Kamis, 21 Juni 2018

SEMBURAT MERAH JINGGA (96)

#pentigraf_serial
SEMBURAT MERAH JINGGA (96)
*Rencana Pernikahan
Oleh Jenny Seputro

"Ehm, ehm.. duuh yang lagi kasmaran," celetuk Jenny menggoda, membuatku dan Kanya sedikit kaget. Kami tertawa dan mengikuti Jenny ke dalam. Setelah selesai makan, kami duduk bertiga di ruang tengah sambil membahas rencana pernikahan. Kutanya apakah Kanya ingin kami bertunangan dulu. Kanya menggeleng, dia bilang orang bertunangan karena mereka ingin mengikat hubungan tapi belum siap untuk menikah, sedangkan dirinya dan aku sudah sangat siap untuk menikah. Aku setuju dengan pendapatnya. Kemudian Kanya mengambil brosur-brosur yang dikumpulkannya dari wedding expo yang lalu untuk membandingkan paket dan harga. Banyak sekali yang harus diperhitungkan, dari gaun pengantin, katering, dekorasi, kue, musik, suvenir untuk tamu dan lain sebagainya.

"Kenapa mahal sekali ya," kata Kanya, "aku tidak ingin menghabiskan begini banyak uang untuk sebuah pesta Mas." Kukatakan padanya kalau ini hanya sekali seumur hidup, dan Kanya layak mendapatkan pesta yang sempurna. Soal biaya tidak perlu terlalu dipikirkan. Tapi Kanya berkeras tidak ingin pesta seperti itu, baginya sudah cukup bisa bersanding denganku dan hidup bahagia bersama. Tiba-tiba Jenny mengusulkan untuk nikah tamasya saja. Biar pestanya sederhana, uangnya bisa dipakai untuk bulan madu yang lebih lama. Kanya menyukai usul itu, dan kalau dia senang pastinya aku juga senang.

Malamnya kusampaikan rencana itu pada bapak dan ibu. Serta merta ibu langsung menentang. Aku memahaminya karena ibu tentunya ingin mengadakan pesta meriah untuk anak tunggalnya. Dulu saat aku dan Joana iseng berandai-andai tentang pernikahan kami, ibu bahkan sudah menyiapkan daftar hotel yang bisa dipilih untuk lokasi pesta. Susah payah kujelaskan pada ibu kalau kami tidak menginginkan pesta dengan seribu undangan yang hanya datang dan makan, tanpa kesan. Lebih baik sedikit orangnya tapi yang dekat dan berkesan. Akhirnya bapak angkat bicara, yang menikah kan anak-anak. Kalau mereka bahagia dengan lebih sedikit uang dikeluarkan, mengapa harus dihalangi? Aku senyum-senyum melihat ibu kesal karena kalah suara dan ganti memarahi bapak yang justru membelaku.

Perth, 13 Juni 2018
#semburatmerahjingga

Tidak ada komentar: