanya bertanya pada wartawan di sana, bagaimana kronologisnya, siapa yang mendalangi atau tokoh utamanya. Apakah Jo terlibat dalam kasus itu? Wartawan hanya tahu satu pelaku utama saja, tidak tahu siapa saja nama napi lainnya. Kanya menarik nafas. Terpaksa aku dan Kanya menunggu informasi berikutnya. Deg deg deg. Dag dig dug. Keringat mengucur. Tangan Kanya basah antara cemas memikirkan apakah Jo terlibat. Kupegang tangannya Kanya dan memintanya berdoa dan tidak berpikiran yang negatif. Setenang-tenangnya tetap saja tidak bisa. Dari tadi Kanya melongok-longok mengintip ke arah petugas, mondar-mandir bolak-balik. Saking pusing kumelihatnya, kuminta Kanya duduk bersamaku di lantai bersama wartawan lainnya. Menunggu itu jawaban yang paling tepat walau mengesalkan tanpa kepastian. Kami menginap dan terus menunggu informasi. Jam 12 malam terdengar ledakan dari ruangan tahanan. Suasana sangat mencekam. Besok pagi setelah matahari terbit baru ketahuan semua tahanan akan dipindahkan termasuk Jo dan bersyukur Jo tidak terlibat dalam peristiwa itu.

Jakarta, 10 Mei 2018.
#pentigrafSF

---

Ikuti Semburat Merah Jingga selanjutnya esok hari...

Catatan:
- Serial ini terbuka bagi siapa saja yang berminat untuk melanjutkannya.
- Beberapa penulis yang telah berpartisipasi adalah: Agust Wahyu, Camelia Septiyati Koto, Merry Srifatmadewii, Siu Hong-Irene Tan, Ypb Wiratmoko,Budi Hantara, Veronica Dian Anita,

SEMBURAT MERAH JINGGA (62)


#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (62)
*Terharu
Oleh Merry Srifatmadewi

Kucoba hubungi Kanya. Semoga kemarahannya reda. Bersyukur dia mau mengangkat teleponnya walau nadanya agak kesal padaku. Kamipun janjian untuk ketemu. Kanya menceritakan semuanya padaku. Tak mau lagi ada hal yang disembunyikan. Begitu tegar dia bercerita sambil menahan geram dan tangis. Kupeluk dirinya dan dia menangis tersendu-sendu di bahuku. Kubiarkan dia melepas semua beban yang selama ini ditanggungnya. Ada kelegaan setelah dia mengungkap semua kebenaran.

Setelah tangisnya reda dan dirinya tenang kembali, kupegang bahunya dan mohon satu kejujuran lagi. Kutatap matanya dalam-dalam. Dengan berat hati aku harus menanyakan ganjalan hatiku. Siap atau tidak siap, harus berani tanggung resiko. "Kanya, apakah kau mencintai Jo dengan segenap hatimu dan dengan segenap cintamu?" Kanya menggelengkan kepalanya. Oh, betapa leganya hatiku mendengar jawaban Kanya walau hanya menggelengkan kepala. Itu sudah cukup bagiku. Siksaan pikiran yang ada di kepala langsung hilang. Betapa bodohnya selama ini diriku yang lari dari kenyataan, bukan menyepi untuk menenangkan diri malah membuat pikiran berlarut-larut dalam kekusutan. Coba aku berani dari awal untuk bicara. Terkadang cinta itu memang membutakan. Aku cemburu berat pada Jo.

Kuminta Kanya untuk tidak menjenguk Jo. Kanya menolak usulku. "Aku kasihan padanya. Kasihan Jo. Semua orang meninggalkannya. Harusnya Jo dibimbing ke jalan yang benar," kata Kanya sambil menangis. Daripada ribut lagi karena rasa cemburuku yang tak beralasan, kuizinkan Kanya pergi menjenguk Jo di rutan dengan satu syarat. Dia harus mengajakku. Lagi-lagi Kanya menolak usulku. Kanya minta aku mempercayainya. Aku menganggukkan kepala dan membenamkan kepala Kanya di bahuku sambil mengelus punggungnya. Aku percaya padamu Kanya, suara batinku.

Jakarta, 9 Mei 2018.
#pentigrafSF

SEMBURAT MERAH JINGGA (61)


#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (61)
Memori Bersama Kanya
Oleh Yosep Yuniarto

Aku memejamkan mata. Otakku langsung memutar beberapa memoriku bersama dengan Kanya. Saat berada di tepi danau aku bertanya mengapa dia yakin untuk menjadikan aku sebagai suami pendamping hidupnya? Katanya aku membuatnya bahagia. Segala kesedihannya hilang begitu melihatku. Dia merasa menemukan separuh jiwanya yang hilang ketika mendengar aku berbicara. Denganku, dia merasa mampu berjalan sejauh mungkin. Aku mengubah kehidupannya yang semula nampak gelap pekat menjadi terang benderang. Dia merasa aman, tenang, nyaman, senang bersama denganku. Aku terharu dan langsung mendekapnya erat. Aku berjanji akan membuatnya menjadi wanita yang paling beruntung dan bahagia di sisiku mulai saat itu hingga putaran waktu terhenti.

Aku dan Kanya juga pernah bercengkerama duduk di taman, memandang bulan purnama yang indah menghiasi langit. Tiba-tiba dia bertanya kepadaku, "Matahari dan bulan pilih yang mana?". Aku langsung menjawab bulan. Dia nampak sedikit terkejut, mengerutkan kening kemudian berkata jika bulan itu cuma pinjam sinar matahari, jadi mengapa aku tak pilih matahari? Aku menjelaskan bahwa bulan dan matahari selalu jalan bersama. Keduanya beda tetapi saling cinta. Tanpa bulan, matahari akan kesepian. Tak ada yang pinjam kekuatannya. Tak bisa berbagi kemampuannya dengan siapa pun. Dengan sedikit bercanda kukatakan jika aku bukan matahari. Aku tipikal orang di belakang panggung yang pemalu dan selalu ingin bersembunyi. Itu alasanku pilih bulan. Dia tertawa renyah dan kemudian menyahut kalau begitu dia yang jadi matahari saja, supaya dia punya alasan untuk bisa terus berjalan bersama denganku.

Tiba-tiba bayangan Kanya yang baru saja keluar dari lapas, langsung membuyarkan memori-memori indahku bersama dengannya. Aku menarik napas dalam-dalam penuh kepedihan. Benarkah hal-hal indah bersama dengannya itu, sesaat lagi betul-betul hanya akan menjadi kenangan masa silam yang tak akan pernah dapat terulang kualami lagi? Karena tidak menutup kemungkinan dia memang masih belum bisa melupakan Jo bahkan ternyata sesungguhnya dia masih jauh lebih mencintai Jo dibandingkan aku! Aku sulit membayangkan bagaimana hari-hariku ke depan nanti jika tanpa kehadirannya lagi. Namun sebagai seorang lelaki sejati, aku harus siap dan tegar menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun. Yang pasti aku harus dapat memperoleh keterangan yang sejelas-jelasnya. Namun kepada siapa aku hendak bertanya lebih dahulu? Jo atau Kanya?


--

SEMBURAT MERAH JINGGA (51-60)

51
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (51)
*Peace
Oleh Merry Srifatmadewi

Melihat Jo yang menggandeng Joana mesra dan penuh perhatian, rasa-rasanya benar Jo serius membuktikan omongannya seperti yang diucapkan waktu membebaskan diriku dari penculikan. Kanya yang sebelumnya terperangah pun kini 'tenang' melihat Jo dan Joana. Jo mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Jo pun menyalami Kanya dan cipika-cipiki. Jujur aku ingin mendorongnya supaya Jo tidak melakukan hal itu ke Kanya apalagi sambil membisiki sesuatu. Pesta berlangsung tanpa keributan. Kuredam emosi demi kelancaran pesta. Semua menikmati makanan dan kue yang terhidang. Saling mengobrol tetapi tidak bisa dibohongi, ada muka-muka curiga, ada bisik-bisik, dan mungkin ada pikiran liar berkeliaran.

Satu-persatu karyawan sudah kembali ke posnya masing-masing. Tinggal kami berlima. Akupun sebenarnya sudah mau kembali ke posku berhubung kurang sopan adat ketimuran, aku akan menunggu hingga Bude mau pamitan. Kanyapun juga menunggu demikian. Dia sudah ingin kembali ke kantornya karena hanya izin sebentar bukan minta cuti kerja. Berhubung tanda dari Bude tidak kunjung tiba, akupun terpaksa harus bicara. Brakkkk... pintu terbuka. Polisi masuk dengan senapan datang memasuki ruangan pesta. "Jonathan, serahkan diri!" Melihat gelagat mau melarikan diri, kaki Jo dilumpuhkan dengan timah panas.

Suasana panas dan kacau-balau. Suara jeritan terdengar membuat karyawan ingin mengetahui ada apa gerangan yang terjadi dan bila memungkinkan ingin meliput kejadian. Sayangnya tidak mungkin, penjagaan polisi sangat ketat sekali di luar ruangan. Tangan Jo diborgol. Tidak ada pilihan selain menyerah.Tidak ada tempat untuk kabur. Semua telah dikepung. Selama ini Polisi mencari dan mengikuti perkembangan keberadaan Jo. Semua terperanjat peristiwa ini terjadi dalam sekejap. Mungkin dengan tertangkapnya Jo, suasana akan lebih damai. Berdasarkan informasi dari polisi, Jo merupakan target yang dicari polisi untuk banyak kasus, antara lain penculikan, pemerkosaan, dan tindak kejahatan lain serta perdagangan narkoba.

Jakarta, 23 April 2018
#pentigrafSF
---

52
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (52)
*Jonathan
Oleh Merry Srifatmadewi

Semua yang berada di ruangan cukup shocked melihat kenekadan Jo melarikan diri hingga kakinya ditembak polisi. Tak habis pikir apa yang ada di kepala Jo saat itu. Terlalu riskan resiko yang harus diambil. Kanya gemetar menyaksikan kaki Jo yang berdarah-darah diseret polisi. Air mata Jo menetes dari pinggir matanya, entah kesakitan atau karena sedih tidak bisa melihat Joana lagi. Pesta spontan yang meriah itu berubah menjadi keheningan menyergap. Suasana kantorku terasa berbeda. Office boy segera membersihkan lantai bekas ceceran darah. Semua kembali bekerja. Bude Mirna mengajak Joana pulang. Kanya batal kembali ke kantor, memilih pulang untuk menenangkan diri.

Aku tidak bisa mengantarkan Kanya pulang karena pekerjaan sedang bertumpuk. Dan aku juga harus bersiap-siap bila polisi membutuhkan diriku untuk penyelidikan kasus Jo. Pekerjaanku benar-benar kacau, tidak bisa konsentrasi. Pikiran bercabang ke Jo, polisi, Kanya, masalah pekerjaan, dan kasus yang terjadi di kantor. Dengan berat hati aku terpaksa meniadakan lembur hari ini. "Don tumben sudah pulang?" tanya ibu penasaran. Kuceritakan peristiwa tadi yang terjadi di kantor pada ibu dan ayah yang menyimak dengan sungguh. Kulihat ibu mengelus dahinya yang tidak gatal itu.

Terbayang aku saat ini akan Jo. Pasti disuruh lepaskan semua pakaian yang melekat lalu ganti pakaian tahanan. Satu sel dengan pembunuh kelas kakap lainnya. Bisa habis Jo dihajar 'senior' di ruang tahanan. Ah... apa peduliku dengan Jo? Terlalu banyak kesalahan Jo dalam hidupnya yang tidak dapat dimaafkan! Kuambil gawaiku dan dan berniat video call dengan Kanya. Tapi tak diangkat. Apa sedang mandi, sedang tidur, atau sedang memikirkan peristiwa tadi? Aku tidak jadi ke peraduan, kuambil kunci mobil untuk pergi ke rumah Kanya. Atau lebih baik aku menghubungi Mas Gondo atau Bang Jaja. masih perlukah kulakukan? Oh, ya aku ingat. Mungkin Jacky lebih tepat buat si bangsat, Jo....

Jakarta, 24 April 2018
#pentigrafSF
---

53
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (53)
*Rutan
Oleh Budi Hantara

Rutan (Rumah tahanan) bukan tempat yang aman dan nyaman. Di sana berlaku hukum rimba. Siapa yang "kuat" bisa menindas yang lemah. Siapa yang kuat akan menjadi bos di antara para tahanan. Bila ada tahanan baru, biasanya ada ritual penyambutan. Terutama bila orang itu di penjara karena kasus pemerkosaan dan kejahatan besar. Seorang tamping (nara pidana kepercayaan sipir) pasti akan menyiapkan kejutan. Bila orang baru itu bernyali, tak jarang menimbulkan duel maut. Biasanya orang baru akan mengalami nasib buruk karena tamping dan anak buahnya akan menghajar dengan kejam.

Aku memastikan kebenaran hukum rimba itu dengan bertanya kepada Jacky. Dia seorang sipir bertangan besi yang sangat ditakuti para napi. Aku mengenal secara dekat karena sejak SMP sampai lulus SMA satu sekolah dengannya. Pada saat bertemu Jacky, selain bercerita tentang kondisi dalam rutan, kami juga membicarakan tentang semua kejahatan Jo. Jacky ikut terbakar emosinya. Sang sipir bertangan besi itu siap mengatur strategi yang rapi untuk melunasi dendamku pada Jo.

Jacky segera memastikan di mana ruang tahanan Jo. Dia juga mengumpulkan informasi tentang beberapa anak buah Jo yang telah lebih dulu menjadi penghuni rutan. Ada indikasi beberapa di antara mereka masih berurusan dengan narkoba. Melalui seorang tamping yang bisa diandalkan, Jacky memasang jebakan. Ketika diadakan razia mendadak, di ruang Jo ditemukan beberapa paket sabu. Jo tak berkutik karena semua napi di ruang itu memojokkannya. Bahkan ketika Jo menolak mengakui bahwa barang haram itu bukan miliknya, beberapa napi bertubuh perkasa beramai-ramai memukulinya. Jo yang masih pincang karena kakinya ditembak polisi, tak berdaya. Jacky sengaja membiarkan Jo dianiaya. Dia mengambil beberapa foto Jo dan mengirimkannya padaku melalui pesan singkat di gawaiku. Aku tak tega melihatnya. Tiba-tiba ibu memanggilku dan cepat-cepat kusembunyikan gawaiku di bawah bantal. Hatiku bergolak tak mampu menyembunyikan pergolakan batin antara terus membalas dendam dan rasa ibaku.

Ngawi, 23 April 2018
---

54
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (54)
*Reaksi Kanya
Oleh Jenny Seputro

Ibu tampak khawatir melihat wajahku yang pucat. Dia menyuruhku cepat-cepat istirahat. Tapi bagaimana aku bisa istirahat? Nuraniku berontak. Kuambil lagi gawaiku dari bawah bantal dan kuamati lagi foto-foto kiriman Jacky. Perutku terasa mual. Jo memang bajingan, tapi apakah aku lebih baik darinya jika aku menyuruh orang untuk menyiksanya seperti itu? Bukankah Jo sudah mendapatkan hukumannya di dalam penjara? Tak tahan lagi, aku langsung menelepon Jacky. Kuminta dia menghentikan siksaan itu. Lalu aku memutuskan untuk pergi ke rumah Kanya. Tentunya dia akan senang dan lega pemerkosanya telah mendapatkan balasan yang setimpal. Sampai di sana, kutunjukkan foto-foto tadi pada Kanya dan Jenny, meski aku tidak bilang kalau itu atas suruhanku.

Reaksi Kanya ternyata jauh dari perkiraanku. Dia memekik histeris sambil memalingkan mukanya. Tubuhnya gemetar. Aku merutuki diriku sendiri. Tentu saja Kanya ketakutan, hatinya begitu lembut. Aku cepat-cepat minta maaf, dan kukatakan kalau aku sudah minta pada sipirnya untuk menghentikan semua itu. Duduk di sampingku di ruang tamu, Kanya hanyut dalam pikirannya sendiri. Beberapa kali dia tidak mendengar aku mengajaknya bicara. Tanpa sadar tangannya memilin kalung bernisial "JK" yang tergantung di lehernya. Kanya pernah cerita kalau kalung itu hadiah ulang tahun dari Jenny untuknya, dengan inisial mereka berdua sebagai tanda kasih sayang dan persaudaraan. Tapi sekarang aku curiga, jangan-jangan itu kalung pemberian Jo dengan inisial nama mereka.

Melihat kondisi Kanya seperti itu, aku memintanya segera pergi tidur. Jenny mengantarku ke mobil. Aku memancing Jenny dengan mengatakan kalau Kanya sedari tadi larut dalam dunianya sendiri, sambil terus memainkan kalung yang dipakainya. "Ah tentu saja," jawab Jenny cepat, "kalung itu pemberian.... ku." Jenny terlihat salah tingkah setelah kelepasan bicara. Dia menyuruhku hati-hati di jalan, lalu cepat-cepat masuk lagi ke dalam rumah. Kecurigaanku memuncak. Kanya telah berbohong padaku. Dia bukannya ketakutan tadi, tapi dia kasihan pada Jo! Kucengkeram setir mobil kuat-kuat sambil mengatur emosiku. Aku harus mencari tahu kebenarannya. Ada satu orang yang sepertinya tahu semua sejarahnya. Kupacu mobilku menuju rumah bude Mirna.

Perth, 25 Maret 2018
---

55
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (55)
*Rahasia Kanya
Oleh Irene Tan

Bude Mirna sedang merajut sambil mendengar musik ketika aku sampai di rumahnya. Langkahku yang terdengar tergesa dan kasar membuatnya mengernyitkan dahinya. "Ada apa Don, malam-malam begini?" tanya bude sambil menurunkan kacamatanya. Dengan rasa penasaran dan tak sabar segera kucecar bude dengan berbagai pertanyaan. Bude Mirna menghela nafas panjang, menyusut air mata yang tak bisa lagi disembunyikannya. Melihat bude menitikkan air mata, aku menahan diri. Ini pasti sebuah cerita dan rahasia besar. Bude Mirna adalah sosok yang sangat tegar, bila bukan sebuah peristiwa yang besar pantang baginya untuk meneteskan air mata.

Aku memejamkan mata sejenak, menyiapkan hati mendengar cerita Bude. Perasaanku terasa begitu sakit dan patah mendengar semua penjelasannya. Kanya dan Jenny, mengapa begitu tega menyembunyikan semua cerita ini. Kepercayaanku kepada Kanya perlahan runtuh. "Rahasia apa lagi yang masih kau sembunyikan dariku Kanya?" pertanyaan yang berkecamuk dalam hati. Kecurigaanku pada liontin ber-initial "JK" mulai bisa dipastikan kebenarannya.

Bude sudah masuk ke kamarnya. Menceritakan semua kebenaran itu pasti sebuah beban yang teramat sangat besar. Ketegarannya tampak goyah. Beberapa kali tangisnya pecah disertai permohonan maaf-nya kepadaku. "Sebaiknya kau klarifikasi semua cerita ini kepada Kanya, agar semuanya menjadi jelas. Jangan ada ganjalan dalam sebuah rumah tangga. Kanya sebenarnya adalah gadis yang lembut dan baik," pesan Bude sebelum menutup pintu kamarnya. Aku pulang dengan perasaan sangat gamang, kuluncurkan mobil ke arah pantai. Aku ingin merenung sejenak, mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Bude Mirna. Semuanya harus kupikirkan dengan tenang untuk mengambil langkah selanjutnya. Debur ombak terdengar seakan ingin menghibur dan mengusir kegalauanku. Terngiang cerita bude, menyadarkanku ternyata begitu besar rasa cinta dan pengorbanan Jo kepada Kanya, membuat rasa cintaku kepada Kanya menjadi kecil dan tak berarti.

Bogor, 26 April 2018
---

56
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (56)
*Istirahat di Bali
Oleh Irene Tan

Pagi ini kuputuskan untuk cuti selama tiga hari. Aku benar-benar butuh istirahat. Aku juga sudah pamit kepada ibu dengan alasan menengok villa keluarga yang sudah lama tidak dikunjungi. Ibu sedikit terheran-heran sebenarnya, aku bisa mencerna dari sinar matanya. Tapi ibu tak banyak bertanya, hanya membantuku menyiapkan sedikit bekal.

Pesawatku mendarat dengan mulus di Bandara Ngurah Rai. Aku suka suasana Ubud. Membayangkan hamparan sawah dengan bulir-bulir padi yang gemuk dan semilir angin yang sejuk mengalir ke teras villa, sedikit menghibur perasaanku. Hampir dua jam perjalanan dari Ngurah Rai, sampai juga akhirnya. Pak Made, penjaga villa keluarga sudah menyiapkan semua keperluanku.

Kuseruput kopi pahit sambil membuka gawai. Melihat kembali foto-foto penyiksaan Jo. Tiba-tiba aku merasa iba yang teramat sangat. Kemarin Bude menceritakan dengan gamblang bahwa Jo dan Kanya dulu adalah sepasang kekasih. Pemerkosaan terhadap Kanya memang benar terjadi, saat Jo dalam pengaruh minuman keras. Keinginan memiliki Kanya membuat Jo kehilangan kendali. Rasa cinta kepada Kanya yang besar membuat Jo berani dan bersedia mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Kemudian Jo memutuskan meninggalkan kebiasaan buruknya, juga gemerlapnya dunia malam. Jo berubah seratus delapan puluh derajat. Menjadi pekerja keras dan penuh tanggung jawab. Terlihat keseriusannya mempersiapkan diri menjadi seorang kepala keluarga. Kesungguhan Jo untuk berubah dan cinta tulusnya, perlahan-lahan meluluhkan kekerasan hati Kanya. Jo mendapatkan tempat teristimewa di hatinya. Mengingat semua cerita Bude, membuat hatinya terasa perih kembali. "Joana, perilakumu sungguh telah memporak-porandakan hidup banyak orang," Don mengumpat dalam hati.

Bogor, 26 April 2018
---

57
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (57)
*Tipu Daya Joana
Oleh Irene Tan

Pagi ini kususuri pematang sawah di belakang villa. Udara segar membuat otakku sedikit jernih. Bulir-bulir padi sudah menguning, tampaknya sudah siap untuk dipanen. Di depan ada sebuah gubuk, kuputuskan untuk beristirahat sebentar di sana. Tampak dari jauh beberapa gadis desa membawa bakul, melintasi pematang. Gadis yang berada di tengah sekilas tampak mirip sekali dengan Joana.

Hhmmm ... Joana, sedang apa dia saat ini. Amnesia telah mengubahnya kembali menjadi seorang gadis yang lugu. Setelah sedemikian menyusahkan kehidupan banyak orang, hanya semata-mata karena kedengkian hati dan silau akan harta dunia. Malam itu Bude bercerita dengan berlinangan air mata, bahwa sejak awal bekerja Joana sudah mengincar Jo, setelah mengetahui bahwa Jo adalah anak pemilik perusahaan. Kaya dengan wajah yang boleh dibilang tampan serta melihat perlakuan Jo kepada Kanya yang begitu lembut dan baik, mengobarkan kedengkian hati Joana. Tekadnya sudah bulat untuk bisa merebut Jo. Dikumpulkannya informasi dan segala kemungkinan rencana yang bisa dilakukannya. Mendengar desas desus kelemahan Jo. Joana segera menyusun rencana dengan rapi. Langkah awal dengan mengadu-domba Jo dan Kanya hingga terjadi kesalah-pahaman diantara mereka. Kedekatannya dengan Jo yang sengaja di-ekspose terus menerus, semakin menjauhkan Kanya dari Jo. Mendengar rencana acara gathering perusahaan akan dilaksanakan di sebuah villa, membuat otak licik Joana bekerja secara cepat menyusun tipu daya dengan matang. Kanya yang tengah dibakar api cemburu, sengaja memutuskan tidak hadir. Malam itu Joana dengan leluasa dan kejam menjebak Jo. Dalam keadaan galau, Jo dengan mudah dibuat mabuk, kemudian berpura-pura mengantarnya ke dalam kamar. Sengaja dirobeknya sedikit baju yang dikenakannya, kemudian berpose mesra, dan mengambil beberapa foto. Tujuannya jelas, akan dikirimnya kepada Kanya. Jo tidak pernah memperkosa Joana, cerita itu sengaja disebar oleh Joana. Bahkan untuk memuluskan rencananya, Joana rela berpura-pura hamil dan keguguran. Jo tidak bisa lari dari tanggung jawab. Hubungannya dengan Kanya berakhir. Dalam keterpaksaannya menerima Joana, Jo kembali ke dalam dunia hitam dan gemerlap kehidupan malam.

Menurut Bude, sebenarnya almarhum Pakde mengetahui semua rencana dan apa yang telah dilakukan oleh Joana. Tetapi rasa sayangnya kepada Joana dan hutang janji kepada almarhum adiknya, membuat Pakde lalai menjadi orang tua yang bijak. Nasehat Bude pun tidak didengarnya. Sementara Bude tidak berdaya dengan ancaman kesehatan Pakde. "Maafkan, almarhum Pakde yaaa Don," isak tangis Bude tak terbendung. Aku harus secepatnya kembali ke Jakarta dan mengklarifikasi semua kejadian ini kepada Kanya. Bila memang Kanya berniat melanjutkan hubungan ini ke jenjang pernikahan, maka dia harus menjelaskan semua detail persoalan. Betul kata Bude,"Jangan ada ganjalan dalam sebuah rumah tangga." Aku sudah mantap dengan langkah yang harus kuambil. Kanya harus memilih, sebuah kejujuran masa lalu atau mengakhiri semua ini tanpa penjelasan.

Bogor, 26 April 2018
---

58
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (58)
*Kanya Mengunjungi Rutan
Oleh Jenny Seputro

Sudah tiga hari aku menyendiri di tengah keasrian pulau Dewata. Susah payah aku berusaha menenangkan pikiranku yang galau. Aku bahkan tidak menjawab telepon Kanya, karena aku merasa belum siap untuk ngobrol lagi dengannya. Aku hanya menulis pesan singkat kalau aku berada di Bali untuk beberapa hari dan akan menemuinya sepulangku nanti. Tapi sampai sekarang kegundahanku tidak banyak berkurang. Aku justru semakin resah, hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun. Di hari ketiga aku kembali ke Jakarta dengan penerbangan pertama. Aku langsung menuju ke rumah Bude Mirna. Ada beberapa hal yang ingin kuklarifikasikan dengannya, hal-hal yang terasa janggal dengan cerita-ceritanya.
Ternyata Bude dan Joana sedang tidak ada di rumah. Yang ada justru Paklik Parto, adik Pakde Marto yang dimintai tolong membetulkan kran kamar mandi yang bocor. Sambil istirahat, Paklik menemaniku ngobrol sebentar. Sedikit banyak Paklik tahu tentang sepak terjang Jo, dan dia juga menyayangkan kelakuan Joana. Paklik terang-terangan bilang dia berharap aku dan Joana bisa bersama lagi, dan aku bisa membimbing Joana ke jalan yang benar. "Untung budemu pintar Don," kata Paklik sambil menyeruput kopinya, "dia bisa atur polisi untuk menangkap Jo di kantormu." Aku terbengong untuk sesaat. Bude yang melaporkan Jo? Padahal Jo datang dengan begitu mesra bersama Joana. Betapa pintarnya mereka bersandiwara. Tapi kenapa bude tidak memberi tahu aku?

Setelah berpamitan pada paklik, aku berangkat menuju rutan tempat Jo ditahan. Aku ingin menjenguknya, sekaligus menanyakan beberapa hal. Aku ingin tahu perasaan Jo sekarang terhadap Kanya, dan hal itu akan membantuku dan Kanya memutuskan masa depan kami. Aku tak ingin dia mengganggu Kanya kelak ketika telah menjadi istriku. Sampai di parkiran rutan, aku menjadi bimbang. Apakah tepat langkah yang kuambil ini? Tiba-tiba aku melihat sosok seorang wanita keluar dari pintu gerbang. Sosok yang sudah sangat kukenal. Emosiku kembali bergolak. Memang sudah beberapa hari aku menghilang tanpa memberi penjelasan pada Kanya. Apakah layak kalau aku marah melihatnya diam-diam menjenguk Jo tanpa sepengetahuanku?

Perth, 4 Mei 2018
---

59
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (59)
*Lelah
Oleh Stella Christiani Ekaputri Widjaja

Naluri pertamaku adalah akan mengkonfrontasi Kanya. Buku-buku tanganku sampai memutih mencengkeram kemudi mobil karena menahan gejolak amarah. Ingin rasanya aku langsung turun dari mobil dan menunjukkan kehadiranku di sana. Menunjukkan padanya bahwa aku tahu apa yang dia perbuat.

Namun setelah menghembuskan beberapa tarikan napas panjang, aku tiba-tiba justru disergap rasa letih yang luar biasa. Kuruntut perjalanan hubunganku dengan Kanya. Aku ingat aku harus mati-matian menunjukkan keseriusanku, bahkan sampai tertidur di teras rumahnya saat memintanya menjadi kekasihku dan dia menolak tanpa alasan yang jelas. Ketika mengetahui bahwa dia akan sulit memiliki keturunanpun akupun tak mundur. Dengan segala yang telah terjadi seharusnya sekarang dia sudah tahu dan yakin bahwa aku mau dan bisa menerima dia apa adanya tapi rasanya bukan itu yang terjadi.
Pada malam naas dia kecelakaan dia melihatku memberi napas buatan pada Joana tapi dia memilih mengambil kesimpulan yang salah alih-alih bertanya padaku apa yang terjadi. Lalu masih juga ada tanda tanya mengenai liontin itu dan kini dia mengunjungi Jo di rutan. Aku lelah dengan semua misteri ini. Aku lelah mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku lelah menghadapi satu tanda tanya terjawab namun ternyata justru muncul yang lebih besar lagi. Bukankah hubungan yang kuat harusnya dilandasi kepercayaan dan keterbukaan? Tenagaku seperti menguap dari raga. Aku bersandar lunglai di sandaran kursi pengemudi.
---

60
#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (60)
*Shock
Oleh Merry Srifatmadewi

Perasaan hati Kanya beberapa hari ini tidak karuan, bingung dan cemas memikirkan Don yang menghilang sementara dan sama sekali tidak mau mengangkat telepon darinya. Pikirannya tidak bisa fokus pada pekerjaan. Belum lagi memikirkan Jo di penjara yang sempat dihajar tamping. Bagaimana caranya supaya Jo bisa menjadi tahanan luar atau setidaknya mendapatkan keringanan hukuman? Kanya tidak punya jawaban saat ini. Joana tidak mungkin mengunjungi Jo. Percuma, Joana masih belum sadar dari amnesianya. Dan Bude Mirna sudah cukup sibuk mengurus Joana.

Hari berikutnya aku sengaja turun dari mobil dan pergoki Kanya pas keluar dari rutan setelah kuikuti dari kantor Kanya. Betapa melongo terkejutnya Kanya melihatku seperti melihat hantu. Telepon darinya setiap hari sengaja tidak kuangkat-angkat. Aku ingin bicara langsung dan melihat ekspresinya. Maukah Kanya mengungkapkan dengan terus terang kepadaku atau harus melalui Jo? Pusing menghadapi kebohongan Bude Mirna yang selama ini telah membohongiku walau belakangan sudah berkata jujur. Pikir-pikir mengapa Bude lapor polisi ketika Jo ada di kantorku? Masih adakah sandiwara yang dimainkan bude? Kuajak Kanya ke kafe bersama daripada bicara di luar rutan. Dalam mobil dia hanya memilih diam membisu. Berasa bersalah padaku? Atau sedang menyusun kebohongan baru?

"Kanya, maafkan aku yang selama ini tidak menjawab telepon darimu," kataku memegang tangannya dan menatap matanya dalam-dalam menginterogasi. Kanya mendengus. Kuangkat wajahnya. Kini dia membuang muka dan mendengus lagi. Suasana kaku dan tegang seperti adu banteng. Kue yang dipesan hanya dimain-mainkan, tidak satupun dimasukkan ke mulutnya. "Tolong ceritakan padaku yang sebenarnya hubunganmu dengan Jo, Kanya. Mengapa kamu kunjungi Jo diam-diam tanpa sepengetahuanku?" Betapa bodoh pertanyaanku ini saking marah, galau dan bingungnya. Dia telepon saja tidak aku angkat, bagaimana mau laporan untuk beritahu bahwa dia mau jenguk Jo. Suara sendok kecil beradu di piring makin keras kasar sambil menghancurkan kue. Kanya menghela nafas dalam-dalam dan memintaku mengantarnya pulang. Wajahnya terlihat tidak enak dilihat. Aku tidak ingin memaksanya bila dia tidak mau cerita saat ini tapi raut mukaku juga tidak bisa dibohongi. Aku hanya menahan geram. Mungkin dirinya juga kesal melihat kelakuan anehku? Pantaskah dia kesal, mau juga aku yang kesal padanya.

Jakarta, 5 Mei 2018
#pentigrafSF







--